SURABAYA-kanalsembilan.com (159/2025)
Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Jawa Timur meraih juara pertama dalam Kompetisi Program Pemberdayaan Ekonomi Lembaga Ziswaf pada ajang Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2025.
Kegiatan yang digelar Bank Indonesia ini berlangsung di Masjid Al-Akbar Surabaya, 12–14 September 2025, sebagai bagian dari rangkaian menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Jakarta awal Oktober mendatang.
Fesyar tahun ini mengusung konsep “Satu Gerbang” dengan berbagai agenda, mulai dari pameran produk halal, layanan keuangan syariah, seminar tematik, talkshow, hingga business matching. Ajang ini menjadi wadah sinergi untuk memperkuat gerakan ekonomi syariah di tingkat regional.
Program Nyata Pemberdayaan
Ketua Lazismu Jatim, H. Imam Hambali, M.SEI, menyebut penghargaan ini menjadi bukti keseriusan lembaganya dalam menggarap program pemberdayaan masyarakat.
“Produk yang kami tampilkan adalah program nyata di lapangan. Penghargaan ini penting sekali karena menunjukkan bahwa upaya kami diakui dan benar-benar berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam kompetisi, Lazismu Jatim mengajukan tiga program unggulan:
1. Bankziska – Skema pembiayaan tanpa bunga, denda, atau biaya administrasi, ditujukan bagi fakir miskin dan pelaku UMKM mikro yang terjerat rentenir. Hingga kini, program ini sudah membantu sekitar 850 orang keluar dari jeratan utang.
2. Kampung Berkemajuan – Pemberdayaan masyarakat melalui budidaya ayam petelur di Blitar. Dari awal 400 ekor per kelompok, kini berkembang hingga 800 ekor hanya dalam 20 bulan.
3. Tani Bangkit – Budidaya cabai bekerja sama dengan perusahaan profesional. Program ini mampu menghasilkan margin keuntungan 60–80 persen per tahun. Dengan modal Rp100 juta, petani bisa memperoleh laba sekitar Rp50 juta setahun.
Menjangkau Luas, Berorientasi Jangka Panjang
Program Lazismu Jatim tidak hanya berfokus pada satu daerah, melainkan menyebar di berbagai wilayah Jawa Timur. Blitar menjadi pusat pengembangan ayam petelur, Mojokerto sebagai lokasi utama budidaya cabai, sementara Bankziska sudah hadir di 15 kawasan lain.
Meski demikian, Imam mengakui tantangan terbesar adalah keterbatasan tenaga ahli. Karena itu, Lazismu banyak berkolaborasi dengan pihak swasta. “Biasanya pemerintah baru ikut setelah ada bukti nyata. Untuk sekarang, kami jalankan dulu secara mandiri,” jelasnya.
Program Lazismu dirancang berkelanjutan. Budidaya ayam memerlukan waktu 18–20 bulan, sementara cabai dapat dipanen setiap 6 bulan. Namun, target utama diarahkan untuk 5–10 tahun ke depan, agar kelompok usaha binaan tumbuh menjadi komunitas wirausaha baru.
“Harapan kami, dari mustahik bisa bertransformasi menjadi muzakki. Kami ingin melahirkan saudagar-saudagar baru dari masyarakat kecil,” tegas Imam. (za).


