Fawaid Hadist Bimbingan Islam
🔊 Hadist #70
👤 Ustadz Fadly Gugul S.Ag
https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-70-mengambil-senjata-dengan-menunaikan-haknya-di-medan-juang/
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ سَيْفًا يَوْمَ أُحُدٍ فَقَالَ: « مَنْ يَأْخُذُ مِنِّي هَذَا؟ فَبَسَطُوا أَيْدِيَهُمْ، كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ يَقُولُ: أَنَا أَنَا. قَالَ: « فَمَنْ يَأَخُذُهُ بِحَقِّهِ؟ فَأَحْجَمِ الْقَومُ فَقَالَ أَبُو دُجَانَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا آخُذُهُ بِحَقِّهِ، فَأَخَذَهُ فَفَلَقَ بِهِ هَامَ الْمُشْرِكِينَ ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Anas radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil sebilah pedang pada saat perang Uhud, kemudian baginda bersabda: “Siapakah di antara kamu semua yang ingin mengambil pedang ini dariku?”
Maka para sahabat mengangkat tangannya dan berkata, “Saya, saya.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang bersedia mengambilnya dengan memenuhi haknya?”
Maka semua orang terdiam. lalu Abu Dujanah berkata, “Saya akan mengambilnya dengan memenuhi haknya.” Kemudian Abu Dujanah mengambil pedang itu dan memenggal leher orang-orang musyrik.” (HR. Muslim, no. 2470)
Faedah Hadist
1. Keutamaan dan keberanian sahabat Abu Dujanah mengambil pedang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini menunjukkan kejujurannya dalam medan juang jihad fisabilillah, bukan berarti sahabat lain tidak ada keberanian, hanya saja mereka takut tidak bisa memberikan hak dan menunaikan janji atas pedang yang diterima dari Rasul. Sungguh Para sahabat berlomba mengambil pedang tersebut untuk siap berjuang tanpa syarat sebelumnya.
2. Pemberian motivasi dan pengobaran semangat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya untuk mengalahkan para musuh yang menghalangi dakwah Rasul.
3. Bolehnya bagi panglima perang menawarkan pedang atau senjata kepada pasukannya dengan membawa syarat-syarat yang harus ditunaikan.
4. Kadar dan kemampuan manusia juga bertingkat-tingkat dalam menunaikan hak senjata masing-masing ketika seruan jihad dikumandangkan oleh pemimpin tertinggi dalam suatu wilayah atau negara.
5. Senjata bagi seorang muslim adalah ditujukan kepada musuh-musuh Allah Ta’ala, mereka yang diperangi secara benar oleh tuntunan syariat, bukan kepada saudaranya yang muslim.
6. Petunjuk tentang bagusnya kepimpinan dan suri teladan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Baginda tidak pernah secara khusus menunjuk seseorang untuk berperang, akan tetapi baginda memerintahkannya secara umum. Demikianlah seharusnya seorang pemimpin, hendaknya ia tidak pilih kasih kepada seseorang (rakyatnya), tetapi harus bersikap adil kepada semuanya. Karena sikap pilih kasih itu akan dapat menimbulkan perpecahan dan kesatuan umat. Jika ada seseorang yang memiliki kelebihan dari yang lain, kemudian ia diberi wewenang atau memegang amanah berkaitan dengan kelebihan yang ia miliki, maka hal ini diperbolehkan, akan tetapi harus dijelaskan terlebih dahulu kepada umat berkaitan dengan tugas dan amanah yang dibebankan kepadanya, sehingga tidak menimbulkan fitnah.
7. Bersegera dalam kebaikan, sebagaimana para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Mereka belajar dari manusia termulia di dunia ini, baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Referensi: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.
(gwa-majelis-ilmu)


