Google search engine
HomeSejarahKanigoro Sebagai Saksi Kebiadaban PKI pada Kader-Kader PII dan Ulama

Kanigoro Sebagai Saksi Kebiadaban PKI pada Kader-Kader PII dan Ulama

SURABAYA-kanalsembilan.com (29 September 2026)

Oleh Sudino Syueb, KBPII Jatim

Peristiwa Kanigoro adalah salah satu aksi sepihak bersenjata yang dilakukan oleh massa Front Rakyat (massa terafiliasi Partai Komunis Indonesia / PKI) pada 13 Januari 1965 di Desa Kanigoro, Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Peristiwa ini menyasar para aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) yang sedang melaksanakan Mental Training (Latihan Dasar Kepemimpinan).

Fajar Mencekam di Kanigoro

Pagi itu, 13 Januari 1965, sekitar pukul 04.30 WIB, suasana hening menjelang subuh di kompleks Pondok Pesantren Kanigoro tiba-tiba pecah. Ratusan massa BTT (Barisan Tani Indonesia) dan PR (Pemuda Rakyat) yang merupakan organisasi onderbow PKI, datang mengepung lokasi pelatihan. Massa yang diperkirakan berjumlah hingga ribuan orang tersebut bergerak cepat membawa senjata tajam seperti clurit, parang, cangkul, dan batu.
Pelatihan kepemimpinan PII yang diikuti oleh para pelajar dari berbagai daerah di Jawa Timur dihentikan paksa. Massa PKI merangsek masuk ke dalam masjid, tempat para peserta perempuan (pembina dan instrukturwati PII) sedang beristirahat dan bersiap salat subuh. Tanpa memedulikan kesucian tempat ibadah, massa masuk mengenakan alas kaki, memaki-maki, dan melakukan intimidasi.

Teror, Penjarahan, dan Penistaan

Massa PKI bertindak anarkis dengan merusak fasilitas pesantren. Mereka menyita dan menjarah barang-barang milik peserta, mulai dari pakaian, jam tangan, hingga uang tunai. Yang paling menyakitkan bagi para santri dan kader PII, massa PKI juga merampas kitab suci Al-Qur’an dan buku-buku agama, lalu menginjak-injaknya di hadapan para peserta.
KH. Jauhari, pengasuh Pondok Pesantren Kanigoro sekaligus tokoh Muslim setempat, mencoba menenangkan massa dan melindungi para santri. Namun, beliau justru ditodong dengan senjata tajam, diancam, dan dihina. Dua pemimpin latihan PII, Anis Abiyoso dan Suryani, ditangkap dan dianiaya oleh massa komunis.

Penggiringan Massal

Sebanyak 127 orang peserta dan panitia training PII, termasuk KH. Jauhari, dipaksa keluar dari area pesantren. Mereka diarak dengan tangan terikat seperti tawanan perang menuju kantor Polsek Kras yang berjarak sekitar 7 kilometer dari lokasi kejadian. Sepanjang jalan, mereka dihujani caci maki dan yel-yel provokatif dari massa PKI.

Sesampainya di Polsek Kras, PKI memaksa pihak kepolisian untuk menahan para aktivis PII dengan tuduhan palsu bahwa PII sedang mengadakan latihan militer ilegal untuk memberontak terhadap pemerintah. Namun, melihat situasi yang tidak berimbang, polisi mengamankan para korban dari amukan massa yang lebih anarkis.

Solidaritas dan Perlawanan Balik

Kabar penyerangan Kanigoro dengan cepat menyebar ke kota Kediri dan sekitarnya. Mendengar saudara seiman dan para ulama diperlakukan secara keji, ribuan kader Pemuda Ansor (NU), Banser, dan elemen umat Islam lainnya segera berkonsolidasi.
Hanya dalam hitungan jam, ribuan pemuda Muslim mengepung balik basis-basis massa PKI di Kediri dan menuntut pembebasan tanpa syarat bagi para aktivis PII yang ditahan. Ketegangan hebat sempat melanda Kediri, hingga akhirnya aparat keamanan turun tangan untuk meredam bentrokan massal yang lebih besar. Seluruh tawanan PII akhirnya berhasil dibebaskan.

Peristiwa Kanigoro dicatat dalam sejarah Indonesia sebagai salah satu bukti eskalasi ketegangan politik yang krusial sebelum meletusnya G30S/PKI pada akhir tahun 1965.
Apakah Anda ingin saya menambahkan detail latar belakang politik yang memicu aksi sepihak PKI pada tahun 1965, atau ingin memfokuskan narasi ini ke dalam format naskah drama/fragmen teatrikal?

Berikut adalah daftar tokoh kunci yang terlibat serta analisis dampak sosial-politik dari Peristiwa Kanigoro 1965 di Kediri:
Tokoh-Tokoh Kunci

Sisi Korban (Umat Islam & PII)
1) KH. Jauhari: Pengasuh Pondok Pesantren Al-Jauhar Kanigoro. Beliau adalah ulama sepuh yang diancam, ditodong senjata tajam, dan ikut diarak paksa oleh massa PKI menuju kantor polisi.

KH. Makhrus Ali: Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri (saudara ipar KH. Jauhari). Beliau memberikan dukungan moral dan mengonsolidasikan santri-santri Lirboyo untuk bersiaga pasca-penyerangan.

Gus Maksum (KH. Maksum Jauhari): Putra dari KH. Jauhari. Mendengar ayah dan pesantrennya diserang, Gus Maksum (yang kelak dikenal sebagai pendekar legendaris NU dan pendiri Pagar Nusa) langsung menghimpun kekuatan pemuda Ansor dan Banser untuk melakukan pengepungan balik dan aksi perlawanan ke basis PKI.

2)Anis Abiyoso & Masdoeqi Moeslim: Pimpinan dan panitia pelaksana Mental Training PII Jawa Timur yang menjadi korban penganiayaan fisik serta intimidasi langsung dari penyerbu.

di Penyerang (PKI & Onderbow) Suryadi & Harmono: Tokoh pimpinan dari Pemuda Rakyat (PR) dan Barisan Tani Indonesia (BTI) wilayah Kanigoro. Mereka menggerakkan ribuan massa buruh tani untuk mengepung masjid dan bertanggung jawab atas aksi penjarahan serta penistaan kitab suci.

Tokoh Pemantik Lain. Samelan: Tokoh mantan Partai Masyumi. Rencana kehadiran Samelan sebagai pembicara dalam training PII menjadi alasan politik bagi PKI untuk membubarkan acara tersebut, mengingat Masyumi saat itu sudah dinyatakan sebagai partai terlarang oleh pemerintah Orde Lama

Dampak Sosial-Politik Peristiwa Kanigoro
Peristiwa Kanigoro bukan sekadar bentrokan lokal biasa. Dampaknya sangat masif dan memengaruhi peta konflik nasional menjelang akhir tahun 1965:

1. Dampak Sosial: Terbelahnya Masyarakat dan Kebencian Ideologis

Simbol Perlawanan Agama vs Komunisme: Kasus terinjak-injaknya Al-Qur’an dan diserangnya masjid mengubah persepsi konflik yang semula hanya isu perebutan lahan (sengketa tanah aksi sepihak BTI) menjadi konflik ideologis yang sensitif (Agama vs Ateisme).

Konsolidasi Total Kekuatan Islam: Tragedi Kanigoro memicu solidaritas luar biasa antara PII, HMI, Pemuda Ansor, Banser, dan pesantren-pesantren besar di Jawa Timur. Hubungan antar-organisasi Islam ini menjadi sangat solid dalam membentengi diri dari pergerakan PKI.

2. Dampak Politik: Meningkatnya Legitimasi PII dan Polarisasi Menuju G30S

Meningkatnya Militansi PII: Ali-alih menciutkan nyali, Peristiwa Kanigoro justru meningkatkan legitimasi PII di tingkat nasional. PII dipandang sebagai organisasi pelajar yang militan dan berani menghadapi tekanan komunis, sehingga pasca-1965 mereka memegang peran strategis dalam gerakan pemuda nasional.

Aksi Balasan Pasca G30S/PKI (Titik Balik di Kediri): Kediri yang semula dikenal sebagai salah satu basis terkuat PKI di Jawa Timur, langsung berubah drastis setelah meletusnya Gerakan 30 September (G30S) 1965. Trauma dan dendam atas penyerangan Kanigoro memicu aksi balasan yang masif dari kaum santri dan pemuda Islam untuk memburu, menangkap, dan membersihkan simpatisan PKI di wilayah Kediri.

Katalisator Kejatuhan Orde Lama: Peristiwa ini menjadi salah satu test case (uji coba lapangan) ketegangan horizontal yang meyakinkan pihak militer (TNI AD) bahwa gesekan di masyarakat sudah berada di titik kritis, mempercepat keretakan politik Nasakom yang diusung oleh Presiden Soekarno. (DewandakwahJatim.com).

Admin: Kominfo DDII Jatiklm

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments