“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illallah’, maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud, dinilai hasan oleh sebagian ulama).
Oleh : Basa Alim Tualeka (Aalim)
Pendahuluan
Setiap manusia pasti akan menghadapi satu kenyataan yang tidak dapat dihindari, yaitu kematian. Tidak ada jabatan yang mampu menolaknya, tidak ada harta yang dapat membelinya, dan tidak ada kekuasaan yang dapat menghentikannya. Cepat atau lambat, setiap jiwa akan kembali kepada Allah SWT sebagaimana firman-Nya:
«”Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185).»
Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah kapan kita meninggal, melainkan dalam keadaan bagaimana kita meninggal.
Setiap mukmin tentu mendambakan husnul khatimah, yaitu meninggal dunia dalam keadaan beriman, bertauhid, dan diridhai Allah SWT. Salah satu tanda yang sangat diharapkan adalah Allah memberikan taufik sehingga kalimat terakhir yang keluar dari lisan adalah “Laa Ilaaha Illallah.”
Namun, apakah cukup hanya berharap? Tentu tidak. Kalimat tauhid bukanlah mantra yang otomatis menyelamatkan seseorang apabila sepanjang hidupnya jauh dari Allah. Kalimat ini adalah buah dari hati yang dipenuhi iman, lisan yang terbiasa berdzikir, dan kehidupan yang dihiasi amal saleh.
1. Laa Ilaaha Illallah Adalah Inti Seluruh Risalah Para Nabi
Sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ, seluruh rasul membawa satu misi yang sama, yaitu mengajak manusia bertauhid.
Allah berfirman:
«”Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36).»
Kalimat Laa Ilaaha Illallah berarti:
Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.
Kalimat ini mengandung dua unsur utama:
– Menolak seluruh bentuk sesembahan selain Allah.
– Menetapkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah.
Inilah pondasi seluruh amal ibadah. Tanpa tauhid, amal sebesar apa pun tidak memiliki nilai di sisi Allah.
2. Mengapa Kalimat Ini Menjadi Sebaik-baik Dzikir?
Rasulullah ﷺ bersabda:
«”Sebaik-baik dzikir adalah Laa Ilaaha Illallah.” (HR. Tirmidzi).»
Mengapa demikian?
Karena seluruh dzikir kembali kepada pengagungan terhadap Allah, sedangkan kalimat tauhid merupakan puncak pengagungan tersebut.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kalimat tauhid adalah dzikir yang paling utama karena menghimpun pengakuan terhadap keesaan Allah dan penafian segala bentuk kesyirikan.
Ibnu Taimiyah juga menegaskan bahwa seluruh ibadah lahir dari pemahaman terhadap kalimat tauhid.
Dengan kata lain, seseorang boleh memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Namun, inti semuanya tetap bermuara pada tauhid kepada Allah SWT.
3. Mengapa Tidak Semua Orang Mampu Mengucapkannya Saat Wafat?
Ini merupakan pelajaran yang sangat penting.
Banyak ulama menjelaskan bahwa keadaan sakaratul maut merupakan cerminan kehidupan seseorang.
Apa yang paling banyak memenuhi hati ketika hidup, itulah yang biasanya muncul menjelang kematian.
Jika sepanjang hidup seseorang dipenuhi dengan:
– Salat,
– Al-Qur’an,
– Dzikir,
– Sedekah,
– Kejujuran,
– Akhlak mulia,
maka insya Allah lisannya akan mudah mengingat Allah.
Sebaliknya, jika hidup dipenuhi kemaksiatan, kebohongan, kedengkian, cinta dunia yang berlebihan, serta melupakan Allah, maka sangat dikhawatirkan lisannya sulit mengucapkan kalimat tauhid.
Karena itu para ulama sering mengatakan:
“Akhir kehidupan adalah buah dari kebiasaan sepanjang kehidupan.”
4. Sepuluh Bekal Agar Allah Menganugerahkan Husnul Khatimah
Pertama, memurnikan tauhid.
Jangan menyekutukan Allah dalam bentuk apa pun.
Tauhid bukan sekadar ucapan, tetapi keyakinan, ibadah, rasa takut, harapan, dan cinta yang hanya ditujukan kepada Allah.
Kedua, menjaga salat.
Salat merupakan tiang agama.
Orang yang menjaga salat berarti menjaga hubungan dengan Rabb-nya setiap hari.
Ketiga, membiasakan dzikir.
Biasakan membaca:
– Laa Ilaaha Illallah
– Subhanallah
– Alhamdulillah
– Allahu Akbar
– Astaghfirullah
Lisan yang terbiasa berdzikir akan ringan menyebut nama Allah ketika ajal datang.
Keempat, memperbanyak membaca Al-Qur’an.
Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tetapi direnungkan dan diamalkan.
Ia menjadi cahaya bagi hati.
Kelima, memperbanyak istighfar.
Tidak ada manusia yang bebas dari dosa.
Namun Allah mencintai orang yang segera kembali kepada-Nya.
Keenam, memperbanyak amal saleh.
Sedekah, membantu sesama, memuliakan orang tua, menjaga amanah, menolong fakir miskin, semuanya menjadi bekal menuju akhirat.
Ketujuh, menjaga lisan.
Banyak orang rajin beribadah tetapi lisannya menyakiti orang lain.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seorang mukmin sejati adalah yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.
Kedelapan, memilih lingkungan yang baik.
Teman yang saleh akan selalu mengingatkan kepada Allah.
Sebaliknya, teman yang buruk dapat menjauhkan seseorang dari jalan yang benar.
Kesembilan, mengingat kematian.
Mengingat kematian bukan membuat hidup menjadi pesimis, tetapi menjadikan kita lebih bijaksana dalam menggunakan waktu.
Kesepuluh, selalu berdoa.
Hati manusia berada di antara jari-jari kekuasaan Allah.
Karena itu Rasulullah ﷺ sering berdoa:
«”Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik.”»
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
5. Tanda Orang yang Hidup Bersama Kalimat Tauhid
Orang yang benar-benar memahami Laa Ilaaha Illallah akan terlihat dalam akhlaknya.
Ia tidak mudah sombong karena sadar semua berasal dari Allah.
Ia tidak mudah putus asa karena percaya Allah Maha Penolong.
Ia tidak iri kepada orang lain karena yakin rezeki telah diatur Allah.
Ia tidak takut kehilangan dunia karena akhirat menjadi tujuan utamanya.
Tauhid melahirkan ketenangan.
Sebaliknya, hati yang jauh dari tauhid akan mudah gelisah walaupun memiliki kekayaan melimpah.
6. Kisah Para Pendahulu yang Memegang Teguh Tauhid
Bilal bin Rabah RA disiksa di padang pasir dengan batu besar di atas dadanya.
Namun yang keluar dari lisannya hanyalah:
“Ahad… Ahad…”
Beliau tidak menyebut harta, keluarga, atau dunia.
Yang memenuhi hatinya hanyalah Allah Yang Maha Esa.
Demikian pula Sumayyah binti Khayyath RA, syahid sebagai wanita pertama dalam Islam karena mempertahankan tauhid.
Imam Ahmad bin Hanbal rela dipenjara dan disiksa demi mempertahankan kebenaran.
Ibnu Taimiyah berkata bahwa penjara baginya hanyalah tempat untuk berkhalwat dengan Allah.
Mereka menunjukkan bahwa tauhid bukan sekadar teori, melainkan prinsip hidup.
7. Jangan Menunggu Hari Tua
Kesalahan banyak manusia adalah berkata:
“Nanti kalau sudah pensiun saya akan rajin ibadah.”
Padahal tidak ada yang tahu apakah masih hidup sampai esok pagi.
Kematian tidak mengenal usia.
Anak-anak, remaja, orang dewasa maupun lansia semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk dipanggil Allah.
Karena itu, sebaik-baik waktu memperbaiki diri adalah sekarang.
8. Husnul Khatimah Adalah Karunia Allah
Kita tidak boleh merasa paling saleh.
Banyak orang yang tampak baik tetapi akhirnya tergelincir.
Sebaliknya, ada orang yang dahulu penuh dosa kemudian bertaubat dan meninggal dalam keadaan mulia.
Karena itu jangan pernah berhenti berdoa agar Allah meneguhkan hati hingga akhir hayat.
Yang menentukan akhir perjalanan bukan manusia, tetapi Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati.
Penutup: Jadikan Tauhid Sebagai Jalan Hidup
Saudaraku, jika kita benar-benar ingin kalimat terakhir kita adalah Laa Ilaaha Illallah, maka mulailah dari hari ini.
Basahilah lisan dengan dzikir.
Tegakkan salat.
Perbanyak membaca Al-Qur’an.
Hormati kedua orang tua.
Jauhi kesyirikan dan maksiat.
Perbanyak sedekah.
Jagalah amanah.
Maafkan kesalahan orang lain.
Perbaiki akhlak.
Jangan menunda taubat.
Ingatlah, orang yang wafat dengan kalimat tauhid bukanlah orang yang sekadar pandai mengucapkannya, tetapi orang yang menjadikan tauhid sebagai cara berpikir, cara beribadah, cara bekerja, cara memimpin, cara bermasyarakat, dan cara menjalani seluruh kehidupannya.
Semoga Allah SWT menjadikan hati kita istiqamah di atas iman, mengampuni segala dosa kita, memudahkan lisan kita untuk selalu berdzikir kepada-Nya, serta menganugerahkan husnul khatimah sehingga kalimat terakhir yang keluar dari lisan kita adalah:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”
Allahumma ij’al aakhira kalaamina minad-dunyaa “Laa Ilaaha Illallah”, wa tsabbit quluubanaa ‘alal iimaan, waghfir lanaa wa liwaalidaynaa walil mu’miniina wal mu’minaat, ahyaa’an wa amwaataa. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.Apabila ditujukan untuk kajian atau majelis taklim.


