Google search engine
HomePolitikMBG Memasak 3.000 Porsi, Mengapa Hanya 10–30 Siswa yang Keracunan?

MBG Memasak 3.000 Porsi, Mengapa Hanya 10–30 Siswa yang Keracunan?

– Pertanyaan Sederhana yang Harus Dijawab dengan Investigasi, Bukan Saling Menyalahkan-

Oleh: Basa Alim Tualeka (Obasa)

Jika sebuah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) memasak sekitar 3.000 porsi makanan, kemudian makanan tersebut dikirim ke sekolah dan setelah dikonsumsi terdapat 10–30 siswa yang mengalami gejala keracunan, sementara sekitar 2.970–2.990 siswa lainnya tidak mengalami gejala yang sama, maka muncul pertanyaan yang sangat logis:

Apakah seluruh makanan yang dimasak memang tercemar, atau terdapat faktor tertentu yang menyebabkan hanya sebagian penerima mengalami gangguan kesehatan?

Pertanyaan ini penting karena jangan sampai setiap kejadian langsung disimpulkan dengan kalimat sederhana: “MBG menyebabkan keracunan.” Sebaliknya, juga tidak tepat apabila langsung dikatakan bahwa “MBG pasti tidak salah.”

Yang harus dicari adalah titik masalahnya.

1. Keracunan makanan tidak selalu berarti seluruh porsi tercemar

Secara teknis, kontaminasi makanan dapat terjadi pada tahap bahan baku, proses memasak, pendinginan, pengemasan, distribusi, sampai makanan dikonsumsi.

Pedoman BGN sendiri menggunakan pendekatan keamanan pangan berbasis risiko dan HACCP, yang mengharuskan bahaya dikendalikan sejak bahan baku sampai makanan siap dikonsumsi. Bahayanya dapat berupa biologis, kimiawi, maupun fisik.

Karena itu, apabila hanya sebagian siswa yang mengalami gejala, belum cukup bukti untuk menentukan sumbernya hanya berdasarkan jumlah korban.

Bisa saja terjadi:

kontaminasi hanya pada sebagian komponen makanan;

satu wadah atau kelompok distribusi mengalami masalah;

makanan tertentu tidak tersimpan pada suhu yang aman;

sebagian siswa memperoleh makanan dari batch berbeda;

terdapat perbedaan waktu antara makanan diterima dan dikonsumsi;

kontaminasi terjadi ketika makanan dibagikan di sekolah;

atau penyebabnya justru bukan makanan MBG.

2. Justru angka 10–30 dari 3.000 harus menjadi petunjuk investigasi

Misalnya:

3.000 porsi → 20 siswa sakit → 2.980 siswa tidak sakit.

Angka tersebut tidak boleh digunakan untuk menyimpulkan bahwa makanan aman, tetapi juga tidak otomatis membuktikan seluruh makanan beracun.

Yang harus ditanyakan:

20 siswa tersebut makan menu yang sama?

Mereka menerima makanan dari kotak atau kelompok distribusi yang sama?

Mereka makan pada waktu yang sama?

Apakah semua siswa yang sakit berada di satu sekolah atau satu kelas?

Komponen makanan apa yang sama-sama mereka konsumsi?

Apakah sampel makanan dari batch tersebut diperiksa laboratorium?

Inilah pendekatan investigasi yang lebih ilmiah.

3. Jangan hanya memeriksa makanan—periksa rantai makanan

Dalam sistem MBG, tanggung jawab keamanan pangan tidak berhenti ketika makanan selesai dimasak.

BGN menetapkan pemantauan mulai dari persiapan bahan, memasak, makanan matang, pengemasan hingga pengiriman. Di sekolah juga terdapat PIC yang melakukan pemeriksaan makanan sebelum dibagikan.

Bahkan BGN menetapkan bahwa makanan siap saji harus dikonsumsi dalam batas waktu maksimal empat jam sejak makanan matang, sebagai salah satu pengendalian keamanan pangan.

Maka investigasinya harus mengikuti rantai:

Bahan baku → pencucian → pemotongan → memasak → pendinginan → pengemasan → penyimpanan → transportasi → penerimaan sekolah → pembagian → konsumsi.

Kalau salah satu mata rantai gagal, masalah dapat muncul.

4. Siapa yang salah?

Pertanyaan yang lebih tepat bukan:

> “MBG yang salah atau bukan?”

Tetapi:

> “Pada tahapan mana terjadi kegagalan pengendalian keamanan pangan?”

Kalau terbukti SPPG tidak mengikuti SOP, maka harus ada pertanggungjawaban.

BGN sendiri menyatakan bahwa evaluasi kasus menunjukkan sekitar 80–90 persen kasus yang dipetakan berkaitan dengan ketidakpatuhan terhadap SOP.

Namun, angka tersebut adalah evaluasi yang disampaikan BGN dan tidak berarti setiap kejadian otomatis disebabkan oleh SPPG. Setiap kasus tetap membutuhkan investigasi individual.

Bahkan dalam kasus tertentu BGN telah menjatuhkan sanksi terhadap SPPG setelah insiden keamanan pangan dan melakukan investigasi bersama pihak kesehatan.

5. MBG harus menggunakan prinsip “zero tolerance”

Program MBG menyangkut anak-anak. Karena itu ukuran keberhasilannya tidak cukup:

“Dari 3.000 anak, hanya 20 yang sakit.”

Itu bukan ukuran yang ideal.

Ukuran yang harus dikejar adalah:

> 3.000 makan, 3.000 aman.

BGN sendiri menyatakan target keamanan pangan MBG adalah zero tolerance, bahkan tidak boleh ada satu penerima manfaat pun mengalami gangguan kesehatan akibat makanan MBG.

Dengan demikian, kasus 10–30 siswa bukan sesuatu yang boleh dianggap kecil hanya karena mayoritas siswa tidak mengalami gangguan.

6. Solusinya: setiap kasus harus dibuka secara transparan

Setiap kejadian dugaan keracunan sebaiknya langsung dilakukan:

Pertama, amankan dan simpan sampel makanan.

Kedua, data semua penerima makanan harus dicatat.

Ketiga, kelompokkan siswa yang sakit berdasarkan sekolah, kelas, waktu makan, dan menu.

Keempat, lakukan pemeriksaan medis terhadap korban.

Kelima, lakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan, bila diperlukan, spesimen klinis.

Keenam, audit SOP SPPG dari bahan baku sampai distribusi.

Ketujuh, periksa rantai waktu dan suhu makanan.

Kedelapan, umumkan hasil investigasi secara terbuka agar masyarakat tidak mendapatkan informasi yang simpang siur.

Regulasi BGN juga memungkinkan pemberhentian sementara produksi/distribusi, rekomendasi pencabutan SLHS, bahkan pemutusan kerja sama apabila terdapat pelanggaran atau kejadian keracunan berdasarkan hasil pengawasan.

Kesimpulan

Kasus 3.000 porsi dan hanya 10–30 orang yang mengalami keracunan justru menunjukkan pentingnya investigasi yang lebih detail.

Jangan langsung menyalahkan MBG. Tetapi jangan pula membela MBG sebelum penyebabnya terbukti.

Yang harus dicari adalah sumber kontaminasi, titik kegagalan SOP, pola korban, jenis makanan yang dikonsumsi, waktu konsumsi, serta hasil pemeriksaan medis dan laboratorium.

Karena MBG bukan sekadar program pemberian makanan. MBG adalah program negara yang menyangkut kesehatan dan keselamatan anak-anak Indonesia.

Maka prinsipnya sederhana:

> “Bukan berapa banyak yang keracunan yang menjadi ukuran keberhasilan MBG, tetapi bagaimana memastikan tidak seorang pun keracunan.”

MBG harus bergizi, tetapi sebelum bergizi, makanan harus aman.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments