Google search engine
HomeUncategorizedLulus S3 di Usia 61 Tahun, Abdul Ghofur Jadi Wisudawan Tertua ITS...

Lulus S3 di Usia 61 Tahun, Abdul Ghofur Jadi Wisudawan Tertua ITS ke-134

SURABAYA-kanalsembilan.com (24 Oktober 2026)

Usia 61 tahun 5 bulan tak menghalangi Abdul Ghofur menuntaskan jenjang pendidikan doktor di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini dinobatkan menjadi wisudawan tertua pada prosesi Wisuda ke-134 ITS setelah menyelesaikan studi S3 Ilmu Kelautan di Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS.

Perjalanan akademik lelaki yang akrab disapa Ghofur itu menjadi bukti bahwa semangat belajar tidak mengenal batas usia. Di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai seorang peneliti, Ghofur tetap berkomitmen untuk bisa menyelesaikan pendidikan doktoral yang dimulainya pada akhir 2022 tersebut.

Pada tahun 1990, Ghofur telah menuntaskan pendidikan sarjana di Teknik Kelautan ITS, hingga akhirnya memulai karir di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Ia kemudian memperoleh beasiswa untuk kembali melanjutkan studi magister di Newcastle University, Inggris.

“Perjalanan S2 ini yang benar-benar menggembleng saya, hidup di negara orang, jauh dari keluarga, dan harus menyesuaikan diri dengan budaya belajar orang-orang di sana,” tuturnya bercerita.

Kembali ke Indonesia, Ghofur memilih untuk melanjutkan pengabdian pada bidang rekayasa dan teknologi kelautan yang selinier dengan latar belakang studinya. Karirnya terus berkembang hingga BPPT bergabung dengan BRIN pada 2021 lalu yang kemudian mendapatkan mandat untuk mengambil program doktoral di ITS.

Di usia 57 tahun, Ghofur akhirnya kembali ke kampus untuk belajar di tahun 2022, setelah puluhan tahun meneliti di bawah naungan BPPT. Meskipun sempat merasa usianya sudah tidak muda lagi, ia menerima mandat dari salah seorang pimpinannya di BRIN dengan penuh tanggung jawab.

“Syukurnya, karena bidang studi yang ditempuh tetap linier dengan pengalaman kerja saya, proses perkuliahan S3 di FTK ITS masih dapat saya jalani dengan lancar,” ungkap Ghofur penuh syukur.

Pengalaman praktis dan pemahaman mendalam yang telah dikumpulkan Ghofur selama bertahun-tahun telah memberinya fondasi yang cukup kuat. Hal tersebut juga membuatnya tidak mengalami hambatan yang berarti dalam menyelesaikan studinya hingga dinyatakan lulus pada Wisuda ke-134 ITS.

Setiap hari, Ghofur bekerja di kantor sejak pagi hingga sore. Ia kemudian menggunakan waktu malam untuk belajar dan menulis disertasi demi menuntaskan studinya. Disertasinya mengangkat tentang pengembangan Short SPAR, struktur turbin angin lepas pantai terapung yang dirancang untuk perairan dangkal.

Penelitiannya berangkat dari karakteristik perairan Indonesia yang banyak memiliki kedalaman sekitar 20–25 meter. Melalui riset tersebut, Ghofur menggabungkan pengalaman panjang di bidang hidrodinamika dengan kajian teknologi energi terbarukan.

“Karena terakhir kuliah itu 20-an tahun lalu, saya jadi mempelajari perangkat lunak baru seperti Ansys Fluent untuk mendukung analisis numerik dan pengujian struktur terapung di lab,” paparnya.

Ghofur mengombinasikan kalkulasi numerik dan pengujian hidrodinamika menggunakan SPAR klasik yang dilengkapi dengan heave plate dan viscous plate guna meredam gerakan struktur. Studinya ini didukung oleh fasilitas In-House Beasiswa Riset (IBR) BRIN, yakni bantuan pendanaan pengujian serta publikasi dari promotornya.

Selama masa studi, lelaki kelahiran 18 Mei 1965 itu tetap menaruh rasa hormat (respect) yang tinggi kepada para dosen dan promotornya, meskipun secara usia banyak pengajar yang lebih muda usia darinya. Bagi Ghofur, hubungan antara murid dan guru harus tetap dijaga dengan etika yang benar.

Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan untuk membuat seseorang cerdas secara intelektual, namun juga membentuk adab, moral, dan karakter yang kuat. Kepada generasi muda, Ghofur mengingatkan bahwa setiap zaman memiliki tantangan tersendiri. “Sebagai mahasiswa, kita harus menjaga disiplin, tekun belajar, bekerja keras, dan menghindari kebiasaan yang memicu kemalasan,” pesannya menasihati.

Setelah sukses meraih gelar doktor pada usia lebih dari setengah abad ini, Ghofur berencana melanjutkan pengabdiannya kembali sebagai peneliti di BRIN. Ia juga ingin mengembangkan riset Short SPAR dan berkontribusi dalam penelitian perlindungan pesisir Indonesia.

Semangat Ghofur dalam menuntaskan studi S3 di usia yang tak lagi muda, serta bakti penelitiannya untuk bangsa ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Utamanya pada poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas. (za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments