Bismillaah.
Siapa sajakah ciri-ciri nama keluarga keturunan Arab Yamani yang ‘Alawiyyiin, ‘Alawiyyaah, yang disebut-sebut sebagai keturunan Ali rodhiyollohu ‘anhu (yang jamak disebut sebagai Habib, Sayyid, Sayyidah, Syarif, Syarifah, dsb.)?
Siapa sajakah yang bukan ‘Alawiyyiin, Syarif, Sayyid, Habib?
Apakah hubungan mereka dengan konflik panjang antara kaum Muslimiin pewaris para nabi, versus, melawan kaum Syi’ah, kaum Yahudi, kaum Kristen, kaum Majusi, dsb.; selama ribuan tahun?
Bagaimanakah perananan baik-buruk dan keberadaan mereka, kaum Arab Yamani ini, di Nusantara?
Mengapa ‘organisasi ahlul bait’ di RI bernama Ahlul Bait Indonesia (ABI) dan Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), juga pesantren YAPI di Bangil, sekolah Lazuardi di Cinere, penerbitan buku Mizan, dll.; disebut-sebut sebagai pusat-pusat Syi’ah di Indonesia?
Apakah peranan, dan hubungan antar mereka di masa-masa menuju uncak akhir jaman menjelang kedatangan Dajjal, juga Imaam al Mahdi versi Syi’ah, juga Anti Christ, juga rosuululloh ‘Isa al Masih ‘alaihis salaam, juga Imaam al Mahdi?
❗Simak❗
➡ Ada golongan tertentu di seluruh dunia, yang disebut sebagai golongan ‘Alawiyyiin, ‘Alawiyyaah.
Atau (yang dianggap sebagai) keturunan dari Kholifah ‘Ali bin Abi Tholib, rodhiyollohu ‘anhu. Bercampur atau tidak bercampur darah dengan golongan lain.
➡ Dalam kelompok yang disebut sebagai Robithoh ‘Alawiyyaah, kelompok keturunan ‘Ali.
Alias, adalah yang juga disebut sebagai Ahlul Bait Nabi, sebagai Dzurriyah (keturunan) dari Rosuululloh (shollollohu ‘alaihi wa sallam).
Dari jalur Fatimah, dan pernikahan beliau dengan Ali bin Abi Tholib, rodhiyollohu ‘anhuma.
🇮🇩 Alias di Nusantara, Malayu, Yaman, dsb., biasa juga disebut sebagai Habib, jika dia ‘berdarah murni’.
Dan disebut, Sayyid, Syarif, jika dia ‘berdarah campuran’. Misalnya, sebagian dari kaum ningrat Nusantara, adalah ini, yakni kaum Sayyid, Syarif.
❗✔Catatan:
Kaum Wali Songo para penyebar Islaam di tanah Jawa di masa penghujung Abad Pertengahan, pada umumnya, adalah juga keturunan Ahlul Bait Nabi. Dari Al Hasan dan Al Husain bin Ali bin Abi Tholib.
Namun mereka praktis bukanlah dari Yaman, alias bukanlah kaum Yamani.
Mereka lebih berasal dari Asia Besar. Utamanya di masa daulah islamiyyaah (kerajaan Islaam) Turki Utsmaniyyyaah. Di masa penjajahan Mongol, juga di masa Mongol setelah masuk Islaam.
🔷 Di antara daftar nama-nama keluarga ‘Alawiyyiin Yamani dan bukan ‘Alawiyyiin Yamani, dari sumber yang cukup lengkap:
🔹https://amp.tirto.id/mereka-yang-habib-dan-yang-bukan-habib-chde
🔹https://id.m.wikipedia.org/wiki/Marga_Arab_Hadramaut
🔷 Di antara nama-nama keluarga, klan, marga ‘Alawiyyiin, ‘Alawiyyaah Yamani, yang kiranya cukup populer di masyarakat Indonesia, Nusantara, Malayu, Malaysia, adalah:
➡ Shihab, Shahab, al Atas/al Atthos, As Segaff/as Saqoff, al Habsyi, al Jufri, al Kaff, al Haddad, al Musawwa, al Munawwar, Smith, al Aydrus, bin Syaikh Abu Bakar, al Muhdor, Baharun, Ba’aqil, Bafaqih, al Qadrie, al Hamid, al Muthohhar, al Bar, al Junaid, Basyaiban, bin Yahya, Jamalul Lail, Khanayman, Mula Dawilah, dll.
🔷 Di antara nama keluarga, klan, marga kaum Jama’ah, Masyaikh, non ‘Alawiyyiin Yamani yang cukup populer kiranya di masyarakat Indonesia, Nusantara, Malayu, Malaysia, adalah:
➡ Basalaamah, Baswedan, Jawwas, Baraja, Baisa, Abdad, Ba’asyir, Mar’ie, Makarim, Marta’, Drehem, Uqbah/Okbah, Sungkar, Nahdi, Harharah, al Amudi, at Tamimi, Syamlan, al Katiri, al Batoti, Abrie, Bahanan, Bahasuan, Baridwan, Bamu’alim, Basyrewan, Basmeleh, Baladraf, Basyarahil, Bamatraf, Bamu’min, Baktir, Bahmid, Bal Afif, Bahweresy, Bisir, Bin Juber, Bin Syaiban, Bajuber, Bajrey/Bajrie, Baya’sut, Bahsein/Bahsin, Balwe’el, Bajened, Bin Quddeh/Guddeh, al Jabrie, Huraibi, Makki, al Hadi, al Mukarom, al Hilabi, al Marfadi, Jaidi, Suweileh, Syagran, Zubaidi, dll.
🔷 Ada juga nama marga kaum Ahlul Bait, dari jalur Al ‘Abbas bin ‘Abdul Mutholib, dan para paman nabi lainnya, misalnya:
Bawazier, dsb.
Sejak ratusan tahun lalu, mereka, kaum Arab Yamani ini, telah ada di Nusantara. Bahkan mereka berperan banyak dalam berbagai kebaikan.
Hingga banyaklah ulama, pahlawan nasional, bangsawan nusantara, pelopor organisasi massa Islaam, politikus, pebisnis-pedagang besar, cerdik-pandai, dsb.; adalah keturunan atau golongan mereka.
Mereka juga telah bersumpah setia kepada nusantara Indonesia, bahkan sebelum kemerdekaan RI. Tegas. 🇮🇩
Dan pemerintahan masa Orde Lama pun memberikan keistimewaan bagi kaum Arab nusantara, mereka otomatis menjadi Warga Negara Indonesia, setelah kemerdekaan. Atas jasa-jasa mereka.
Lain daripada etnis lain di Indonesia seperti Tionghoa, India, dll., yang malah ada yang jelas-jelas berpihak kepada Belanda penjajah. Mereka harus mengajukan permohonan menjadi WNI lebih dulu.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Umumnya, tentu saja mereka, ‘Arab Alawiyyiin, dan ‘Arab Non ‘Alawiyyiin itu, berasal dari wilayah Yaman.
Disebut sebagai: Yamani.
Dan kaum ‘Arab Yamani itu, sejak lama berada di bagian selatan jaziroh amat luas ‘Arabia. Kini lebih-kurang menjadi negara Yaman.
Mereka disebut juga sebagai keturunan ‘Arab al Qahtani. Dan dianggap sebagai ‘Arab yang lebih asli.
Dan mereka konon adalah keturunan nabi Huud, ‘alaihis salaam. Berkulit lebih gelap pula, biasanya.
Berbeda sedikit dengan kaum ‘Arab al Adnani, yang menetap di sisi Utara tanah jaziroh Arabia.
Mereka yang di tanah Arab Utara itu, konon adalah keturunan nabi Ismail, ‘alaihis salaam. Yang biasanya berkulit lebih terang.
Mereka biasanya adalah juga kaum Quraisyi.
Termasuk, karenanya, tentu adalah rosuululloh Muhammad bin ‘Abdulloh bin ‘Abdul Mutholib, shollollohu ‘alaihi wa sallam.
Beliau bangsawan dari Bani Hasyim, al Quraisy.
Mereka, dalam ilmu Antropologi, dianggap lebih sebagai ‘Arab pendatang’.
Dianggap lebih ‘muda usia’ daripada al Qahtani.
Dan nabi Ismail ‘alaihis salaam, serta ayah beliau, rosuululloh ‘Ibrahim, ‘alaihis salaam, memanglah pada awalnya bukanlah dari jaziroh Arabia itu. Mereka ‘pendatang’.
Konon, rosuululloh ‘Ibrahim, ‘alaihis salaam, datang dari wilayah Babylonia, sekitar Iraq kini.
Ingatlah, mereka memang diperintah oleh Allaah untuk datang ke lembah Makkah (Bakka), bersama Hajar.
Dan antara lain dengan seijin Allah, mereka menemukan sumur Zam Zam yang berbarokah hingga kini di antara bukit Shofah dan Marwah, dan berqurbaan.
Juga memugar kembali rumah ibadah Ka’bah yang kini menjadi bagian dari Masjidil Harom dan standar kiblat kaum muslimiin seluruh dunia, menetap di sana, dan berketurunan.
❗Namun menurut para ahli lain, kaum ‘Alawiyyiin itu, ada juga yang sebenarnya, adalah keturunan campuran Persia.
Utamanya saat dulu Al Husain bin ‘Ali bin Abi Tholib, rodhiyollohu ‘anhum, dan keturunannya, beristrikan orang Persia. Di antara banyak istrinya.
Ingat, kaum Majusi Persia penyembah dewa, musyrikiin itu, ditaklukkan di masa pemerintahan Kholifah Umar bin Khotthob, rodhiyollohu ‘anhu.
Sesuai janji di hadits yang menyebutkan bahwa istana Kisra Persia akan dimasuki kaum Muslimiin generasi Salafush Sholih (generasi Sahabat Nabi, Tabi’iin, dan Tabi’ut Tabi’iin).
Dan di antaranya, perempuan kaum bangsawan Persia, anak Kisra, diperistri oleh Al Husain.
Kaum Habaib, pun, akhirnya, biasanya dari jalur ini.
Tak heran, manakala kini kaum Syi’ah yang membesar di Persia (negara Iran, kini) hanya mengagungkan 12 Imam dari jalur Husain saja❗
💥 Alias adalah karena hanya Husain lah yang beristrikan orang Persia❗
Mari kita lihat daftar anak kandung laki-laki Ali Bin Abi Tholib rodhiyollohu ‘anhu, sebagai berikut:
1. Hasan bin Ali bin Abi Thalib
2. Husein bin Ali bin Abi Thalib
3. Muhsin bin Ali bin Abi Thalib
4. Abbas bin Ali bin Abi Thalib
5. Hilal bin Ali bin Abi Thalib
6. Abdullah bin Ali bin Abi Thalib
7. Ja’far bin Ali bin Abi Thalib
8. Usman bin Ali bin Abi Thalib
9. Ubaidillah bin Ali bin Abi Thalib
10. Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib
11. Umar bin Ali bin Abi Thalib
Ternyata:
12 imam Syi’ah seluruhnya kemudian berasal dari keturunan Husain saja. Tidak ada yang dari keturunan Hasan❗
Dan Husain menikahi putri raja Yazdegerd bernama Shahrbanu atau yang dikenal dengan Syahzinan. Hasan, tidak❗
Ketika Kekaisaran Persia ditaklukkan & Kaisar Yazdegerd terbunuh maka putri-putrinya ikut ditawan. Dan dinikahi Husain.
(Shuwaru min Hayati Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009)
Jadi sebenarnya, Syi’ah yang berasal dari Persia itu, bukan benar-benar mencintai Ahlul Bait Nabi, namun lebih kepada mencintai keturunan raja (kisra) Persia!
Mereka, Syi’ah, memang dari Persia, yang di kemudian hari, menjadi pusat Syi’ah seluruh dunia. Utamanya, setelah dihasuti Yahudi, sejak kemunculan ‘Abdulloh bin Saba, si yahudi penghasut yang mulai mengacau di masa-masa akhir pemerintahan kholifah Utsman bin Affan rodhiyollohu ‘anhu.
Juga dalam bentuk negara Iran kini, yang resmi menganut agama Syi’ah sekte 12 Imaam, Itsna Asy’ariyyaah.
Dari Persia, keturunan Husain juga lalu bermigrasi ke Yaman❗
Dan ke lain-lain tempat. Dan biasa disebut sebagai Habib, Sayyiid, Syarif.
🔶 Pada dasarnya, kaum ‘Alawiyyaah, ‘Alawiyyiin, Habaib, Sayyiid, Syarif dapat dibagi menjadi 3 kelompok afiliasi keagamaan:
(1) Ahlus Sunnah.
(2) Sufi.
(3) Syi’ah.
1⃣ Kini, sebagian dari kaum ‘Alawiyyiin, ‘Alawiyyaah itu, dikenal, sebenarnya adalah Syi’ah.
Baik secara terbuka, atau dengan masih berpura-pura, dengan cara taqiyyah, yang muslihat macam ini memang adalah ajaran Syi’ah (dan Yahudi, induk Syi’ah).
Mereka, Syi’ah, jelas sejak dulu sebenarnya amat membenci Ahlus Sunnah, Al Jama’ah.
Mengkafirkan ribuan Sahabat Nabi. Mengkafirkan milyaran Muslimiin.
Utamanya, Syi’ah amat membenci kholifah Umar bin Khottob, rodhiyollohu ‘anhu, si Penakluk Persia itu.
Syi’ah juga membenci kholifah Abu Bakr ash Shiddiq, Utsman bin Affan, hingga Mu’awiyah bin Abu Sufyan, rodhiyollohu ‘anhum.
Yang semuanya mereka anggap merebut ‘hak tahta kekholifahan sesungguhnya’ dari tangan ‘Ali bin Abi Tholib, rodhiyollohu ‘anhu, sepeninggal nabi Muhammad, shollollohu ‘alaihi wa sallaam.
Otomatis, mereka pun juga sebenarnya amat membenci seluruh kaum Muslimiin yang mau menerima pemerintahan kekholifahan Abu Bakr, Umar, Utsman, Mu’awiyah.
Walaupun jika kaum muslimiin ini pun menerima kekholifahan Ali.
Dan mereka, Syi’ah, pun, dapat menjadi amat mengkultuskan ‘Alawiyyiin, ‘Alawiyyaah, atau Ahlul Bait, atau yang juga kaum yang umum dijuluki sebagai Habaib, Sayyiid, itu.
Alias umumnya, keturunan Husain dari istri Persia.
Sebagian ‘Alawiyyiin juga ada yang percaya ini. Setidaknya, membiarkannya saja.
Kiranya karena sebagian dari mereka, ‘Alawiyyiin itu, adalah masih keturunan Persia.
Selain karena adanya konflik buruk antara Al Husain versus Yazid. Dan lain-lain faktor.
Khususnya, lalu, dendam kesumat ini membesar saat di masa daulah (kerajaan) Islaamiyyaah ‘Abbasiyyaah (dinasti kerajaan Islaam keturunan al ‘Abbas, paman Nabi), yang berpusat di Baghdad.
Mereka, ‘Alawiyyiin, lama berada di sana. Berketurunan.
Setelah konflik besar dan buruk antara Al Husain bin ‘Ali, rodhiyollohu ‘anhu, versus Yazid bin Mu’awiyah.
Hingga Al Husain dan sebagian besar keluarga dan pasukan kecilnya meninggal dibunuh oleh pasukan besar kiriman Yazid, di padang Karbala, di sekitar Iraq.
Saat Al Husain bergerak dari Madinah ke Persia, diundang kaum Syi’ah (pendukungnya), di sana. Namun Syi’ah itu tak pernah muncul menyambut Al Husain.
Entah pula Al Husain dibunuh dengan sengaja atau tidak (karena pasukan Yazid di lapangan salah menerjemahkan perintah pusat kerajaan bani Umayyaah, di Dimask/Damaskus), para ahli, ulama, masih belum pula bersepakat.
Dan Syi’ah – dengan segala cabang pecahannya macam golongan Itsna Asy’ariyyaah (12 Imaam Syi’ah, yang terbesar kini, agama resmi negara Iran) atau yang juga disebut sebagai:
Rofidhoh, Ghulat, Zaidiyyaah, Nusairiyyaah, Bathiniyyaah, Druuze, Hutsi, dll. – kemudian berkembang lain.
Hingga Syi’ah bahkan dapat menjadi ‘aqiidah yang tersendiri dan gerakan politik-militer❗💥
Lihat: https://www.nahimunkar.org/macam-macam-aliran-syiah-lengkap/ http://forumsalafy.net/sekte-sekte-syiah/
Ini berlainan dengan ‘aqiidah Islaamiyyaah, ‘aqiidah kaum Ahlus Sunnah, Al Jama’ah, Al Firqotun Najiyah, Ath Thoifatul Manshuroh, Al Ghurobaa, Ahlul Hadits, As Salafiyyaah, dsb.
Syi’ah pun menjadi gerakan politik-militer untuk menguasai dunia❗💥
Mereka malahan mengaku sebagai Islaam yang benar, sebagai pembela Ahlul Bait Nabi sejati.
Dan amat membenci Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, As Salafiyyaah yang dianggap mereka mengkhianati Ali, rodhiyollohu ‘anhu.
Mereka juga tak segan bersekutu dengan siapapun yang anti Islaam, anti Arab, secara umum❗
Walau pada awalnya tidak separah ini.
Ingat, pada awalnya, ini juga dipicu oleh hasutan, pengacauan dari Yahudi yang bernama ‘Abdulloh bin Saba, dan komplotannnya❗
Ini dimulai di masa pemerintahan kholifah Utsman, rodhiyollohu ‘anhu.
Hingga ada yang termakan hasutan bahwa ‘Ali bin Abi Tholib – rodhiyollohu ‘anhu – adalah jelmaan Allaah.
Dan Abu Bakr, Umar, Utsman, rodhiyollohu ‘anhum, adalah kafir dan pencuri serta pengkhianat, dsb.
Bahkan hingga kini.
Hingga kini, jama’ah umroh, haji, dari Iran (Persia jaman kini) atau dari Iraq (Babylonia jaman kini), ada yang sampai berteriak:
“Labbaik yaa Ali, labbaik yaa Husain!”
Daripada berdzikr sesuai sunnah nabi, “Labbaik, Allohumma, labbaik!”, dalam prosesi umroh dan haji mereka.
Dan juga demikian, saat mereka memerangi Muslimiin. Mereka menyeru kepada Husain dan ‘Ali!
Misalnya di perang Ahlus Sunnah versus Syi’ah di Iraq, Suriah, Libanon, Yaman, dan sekitarnya❗
Khusus mengenai perang di Syaam, ‘Iraq dan Yaman, antara kaum Musimiin versus Yahudi dan versus Syi’ah dan sekutu mereka:
Memang diberitahukan di bisyaroh hadits, bahwa wilayah Syaam (Palestina, Suriah, Libanon, Yordania), dan wilayah Iraq serta Yaman, akan menjadi pusat perang panjang, bahkan terakhir, yang ditafsirkan ulama’, adalah mencakup kedatangan Dajjal.
Ingatlah juga, di tahun 1987 dan 1989 hingga 2015-2016 Masehi, jama’ah haji Syi’ah dari Iran sampai tega membunuhi ratusan, ribuan orang jama’ah haji dari seluruh dunia, dan juga penduduk ‘Arab Saudi.
Ratusan tahun sebelumnya, mereka juga telah tega melakukan hal yang sama. Membunuhi kaum Haji.
Hingga Syi’ah pernah berhasil mencuri Hajar Aswad.
Namun gagal berusaha membongkar kuburan nabi, shollollohu ‘alaihi wa sallam (dan kuburan Abu Bakr serta Umar, rodhiyollohu ‘anhum), dsb.
Mereka juga pernah mendirikan dinasti daulah Syi’ah, dinamai mereka Fatimiyyaah, di Mesir.
Dan di sana lah mereka pun pertama kali, memulai ritual peringatan ulang tahun atau kelahiran (Maulid) dari nabi, hingga maulid, peringatan ulang tahun dari Fatimah, Al Hasan, Al Husain, dan Raja mereka.
Satu hal (maulid) yang sejak masa rosuululloh Muhammad, shollollohu ‘alaihi wa sallam, kaum Sahabat Nabi, kaum Tabi’iin, kaum Tabi’ut Tabi’iin, hingga Imaam Yang Empat dan para muridnya, tidak pernah lakukan.
Dan ini bahkan ditirui sebagian muslimiin kini. Seperti kaum Pagan Eropa Romawi memperingati hari lahirnya. Dengan berbagai propagandanya.
Dinasti Syi’ah Mesir itu berakhir di masa pembersihan oleh pasukan pimpinan panglima Sholahuddiin Al Ayyubi.
Beliau memadamkan api dalam sekam berbentuk Syi’ah ini, sebelum memulai pemerdekaan Daarussalaam (Yerusalem), Masjidil Aqsa/Baitul Maqdis, dari penjajahan dan kedholiman Kristen Katholik Romawi, di masa-masa akhir Perang Salib.
2⃣ Bagian lain dari kaum ‘Alawiyyiin, Habaib, Sayyid, biasanya adalah kaum yang berpaham Sufi. Atau, ‘terpapar’ oleh paham, ritual, ‘aqiidah Sufi.
Bahkan sampai ada yang dikenal sebagai Mistikus, akrab dengan dunia ghoib, mistik, dsb. Dan disebut-sebut, ini juga tentu bercampur bid’ah, kalau bukan malahan, sudah musyrik.
Ingat lah, bahwa Sufi atau Tasawuf ini, dulu juga mulai membesar di ‘Iraq dan Persia, di masa kerajaan daulah ‘Abbasiyyaah tersebut.
Mereka, kaum Syi’ah dan Sufi, dari ciri-cirinya, ada saling mempengaruhi.
Itu seiring dengan masuknya pengaruh filsafat dan ritual dari buku-buku Buddha, Hindu-India, Yunani, Babylon, dsb., ke dunia ilmu dan budaya (sebagian) kaum di masa Abbasiyyaah itu.
Membentuk paham Sufi/Tasawuf. Pada akhirnya.
Bahkan hingga ada ghuluw (pengkultusan) individu (juga terhadap Ahlul Bait), paham Wihdatul Wujud (bersatunya manusia dengan Tuhan, manunggaling kawulo lan Gusti jika di Jawa, khas ajaran moksha Hindu-Buddha dan mistik), akrab dengan dunia ghoib di balik tabir (Kasyaf, Kasyif), dsb.
Daulah ‘Abbasiyyaah yang berpusat di Baghdad saat itu menjadi pusat kebudayaan terkemuka di dunia. Di Timur-tengah.
Selain daulah islamiyyaah Spanyol, Andalusia, di Eropa, keturunan Umayyaah yang bermigrasi dari Dimask, Damaskus, ke Spanyol.
Hingga tak heran ‘Abbasiyyah ini terpapar berbagai pengaruh buruk. Sebelum ‘Abbasiyyaah akhirnya hancur diserbu Mongol, justru dengan bantuan pengkhianatan kaum Syi’ah.
Di Nusantara, di Republik Indonesia, paham dan ritual Sufi atau Tasawuf, pada dasarnya cukup diterima di Ormas Islaam NU dan di (sebagian) FPI, yang notabene dimotori banyak kaum Nahdliyyiin Kultural juga, termasuk Habaibnya, walau pun tak semuanya.
Kiranya ini juga menjelaskan mengapa kaum Habaib, Sayyiid, itu berakar massa juga di kalangan Nahdliyyiin NU dan di massa NU Kultural di FPI, hingga juga di partai PPP, PKB, dsb.
Namun secara umum, Sufi atau Tasawuf tidak diterima di Ormas Islaam Ahlus Sunnah As Salafiyyaah bernama Muhammadiyah, Al Irsyaad, Persis, DDII, Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, HASMI, dsb.
Juga di kaum Ahlus Sunnah As Salafiyyiin/As Salafiyyaah, yang tak berorganisasi formal maupun yang berorganisasi formal.
WASPADAI HUBUNGAN ANTARA SUFI DENGAN SYI’AH❗
Ingatlah juga, amat banyak ritual Sufi yang dianut NU, praktis sama dengan ritual Syi’ah
Ingat ini, hingga Gus Dur menyatakan, NU itu adalah (seperti) Syi’ah tanpa Imamiyyah/keimaman!
Tak heran, karena Sufi membesar bersama dengan Syi’ah, di masa Daulah Abbasiyyaah!
Lalu menyebar!
Dan di nusantara, diterima NU!
Walaupun imam Syafi’i yang diakui NU menjadi imam Fiqhnya amat membenci Sufi (dan Syi’ah), tapi kenyataannya Sufi diterima NU!
Belum lagi, nahdliyyiin biasanya mengagungkan Ahlul Bait Nabi, termasuk Wali Songo yang syarif, sayyiid, ahlul bait.
Dari sini, Syi’ah jadi mudah masuk!!
Khususnya amaliyyaah khas Sufi yang diterima di NU, banyak serupa dengan Syi’ah!
Persamaan NU dan Syi’ah Menurut Gus Dur dkk.
https://www.google.com/amp/s/siahsesat.wordpress.com/2017/01/17/persamaan-nu-dan-syiah-menurut-gusdur-dan-para-tokoh-nu/amp/
NU: Sunni berbalut Syi’ah
https://www.kompasiana.com/amp/anamarsenall/nu-sunni-berbalut-syiah_552fbba46ea834032a8b456a
Sufi Meniru Syi’ah Atau Sebaliknya?
https://firanda.com/522-aswaja-sufi-meniru-niru-syiah-ataukah-sebaliknya.html
Dan ingat para Habib, Syarif, Sayyid ‘Alawiyyiin yang mengaku sebagai keturunan Ali RA itu memang Syi’ah, sebagiannya.
Malah menodai Ahlul Bait Nabi!
Walhasil, memang benar kata Habib Ahmad Bin Zein Al Kaff, habib anti Syi’ah, bahwa 90% Syi’ah baru di RI, MEMANG dari NU!
Ingat juga mereka, Syi’ah – yang tadinya warga NU – sudah membunuhi Ahlus Sunnah, di Sampang dan Puger!
3⃣ Lalu, sebagian dari kaum ‘Alawiyyiin itu, adalah Ahlus Sunnah, Al Jama’ah, yang sejati.
Benar-benar menegakkan As Sunnah. Menjadi kaum ulama’ yang sejati.
Sesuai as Sunnah, dari kakek moyang mereka, rosuululloh Muhammad, shollollohu ‘alaihi wa sallaam.
Juga bersama kaum Ahlul Bait lain, misalnya dari jalur al Abbas. Tanpa takhayul, bid’ah, khurofat, mistik, dsb.
Kembali ke permasalahan besar yang nyata:
Syi’ah.
Jadi, intinya, dalam hal ini, Syi’ah adalah ajaran Islaam (pada awalnya), yang lalu dikotori paham Yahudi, Majusi Persia, Mistik, dan berhubungan cukup erat dengan Sufi.
Menunggani kaum ‘Alawiyyiin, Habaib, Sayyiid. Bahkan ada yang dari ‘Alawiyyiin, Habaib, Sayyiid yang memang Syi’ah.
Dan Syi’ah biasanya menjadi amat mengkultuskan ‘Alawiyyiin, Ahlul Bait, alias yang umum juga dijuluki Habib, Sayyiid, di Nusantara dan Malayu, itu.
Namun sebenarnya, Iblis, Setan, hingga Dajjal kelak lah yang menungganginya.
Dan Syi’ah lalu menjadi gerakan politik-militer, dalam usaha mereka menguasai dunia.
Cepat atau lambat.
Di mana pun mereka berada. Bahkan ini menjadi bagian wajib dari ‘aqiidah mereka, disebut sebagai prinsip Wilayatul Faqih.
Ingat lah, di antara ciri-ciri Imaam al Mahdi versi Syi’ah alias Imaam Keduabelas mereka, adalah juga sama ciri-cirinya, dengan Dajjal al Masih, yang berniat menguasai dunia.
Di hadits, bahkan di antaranya disebutkan, bahwa Dajjal akan datang dari arah Isfahan (Asbahan), wilayah Iran kini. Bersama 70.000 orang Yahudi. Memakai Tayalisah.
Dajjal al Masih, juga berciri-ciri sama dengan Anti Christ, Anti Kristus. Musuh atau anti dari rosuululloh Isa (Yeshua) al Masih, ‘alaihis salaam, yang akan datang kembali ke Bumi untuk menghadapi Dajjal al Masih itu, memang.
Dan ciri-ciri dari Messiah atau Mossiach bagi Yahudi (Zionis), yang sedang mereka usahakan kedatangannya, juga adalah sama dengan ciri-ciri Dajjal al Masih, atau Anti Christ itu.
Kelak, rosuululloh ‘Isa bin Maryaam al Masih, ‘alaihis salaam, akan menumpas Dajjal beserta para pengikutnya.
Bersama Imaam al Mahdi yang sejati, sang imaam akhir jaman, dari keturunan sah dan terpilih para nabi dan rosul.
Dan mereka menegakkan keadilan, kemakmuran, kesejahteraan, di Bumi. Nersama kaum muslimiin sejati.
Di masa yang disebut sebagai Khilafah ‘Aala Minhaj Nubuwwah. Sebelum Kiamat. Sesudah masa Mulkan Jabriyyaan.
Kedatangan rosuululloh ‘Isa al Masih ‘alaihis salaaam dan Imaam al Mahdi sejati ini, tidak dipercayai Syi’ah, dan tidak dipercayai oleh induk Syi’ah, yakni Yahudi dan Majusi.
Yahudi jelas menolak kenabian Yeshua alias ‘Isa al Masih ‘alaihis salaam, dan menolak kenabian Muhammad, shollollohu ‘alaihi wa sallaam.
Bagaimana kah, lantas, dengan keberaan ‘Alawiyyiin di Nusantara?
Di Indonesia, mereka, kaum ‘Alawiyyiin, ‘Alawiyyaah, Habaib, Sayyiid, ini biasanya datang dari Yaman.
Ratusan tahun lalu.
Bersamaan juga dengan golongan Arab Yaman yang non Habaib, yang biasanya umum disebut sebagai:
Golongan Masyaikh atau al Jama’ah.
Mereka dulu bersama-sama mendirikan Ormas Islaam tertua Nusantara, bernama Jam’iyyaatul Khoir, 1901 Masehi.
Dengan syaikh Ahmad Surkati al Anshori, ‘Arab-Sudan, sebagai syaikhnya. Seorang Ahlus Sunnah, as Salafiyyiin.
Di antara anggotanya, adalah K. H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan K. H. Hasyim ‘Asy’ary, pendiri utama Nahdlotul Ulama’. Mereka berdua, keturunan Wali Songo.
Di kurun waktu yang sama, juga ada Sarekat Islam, 1903, dengan tokoh H. O. S. Tjokroaminoto, seorang Sayyiid.
Setelah Jam’iyyatul Khoir ini berpisah karena ketidaksepakatan internal, maka para mantan anggotanya dapat dikatakan langsung mendirikan Muhammadiyah (1912), Al Irsyaad (1914), Persis (1923), Nasy’iyyatul ‘Aisyiyah (1926), hingga Nahdlotul Ulama’ (1926).
Hingga nama-nama Ormas Islaam besar ini, juga di kemudian hari menginspirasikan, mempengaruhi, bahkan cukup dapat dikatakan melahirkan Al Washliyah (1930), Mathla’ul Anwar (1936), Nahdlotul Wathon (1954), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (1967), Hidayatullah (1973), Wahdah Islamiyah (1988), Front Pembela Islam (1998), dst.
Di antara mereka, di antara ‘Alawiyyiin (Habaib, Sayyiid), dan golongan Non ‘Alawiyyiin (Masyaikh, Jama’ah), namun, biasanya ada sedikit jarak, tabir.
Walau pun tetap cukup baik berhubungan, secara umum.
Yang ‘Alawiyyiin biasanya ‘menganggap dirinya’ lebih berderajat tinggi. Dan tidak semua kaum non ‘Alawiyyiin menyetujui ini.
Misalnya, dari yang Habaib/’Alawiyyyiin, jarang atau tidak mau menikahkan diri atau keturunannya dengan golongan Non Habaib.
Dari etnis manapun.
Termasuk tidak mau menikahkan keturunannya dengan keturunan Masyaikh/Jama’ah, atau – dengan kaum Ahuwal, alias ‘saudara ibu’, alias pribumi Nusantara.
Biasanya.
Pribumi, disebut mereka demikian, sebagai Ahuwal, saudara ibu, karena banyak sekali keturunan Yamani ini – utamanya dari golongan Jama’ah/Masyaikh – yang dulu kala menikahi kaum perempuan pribumi Nusantara.
Kebanyakan dari mereka datang dari Yaman, tidak membawa istri. Dan akhirnya, pun, memperistri kaum pribumi Nusantara.
Namun mereka semuanya, umumnya, amat membela wilayah Nusantara, negaranya, dan kaum Muslimiinnya. Juga di Malayu.
Banyak pahlawan nasional, pendiri negara RI, penggerak kemerdekaan RI, dsb., adalah dari keturunan ‘Arab Yamani ini.
Baik dari golongan ‘Alawiyyiin atau golongan Masyaikh/Jama’ah.
Hingga pemerintah Orde Lama menyatakan dengan tegas bahwa semua keturunan Arab Yamani, di Nusantara, otomatis menjadi WNI.
Setelah kemerdekaan RI. Presiden Sukarno pribadi mengusahakannya, parlemen menyetujuinya.
Di antaranya tentu kita ingat jasa kaum keturunan ‘Arab Yamani dari Bani Marta’, menampung dan merawati Sukarno di rumah mereka di Jl. Pengangsaan Timur 56, mewakafkan tanah untuk sekolah Al Azhar yang dibangun Buya HAMKA.
Juga diplomasi dari A. R. Baswedan (Al ‘Irsyaad) mengusahakan pengakuan Mesir terhadap proklamasi.
Semangat Habib Kwitang yang mendukung penuh pendirian Republik Indonesia.
Usaha Habib Muthohhar yang mengarang lagu perjuangan berjudul Syukur. Dan sebagainya.
Lain dengan para keturunan Cina (Tionghoa) dan India, yang terbukti sering dan mayoritasnya lebih memihak penjajah.
Termasuk saat Clash II, pihak Cina di Yogyakarta memihak Inggris-Belanda, hingga Sultan mengharomkan tanah Yogya dimiliki keturunan Cina.
Walau pun di masa perang Jawa Diponegoro, diketahui ada saudagar Cina yang membantui perlawanan pasukan sang pangeran terhadap Belanda.
Walau pun demikian, ada juga kaum ‘Alawiyyiin yang mau menikah dengan Non ‘Alawiyyiin. Bahkan jika dari kaum perempuannya.
Atau jika dari lelakinya, untuk istri yang kedua, ketiga, keempat. Tetapi yang demikian, tak banyak. Tak umum.
Demikian pemaparan hubungan kesemuanya.
Yang perlu diingat, adalah ini memang masa Akhir Jaman.
Menurut para ulama’, separuh lebih tanda bisyaroh hadits menjelang kedatangan Dajjal al Masih bersama Syi’ah, Yahudi, Majusi, Kafiruun, Munafiquun, dsb., dari manusia dan jin, sudah terjadi.
Waspadailah mereka.
Jangan salah memilih barisan.
Wallohua’lam. Wastaghfirulloh. Wa laa ilaa ha illalloh.
– PAGI (Perkumpulan Administrator Grup Islaam)


