Salah satu kekeliruan yang kerap terjadi dalam cara kita memahami hubungan dengan Allah adalah: kita tanpa sadar menyamakannya dengan hubungan antarsesama manusia.
Kita membayangkan bahwa saat kita berbuat dosa, Allah “marah” dan langsung menyiapkan hukuman. Sebaliknya, ketika kita taat, kita merasa Allah “senang” dan akan segera memberi hadiah. Seolah-olah Allah bersikap seperti bos kepada karyawan, atau orang tua kepada anak.
Padahal, Allah Mahasuci dari sifat-sifat manusia. Ia tidak terpengaruh oleh emosi, tidak tergesa-gesa, dan tidak berubah karena tekanan atau keadaan.
Menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat manusia adalah bentuk pengukuran yang keliru, dan kesalahan ini pernah menjadi akar munculnya pemikiran menyimpang seperti yang diyakini oleh kelompok Mu’tazilah dan sejenisnya.
Salah satu contoh lainnya adalah pertanyaan: “Kenapa kita ditakdirkan hidup di dunia dulu? Kenapa tidak langsung di surga saja?”
Saya sering mendengar para dai menjawab, “Karena nikmat yang datang setelah kesusahan itu terasa lebih nikmat.”
Jawaban seperti ini terdengar sederhana, tapi sebenarnya kurang tepat. Memang, dalam kehidupan dunia, kenikmatan sering kali terasa lebih manis setelah penderitaan. Tapi menyamakan kenikmatan duniawi dengan nikmat surga adalah kekeliruan besar. Surga adalah puncak karunia Allah yang suci dan sempurna, tak bisa diukur dengan logika “nikmat setelah susah”.
Imam al-Ghazali dalam Al-Iqtisad fi al-I‘tiqad bahkan mengkritik keras cara berpikir seperti ini. Beliau menyebut bahwa orang yang beralasan seperti itu seolah-olah berkata, “Nikmat surga akan terasa lebih berharga kalau sebelumnya melewati penderitaan dunia.” Ini, kata al-Ghazali, adalah bentuk kesombongan.
Padahal, semua orang pasti sepakat: jika kita ditawari langsung hidup di surga tanpa harus melalui dunia lebih dulu, tentu kita akan memilih surga. Tak ada yang secara fitrah lebih memilih dunia yang penuh ujian dibanding tempat yang penuh kedamaian dan kenikmatan abadi.
Dalam Islam, kita diajarkan bahwa:
لا يعجل لعجلة أحد ولا يخف لأمر الناس،ما شاء الله لا ما شاء الناس
(Riwayat dari Abdullah bin Mas’ud)
Manusia boleh punya rencana, keinginan, dan harapan. Namun yang terjadi hanyalah yang Allah tetapkan.
Tak ada yang dapat mendekatkan apa yang dijauhkan oleh Allah, dan tak ada yang mampu menjauhkan apa yang telah Allah dekatkan.
Lebih dari itu, Allah tidak membutuhkan ibadah kita, dan tidak berkurang kemuliaan-Nya karena maksiat kita.
Segala sesuatu, baik atau buruk, yang kita alami, telah ditulis dan ditetapkan bahkan sebelum kita lahir.
Karena itu, tak bijak jika kita langsung menyimpulkan:
“Ini rezeki datang karena shalat tahajudku semalam.” (Kecuali dalam bentuk berbaik sangka)
“Musibah ini terjadi karena aku kemarin bermaksiat.”
Penilaian seperti ini hanya bisa dibenarkan jika ada wahyu yang jelas, bukan berdasarkan perasaan pribadi atau dugaan semata.
Sebab, apa yang berlaku pada manusia tidak bisa kita terapkan pada Allah.
Allah tidak memiliki emosi atau reaksi seperti kita.
Allah Mahasuci dari hukum sebab-akibat yang berlaku dalam kehidupan manusia.
Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:
“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tetapi merekalah yang akan ditanya.”
(QS. Al-Anbiya: 23)
Maka, tugas kita bukan menebak-nebak takdir atau mencari-cari alasan di balik setiap peristiwa, tetapi beriman, beramal, dan berserah diri dengan penuh keyakinan.
Sebab Dia-lah yang Maha tahu, Maha adil, dan Mahabijaksana.
Muhammad zulfa
اَللَّّهُمَّ ارْزُقْنِيَ الفَهْمَ وَالعِلْمَ وَالحِكْمَةً وَالعَقْلَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ
آمين… آمين…يارب العالمين…
Semoga bermanfaat
والله أعلم بالصواب والخطاء
(gwa-swhs-ayat).


