Oleh: Dr. Basa Alim Tualeka, M.Si
Ahli dan Pakar Kebijakan Publik
I. Pendahuluan: Transformasi Tata Kelola Ekonomi Nasional
Langkah Presiden Prabowo Subianto dalam menggagas pembentukan Danantara sebagai super holding BUMN merupakan tonggak penting dalam reformasi tata kelola ekonomi nasional. Kebijakan ini menunjukkan arah baru: pengelolaan aset negara tidak lagi dilakukan secara parsial dan sektoral, tetapi terintegrasi, profesional, dan berbasis kinerja.
Transformasi ini bukan hanya relevan di tingkat pusat, tetapi juga menjadi referensi strategis bagi pemerintah daerah. Dalam konteks ini, Jawa Timur sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar nasional memiliki urgensi untuk mengadopsi pendekatan serupa melalui pembentukan lembaga khusus yang mengelola BUMD dan sektor ekonomi strategis secara terpadu.
II. Potensi Besar dan Problem Struktural BUMD Jawa Timur
Jawa Timur memiliki puluhan BUMD yang bergerak di berbagai sektor: perbankan, energi, perdagangan, pangan, hingga jasa. Secara teoritis, BUMD ini seharusnya menjadi pilar utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus motor penggerak ekonomi rakyat.
Namun realitas menunjukkan bahwa sebagian BUMD belum mampu berkontribusi optimal. Beberapa persoalan utama yang sering ditemukan antara lain:
Lemahnya tata kelola dan manajemen
Minimnya profesionalisme dalam penunjukan direksi
Intervensi politik yang tinggi
Tidak adanya arah bisnis yang jelas
Rendahnya inovasi dan adaptasi terhadap pasar
Dalam perspektif Public Administration, kondisi ini mencerminkan kegagalan dalam fungsi steering (pengarahan) dan rowing (pelaksanaan), di mana pemerintah belum mampu menjadi pengarah yang efektif bagi entitas bisnis yang dimilikinya.
III. Konsep “Danantara Jawa Timur”: Solusi Sistemik
Menghadapi persoalan tersebut, diperlukan solusi yang bersifat sistemik, bukan parsial. Salah satu langkah strategis adalah membentuk “Danantara Jawa Timur”—sebuah badan holding daerah yang mengonsolidasikan seluruh BUMD dan unit usaha strategis dalam satu kendali manajemen profesional.
Gubernur Khofifah Indar Parawansa memiliki peran sentral untuk mendorong lahirnya kebijakan ini sebagai bagian dari reformasi struktural ekonomi daerah.
Konsep ini bertumpu pada prinsip utama:
Integrasi
Efisiensi
Profesionalisme
Akuntabilitas
Orientasi pasar
Dengan adanya holding ini, seluruh BUMD tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi berada dalam satu orkestrasi besar yang terarah.
IV. Pandangan Ahli: Mengapa Holdingisasi Penting?
Dalam kajian Corporate Governance, holdingisasi dianggap sebagai strategi efektif untuk meningkatkan nilai perusahaan dan efisiensi operasional. Para pakar seperti Michael Porter dalam teori keunggulan kompetitif menekankan pentingnya integrasi rantai nilai (value chain integration) untuk meningkatkan daya saing.
Sementara itu, dalam perspektif Political Economy, keberadaan holding mampu meminimalisir konflik kepentingan antara aktor politik dan bisnis, karena pengelolaan dilakukan secara lebih profesional dan transparan.
Pakar kebijakan publik juga menilai bahwa model ini memungkinkan:
Pengambilan keputusan yang lebih cepat
Pengawasan yang lebih ketat
Pengelolaan risiko yang lebih baik
Negara-negara seperti Singapura dengan Temasek Holdings dan Malaysia dengan Khazanah Nasional telah membuktikan keberhasilan model ini dalam mengelola aset negara secara produktif.
V. Fungsi Strategis Danantara Jawa Timur
Jika dibentuk, Danantara Jawa Timur harus memiliki fungsi yang jelas dan kuat, antara lain:
1. Konsolidasi dan Restrukturisasi BUMD
Menggabungkan BUMD yang memiliki bidang usaha serupa untuk menghindari duplikasi dan meningkatkan efisiensi.
2. Penentuan Arah Investasi
Menentukan sektor prioritas yang memiliki dampak besar terhadap ekonomi daerah.
3. Penguatan Modal dan Aset
Mengoptimalkan aset daerah agar produktif dan menghasilkan keuntungan.
4. Pengawasan dan Evaluasi
Menerapkan sistem Key Performance Indicators (KPI) yang ketat untuk setiap BUMD.
5. Mendorong Inovasi dan Transformasi Digital
Mengadaptasi teknologi dalam operasional dan pelayanan.
VI. Sektor Prioritas: Fokus pada Dampak Nyata
Dalam implementasinya, Danantara Jawa Timur harus fokus pada sektor-sektor strategis yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat:
1. Pangan dan Pertanian
Sebagai lumbung pangan nasional, Jawa Timur harus memperkuat hilirisasi dan distribusi.
2. Energi
Mengembangkan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada energi konvensional.
3. Logistik dan Perdagangan
Membangun sistem distribusi yang efisien hingga ke pelosok daerah.
4. Keuangan Daerah
Memperkuat peran bank daerah dalam mendukung UMKM.
5. Industri dan Manufaktur
Mendorong industrialisasi berbasis potensi lokal.
VII. Strategi Implementasi: Dari Wacana ke Aksi
Agar gagasan ini dapat terwujud, diperlukan langkah konkret dan terukur:
1. Penyusunan Regulasi (Perda)
Sebagai dasar hukum pembentukan holding.
2. Audit Menyeluruh BUMD
Menilai kesehatan keuangan dan kinerja setiap BUMD.
3. Rekrutmen Profesional
Mengutamakan kompetensi dan integritas dalam pengisian jabatan.
4. Penerapan Good Governance
Mengacu pada prinsip transparansi, akuntabilitas, dan responsibilitas.
5. Kemitraan Strategis
Membuka peluang kerja sama dengan sektor swasta dan investor.
VIII. Risiko dan Tantangan
Tentu, pembentukan Danantara Jawa Timur tidak lepas dari tantangan, antara lain:
Resistensi dari elite politik
Kepentingan kelompok tertentu
Keterbatasan SDM profesional
Adaptasi terhadap sistem baru
Namun, dalam perspektif Change Management, setiap transformasi besar memang membutuhkan keberanian dan komitmen kuat dari pimpinan.
IX. Dampak Positif: Dari Beban Menjadi Kekuatan
Jika berhasil, maka manfaat yang dapat dirasakan sangat besar:
BUMD menjadi profit center, bukan cost center
PAD meningkat signifikan
Lapangan kerja bertambah
Ekonomi daerah tumbuh lebih cepat
Kesejahteraan masyarakat meningkat
Lebih dari itu, Jawa Timur bisa menjadi role model nasional dalam pengelolaan ekonomi daerah.
X. Penutup: Kepemimpinan dan Legacy
Sejarah mencatat bahwa perubahan besar selalu lahir dari keberanian mengambil keputusan strategis. Pembentukan Danantara di tingkat nasional adalah contoh nyata bagaimana negara berani melakukan lompatan besar.
Kini, giliran Jawa Timur untuk mengambil langkah serupa. Dengan kepemimpinan yang visioner, komitmen terhadap reformasi, dan keberanian menghadapi risiko, pembentukan “Danantara Jawa Timur” bukan hanya sebuah pilihan, tetapi sebuah keharusan.
Gubernur tidak cukup hanya menjadi administrator, tetapi harus menjadi arsitek ekonomi daerah.
Jika ini dilakukan, maka Jawa Timur tidak hanya akan menjadi provinsi besar, tetapi juga provinsi yang kuat, mandiri, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.
Jawa Timur harus berubah.
Dari potensi menjadi kekuatan nyata.
Dari beban menjadi mesin kemakmuran.


