LAMONGAN-kanalsembilan.com (5/9/2025)
Masyarakat Mayong Sidomlangean Kedungpring Lamongan tampak kompak bersholawat. Lebih meriah lagi karena jama’ah yang secara rutin hadlir dari Sambiroto, Nduwel, Mlangean, Blawi, Dungpri, Cumpleng, Dengkeng, Dungbulu dan dusun lainnya turut memeriahkan.
Pelaksanaan di hall Pesantren Krapyak Mayong Sidomlangean, Lamongan, dihadiri 700 jama’ah. Mereka bersholawat untuk satu nama yang tak pernah lekang, Sayyidina Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam.
Maulid yang berkah dihadiri Bapak Camat Kedungpring, Mbah Guru H. Ridlwan, Mbah Guru H. Mukafiuddin, H. Huri, H. Kartono, Pak Eko, Pak Kasun Mayong dan para masyayich lainnya
Kang Imam Suyuti, sekretaris pesantren, menyebutnya “Peringatan ini untuk meneladani Gusti Kanjeng Nabi sepanjang hayat.” Tema yang sederhana, tapi dalam. Seperti sumur tua yang airnya tak pernah kering.
KH. Nashir Mansur Idris dari Jakarta hadlir untuk menuangkan mahabah pada nabi. Ia datang sebagai munsyid. Murid Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani dari Mekkah. Beliau bersenandung sholawat. Bersholawat ala Hijaz. Nada yang membuat dada jamaah bergetar. Yang membuat air mata turun tanpa aba-aba.
KH. Imam Mawardi Ridlwan, pengasuh pesantren, tidak memberi ceramah panjang. Ia hanya mengingatkan: “Keselamatan kita tergantung seberapa kuat mahabbah kita pada pemberi syafa’at.” Kalimat itu tidak butuh tafsir. Ia langsung masuk ke relung hati. Seolah Nabi sedang duduk di tengah-tengah kita, tersenyum, dan berkata: “Aku rindu kalian.”
Habib Ubaidillah Al Habsy dari Surabaya menyampaikan taujih. Ia tidak bicara tentang politik, ekonomi, atau dunia digital. Ia bicara tentang keutamaan nabi dan rasul. Tentang bagaimana cinta kepada Nabi bukan sekadar slogan, tapi jalan hidup.
Mayong Bersholawat malam itu bukan sekadar acara. Ia adalah peristiwa batin. Di mana langit dan bumi seolah bersatu dalam satu irama, cinta kepada Rasulullah.
Di tempat yang sama, Ketua Umum Yayasan Pendidikan Dan Sosial Bani Kyai Tasir Mayong, Mbah Guru Katjung Pramono menegaskan peringatan ini terlaksana atas kerja sama pengurus pesantren, panitia dan masyarakat Mayong yang dikomandani Pak Kasun Mas’ud. Pesantren dan Yayasan menghaturkan terima kasih tak terhingga semua bantuan para jama’ah. Semoga dibalas oleh Alloh Ta’ala dengan balasan yang terbaik.
Dan mungkin, di antara jamaah yang hadir, ada seorang anak kecil yang kelak menjadi ulama besar. Atau seorang ibu yang pulang dengan hati yang lebih tenang. Atau seorang santri yang malam itu memutuskan untuk istiqamah. Semua karena satu nama: Sayyidina Muhammad sholalloh alaihi was salam. (za).


