SURABAYA-kanalsembilan.com
Ditengah tantangan ekonomi dan persaingan di sektor jasa keuangan yang
semakin ketat, industri BPR di Jatim tetap bertumbuh secara positif. Per posisi
September 2024, Total Aset meningkat 4,80% secara yoy (BPR 5,95%, BPRS
7,41%), dengan total volume usaha yang dicapai oleh seluruh pelaku industri
yang terdiri 243 BPR Konvensional dan 26 BPRS mencapai Rp26,27T.
Jumlah entitas BPR/S yang saat ini totalnya mencapai 269 BPR/S cenderung menurun
(sebagai akibat dari penggabungan BPR, pindah kantor pusat dan sebagian
melakukan self-liquidation atau cabut izin usaha).
“Walau jumlah entitasmenurun namun total aset meningkat akibat peningkatan aktivitas perkreditan dan penghimpunan dana, serta penguatan permodalan,” kata Yunita Linda Sari Kepala OJK Provinsi Jawa Timur.
Menurutnya, kredit/pembiayaan tumbuh 11,07% dan DPK tumbuh 5,94%. Proyeksi
pertumbuhan kredit perbankan secara nasional ditargetkan 9%-11% dan DPK
dikisaran 6%-8%. Industri BPR di Jatim bisa mencapai target pertumbuhan, di
tengah berbagai persoalan ekonomi yang ada, meskipun masih di bawah
pertumbuhan kredit secara nasional.
Dijelaskan, kontribusi BPR dalam industri perbankan Jatim yg ditunjukan dengan market
share kredit walaupun masih relatif kecil namun konsisten memiliki tren pertumbuhan yang positif tiap tahunnya. Kini di posisi September 2024 : 3.04 persen.
Rasio CAR dan ketahanan likuiditas secara agregat masih kuat, Rasio
Kecukupan Modal BPR secara rata-rata mencapai 38,21%, namun masih
terdapat BPR yang menghadapi persoalan terkait pemenuhan modal inti
minimum yang harus dipenuhi di akhir tahun 2024. (za).


