Google search engine
HomeEkbisMembangun Kedaulatan Energi Ummat: Dari Lampu Masjid Nabawi Hingga Transisi Hijau

Membangun Kedaulatan Energi Ummat: Dari Lampu Masjid Nabawi Hingga Transisi Hijau

📘 Serial 3 – Energi dalam Islam: Dari Lampu Masjid Nabawi hingga Transisi Hijau

Oleh: Dr Ir H Mangesti Waluyo Sedjati, MM
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
📍 Sidoarjo, 12 Agustus 2025

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh

Sahabat yang dirahmati Allah,
Energi adalah urat nadi peradaban. Ia menghidupkan rumah-rumah kita, menggerakkan industri, mengairi sawah, menyalakan mesin kapal nelayan, hingga menerangi masjid tempat kita bersujud. Dalam pandangan Islam, energi adalah ni‘matullah dan amanah bumi (amānatul-ardh) yang wajib dikelola secara adil, efisien, dan berkelanjutan.

Sejak zaman Rasulullah ﷺ, umat Islam sudah menerapkan prinsip hemat dan ramah lingkungan: lampu minyak zaitun di Masjid Nabawi, kincir air di Andalusia, saluran irigasi di Persia. Prinsip lā tabdzir dan lā isrāf—tidak boros dan tidak berlebihan—menjadi dasar etika pemanfaatan sumber daya.

Namun realitas Indonesia hari ini menunjukkan jurang yang besar antara potensi dan kenyataan. Kita diberkahi limpahan sumber energi terbarukan—surya, hidro, angin, panas bumi, biomassa—tetapi ±80% pasokan energi nasional masih bergantung pada fosil. Pembangkit listrik kita ±85% berbasis PLTU batubara dan PLTG gas. Padahal cadangan minyak bumi terus menipis, dan harga energi global kian fluktuatif.

Bauran energi baru terbarukan (EBT) kita baru mencapai 13,09% pada 2023, jauh dari target 23% pada 2025. Ini bukan sekadar soal teknis, tetapi soal kedaulatan.

📌 Dampaknya nyata:
• Ketimpangan sosial: daerah industri di Jawa surplus listrik, sementara desa-desa di NTT, Papua, dan Maluku masih gelap atau listriknya sering padam.
• Kenaikan biaya hidup: harga BBM dan LPG yang naik ikut menekan nelayan, petani, dan pelaku UMKM.
• Negara kehilangan arah transisi energi: roadmap tidak jelas, investor asing masuk tanpa transfer teknologi, sementara kapasitas riset dalam negeri tertinggal.

📌 Akar masalahnya jelas:
1. Sentralisasi & monopoli korporasi: energi dikuasai segelintir pihak, rakyat hanya jadi konsumen pasif.
2. Lemahnya kemandirian teknologi: panel surya, turbin angin, hingga baterai kita masih impor.
3. Rendahnya kesadaran ekologis umat: masjid, pesantren, bahkan rumah tangga belum banyak yang menjadikan hemat energi sebagai bagian dari ibadah.

📌 Jalan keluarnya juga jelas:
• Pemberdayaan energi komunitas: solar panel masjid, mikrohidro desa, bioenergi pesantren.
• Investasi berbasis wakaf & ZISWAF: dana sosial umat untuk membangun solar park dan listrik mandiri pesantren. Potensi wakaf tunai nasional >Rp 180 triliun/tahun bisa jadi motor transisi energi.
• Dakwah energi: khutbah Jumat, kajian, dan kurikulum madrasah harus memasukkan literasi energi, efisiensi, dan tanggung jawab lingkungan.
• Masjid Mandiri Energi: masjid bukan hanya pusat ibadah, tapi pusat inovasi energi bersih.
• Koperasi Energi Umat: mengelola listrik surya komunal dan distribusi BBM komunitas dengan harga adil.

💡 Prinsipnya jelas: Kemandirian energi adalah ibadah. Energi bersih adalah sedekah untuk bumi. Hemat energi adalah jihad melawan kerusakan.

Ini bukan sekadar mengikuti tren global “transisi hijau”, tetapi menjalankan perintah Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A‘raf: 31)

Saatnya kita mulai dari yang paling dekat: dari masjid ke masyarakat, dari desa ke negara. Jika masjid bisa memproduksi listrik sendiri, pesantren bisa menjadi pusat inovasi energi, dan umat menjadi produsen, bukan sekadar konsumen—maka kedaulatan energi umat akan menjadi kenyataan.

🌿 Anak cucu kita tidak boleh mewarisi bumi yang kotor dan tergantung pada pasar asing. Mereka berhak mewarisi langit yang biru, air yang bersih, dan energi yang adil.


📌 Baca artikel lengkap Bab 1–7 di:
[Facebook]: https://www.facebook.com/share/p/19HxEJnMtQ/
[Medium]: https://medium.com/@mangesti/membangun-kedaulatan-pangan-energi-untuk-pemberdayaan-ekonomi-umat-serial-3-energi-dalam-40d001c0af64

Wallāhu a‘lam bish-shawāb
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh

🔜 Nantikan Serial 4: “Mengapa Umat Harus Paham Geopolitik Pangan dan Energi”

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments