SURABAYA-kanalsembilan.com (1 Oktober 2026)
Kasus influenza A dilaporkan semakin banyak ditemukan di tengah masyarakat di Indonesia, beberapa waktu terakhir. Melihat kondisi tersebut, dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dr Edwin Nugroho Njoto MIPH MHM SpPD mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala influenza sekaligus menghindari penggunaan antibiotik secara sembarangan.
Dokter yang juga berpraktik di Eagles Head Medical Centre dan Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya tersebut mengungkapkan bahwa peningkatan kasus influenza juga mulai terlihat di tempatnya berpraktik. Menurutnya, masyarakat perlu memahami karakteristik penyakit serta penanganannya agar tidak keliru dalam mengonsumsi obat.
Dokter penyakit dalam ini menjelaskan bahwa influenza A disebabkan oleh virus yang menyerang sistem pernapasan. Virus influenza bukanlah jenis virus baru dan memiliki sifat mudah bermutasi serta menular. Kondisi cuaca, lanjutnya, juga dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kemudahan penyebaran virus. “Virus influenza ini memang dapat memicu wabah musiman dengan tingkat penularan yang luas,” terangnya.
Penularan influenza A terutama terjadi melalui percikan air liur (droplet) dari saluran pernapasan ketika seseorang batuk atau bersin. Risiko penularan dapat meningkat pada orang dengan daya tahan tubuh rendah maupun mereka yang mengalami kelelahan akibat aktivitas padat.
Menurut Edwin, gejala influenza umumnya diawali dengan gangguan pada saluran pernapasan dan dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Gejalanya umumnya berawal dari pilek, batuk, demam, dan nyeri saat menelan. “Yang perlu diwaspadai adalah ketika terjadi penurunan nafsu makan hingga sesak napas,” ujarnya mengingatkan.
Edwin juga berpesan agar kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil perlu memberikan perhatian lebih terhadap gejala influenza. Begitu pula pasien dengan penyakit tertentu, termasuk kencing manis dan gagal ginjal, dapat menimbulkan kondisi yang lebih berat.
Di sisi lain, Edwin menyoroti kesalahan masyarakat dalam menangani gejala flu, salah satunya penggunaan antibiotik secara sembarangan. Ia menjelaskan bahwa influenza disebabkan oleh virus, sehingga antibiotik tidak digunakan untuk mengatasi penyebab utamanya.
Menurut Edwin, obat antibiotik baru dapat dipertimbangkan apabila terdapat infeksi bakteri sekunder berdasarkan kondisi medis pasien. “Jangan baru flu sebentar sudah langsung diberi (obat) antibiotik karena penyebab influenza adalah virus, bukan bakteri,” tegasnya.
Untuk menjaga kondisi tubuh, masyarakat dianjurkan mencukupi waktu istirahat dan tidur, asupan cairan, makanan bergizi, serta melakukan olahraga. Kebiasaan mencuci tangan setelah beraktivitas di luar rumah atau sebelum makan juga perlu dilakukan secara rutin.
Selain itu, lanjutnya, masyarakat yang mulai mengalami gejala seperti demam dan batuk dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Etika batuk dan bersin juga perlu diterapkan dengan menutup hidung serta mulut menggunakan tisu atau siku bagian dalam apabila tidak membawa tisu.
Sebagai langkah pencegahan tambahan, Edwin menyarankan agar masyarakat mempertimbangkan vaksinasi influenza secara rutin setiap tahun. Upaya tersebut dapat menjadi bagian dari perlindungan kesehatan, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap komplikasi influenza.
Edukasi mengenai pencegahan dan penanganan influenza tersebut sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. (za).


