SURABAYA-kanalsembilan.com (15 Juli 2026)
Ketergantungan Indonesia pada material impor masih menjadi tantangan kemandirian teknologi nasional. Merespons persoalan ini, Guru Besar ke-248 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc mengembangkan material komposit polimer hibrida yang menggabungkan sumber daya alam Indonesia dengan material sintetis.
Perkembangan teknologi material menjadi salah satu faktor yang mendorong kemajuan peradaban manusia. Hosta menjelaskan bahwa meningkatnya kebutuhan akan material yang ringan, berkinerja tinggi, dan berkelanjutan membuat material komposit polimer memiliki potensi besar di berbagai sektor strategis. “Sektor tersebut antara lain adalah transportasi, dirgantara, energi, konstruksi, kesehatan, hingga pertahanan,” urainya.
Lebih lanjut, dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi (DTMM) ITS ini menjelaskan bahwa material komposit polimer terbentuk dari kombinasi matriks polimer dan material filler penguat. Menurut Hosta, matriks dapat berasal dari berbagai sumber seperti minyak bumi, tumbuhan, maupun hewan. “Selain itu, serat alami, biomassa, selulosa, dan serat mikro juga berpotensi digunakan sebagai filler dengan performa menjanjikan,” papar Hosta.
Salah satu inovasi utama yang dikembangkan Hosta berupa material komposit hibrida dengan gabungan dua dan lebih komponen pengisi. Material komposit hibrida ini memiliki filler partikel mikro spherical dan serat mikro. “Kombinasi komponen ini mampu menghasilkan material baru dengan sifat yang unggul seperti densitas yang rendah namun kekuatan mekanik tinggi,” ungkap Hosta.
Keunikan penelitian lelaki kelahiran Bandung ini terletak pada bahan serat selulosa yang berasal dari limbah tandan kosong kelapa sawit dan bahan alami lainnya. Meski jumlahnya melimpah di Indonesia, menurut Hosta, material tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. “Padahal, filler limbah serat alam bernilai tinggi karena ikatan yang kuat pada matriks epoksi,” beber alumnus doktoral Toyohashi University of Technology, Jepang ini.
Hasil pengujian menunjukkan peningkatan signifikan pada karakteristik mekanik material tersebut. Hosta menuturkan bahwa kekuatan lentur dan kekuatan tarik meningkat, sementara densitas material tetap rendah. “Serat selulosa berperan sebagai jembatan yang memperkuat interaksi antarkomponen sehingga transfer beban tegangan menjadi lebih baik,” terang Hosta.
Di sisi lain, Hosta melihat bahwa pemanfaatan sumber daya lokal tidak berhenti pada pengembangan material komposit saja. Pada komoditas kelapa sawit, limbah tandan kosong dapat diekstraksi untuk material komposit ringan, sedangkan minyak sawit dapat diolah menjadi biogasoline. “Pemanfaatan sumber daya lokal ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap material impor,” tuturnya menyimpulkan.
Hosta berharap sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dapat semakin memperkuat pengembangan material komposit hibrida di masa mendatang. Sejalan dengan itu, penelitian untuk orasi ilmiah pengukuhannya sebagai profesor ITS tersebut juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama pada poin ke-7 terkait Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. (za).


