SURABAYA-kanalsembilan.com (18 September 2026)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berkolaborasi bersama Konsulat Jenderal Amerika Serikat (Konjen AS) di Surabaya menggelar ASpire Eastern Indonesia App Challenge guna mendorong generasi muda menciptakan solusi digital atas persoalan di lingkungan sekitar.
Program yang dihelat sejak delapan bulan lalu tersebut ditutup secara resmi melalui kegiatan luring di Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS, Kamis (17/9).
ASpire merupakan program pengembangan talenta digital bagi generasi muda berusia 18–25 tahun yang memiliki minat pada pengembangan aplikasi dan inovasi digital. Program yang diikuti oleh 37 peserta dari Surabaya, Malang, Makassar, Ambon, dan sejumlah kota lain di Jawa Timur ini berfokus pada pengembangan aplikasi berbasis web melalui pendekatan case-based learning.
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD menyampaikan bahwa rangkaian program yang berlangsung mulai Januari 2026 lalu tersebut telah menghasilkan 13 aplikasi berbasis web. “Saya berharap pengalaman dan masukan yang diperoleh para peserta selama ini dapat menjadi bekal untuk terus mengembangkan inovasi digital yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Guru Besar Teknik Mesin ITS tersebut.
Public Affairs Officer Konjen AS di Surabaya Courtney J Woods mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin bersama ITS. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat berkembang melalui berbagai kegiatan lainnya pada masa mendatang. Ia mewakili Konjen AS berterima kasih atas kerja sama yang telah terjalin dan sangat mengapresiasi keramahan ITS selama ini.
“Semoga Konjen AS dan ITS dapat menjalin lebih banyak kerja sama ke depannya,” ungkap Woods penuh harap.
Salah satu peraih Best Web-Apps, tim TANIGA (Tani dan Niaga), berhasil mengembangkan situs web berbentuk marketplace yang mempertemukan petani secara langsung dengan pembeli. Tim yang terdiri atas tiga anggota tersebut berasal dari kolaborasi siswa SMA Negeri 1 Kandangan, Kediri dan mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).
Zulfa Fahmi, selaku ketua tim, menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari persoalan harga hasil panen yang selama ini melibatkan tengkulak sebagai perantara. “Melalui platform TANIGA, pembeli dapat berhubungan langsung dengan petani sehingga diharapkan proses penyaluran hasil panen menjadi lebih mudah dan harga dapat lebih terjangkau,” papar siswa SMA Negeri 1 Kandangan ini.
Rangkaian ASpire tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas serta poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Berbagai aplikasi yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti pada kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. (za).


