TUBAN-kanalsembilan.com (18 April 2026)
Sabtu pagi, 18 April 2026, halaman Hall Yabika Tuban dipenuhi wajah-wajah ceria. Sebanyak 126 generasi Insan Kamil Tuban menuntaskan perjalanan mereka dalam program Al Qur’an metode Yanbu’a. Khotaman kali ini adalah yang kedelapan, sebuah penanda bahwa tradisi keberkahan terus berlanjut.
Mereka semua ditest oleh Kyai Abdullah Hadirin, Pengasuh Pesantren Al Barokah Kras Kediri. Mereka harus lulus test wawancara di hadapan para orang tua dan semua yang telah hadlir.
Sementara itu Kyai Fauzan, penanggung jawab Yanbu’a Insan Kamil Tuban, menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan hanya karena metode yang mudah dan cepat, tetapi juga karena kerja sama orang tua yang tak pernah lelah mendampingi. “Semoga para generasi Insan Kamil Tuban menjadi generasi Al Qur’an,” ucapnya penuh harap.
Lebih jauh, Fauzan mengingatkan bahwa pilihan metode Yanbu’a bukan tanpa alasan. KH. Imam Mawardi Ridlwan, Ketua Umum Yayasan Bina Insan Kamil Tuban, memperoleh sanad langsung dari KH. Aminuddin Ridlo, salah satu murid dari KH. Arwani, pengasuh Pesantren Yanbu’a Kudus. Rantai sanad itu menjadi pengikat spiritual yang kuat bagi perjalanan anak-anak Bina Insan Kamil Tuban.
Namun, yang paling menyentuh hati adalah pesan Prof. DR. Yatim Riyanto, Guru Besar Unesa. Dengan suara bergetar, ia mengingatkan: “Ibu itu perpustakaan pertama dan utama. Jangan pernah menyakiti ibu. Doa ibu adalah senjata kesuksesan.” Ia menuturkan kisah seorang kyai yang mencuci kaki ibunya, lalu membasuh wajah dengan air cucian itu. Dari ridho sang ibu, segala cita-cita dikabulkan Allah Ta’ala.
“Ibu itu segala-galanya. Semua generasi Insan Kamil Tuban harus selalu berbakti pada ibu dan ayahnya,” nasehat Prof. Yatim, seakan menancapkan pesan ke dalam hati setiap hadirin.
KH. Imam Mawardi Ridlwan menutup dengan penegasan bahwa program Al Qur’an adalah ruh utama sekolah Bina Insan Kamil Tuban. “Bersama Al Qur’an, generasi kita semoga menjadi generasi sholih yang selalu berbakti kepada kedua orang tua,” pesannya.
Di Tuban, pagi itu bukan sekadar khotaman. Ia adalah perayaan cinta, sanad, dan doa ibu yang tak pernah putus. (za).


