Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Di sebuah negeri bernama Madyan, hiduplah suatu kaum yang diberi kelapangan rezeki dan kemakmuran. Negeri itu terletak di jalur perdagangan yang ramai. Kafilah-kafilah singgah, pasar-pasar dipenuhi suara tawar-menawar, dan timbangan menjadi alat utama dalam jual beli. Namun di balik kemakmuran itu, tersembunyi kebiasaan buruk yang merusak: kecurangan dalam timbangan dan takaran.
Allah mengutus seorang nabi dari kalangan mereka sendiri, yaitu Syuaib ‘alaihissalam. Ia dikenal sebagai pribadi yang lembut tutur katanya, jujur, dan bijaksana. Dengan penuh kasih, Nabi Syuaib menyeru kaumnya agar menyembah Allah semata dan meninggalkan kecurangan dalam perdagangan.
Beliau berkata kepada mereka agar menyempurnakan takaran dan timbangan, tidak mengurangi hak orang lain, serta tidak membuat kerusakan di muka bumi. Seruannya bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang keadilan sosial dan kejujuran dalam muamalah. Sebab agama bukan hanya di masjid, tetapi juga di pasar dan dalam setiap transaksi.
Namun kaumnya menolak. Mereka berkata dengan nada mengejek, “Wahai Syuaib, apakah salatmu menyuruh kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami atau melarang kami memperlakukan harta kami sesuka hati?” Mereka merasa aturan Nabi Syuaib mengancam keuntungan mereka. Bagi mereka, sedikit kecurangan dianggap biasa selama mendatangkan laba.
Padahal, kecurangan kecil yang dilakukan terus-menerus akan meruntuhkan kepercayaan dan menghancurkan keberkahan. Timbangan yang tidak adil bukan sekadar kesalahan ekonomi, melainkan bentuk kezaliman terhadap sesama.
Nabi Syuaib tidak berhenti berdakwah. Dengan sabar ia mengingatkan bahwa rezeki yang halal, meski sedikit, lebih baik dan lebih berkah daripada harta banyak yang diperoleh dengan cara curang. Ia memperingatkan mereka tentang azab Allah jika tetap membangkang.
Sebagian kecil orang beriman menerima seruannya, tetapi mayoritas tetap keras kepala. Bahkan mereka mengancam akan mengusir Nabi Syuaib dan para pengikutnya dari negeri Madyan jika tidak kembali kepada ajaran lama.
Akhirnya, setelah peringatan demi peringatan diabaikan, datanglah azab Allah. Kaum Madyan ditimpa gempa yang dahsyat dan suara keras yang mengguncangkan. Negeri yang dahulu makmur itu seketika menjadi sunyi dan hancur. Mereka binasa dalam keadaan tertelungkup di rumah-rumah mereka.
Adapun Nabi Syuaib dan orang-orang beriman diselamatkan oleh Allah. Tegaklah keadilan yang dahulu mereka remehkan. Timbangan yang pernah mereka curangi menjadi saksi atas kezaliman mereka sendiri.
Kisah Nabi Syuaib mengajarkan bahwa keadilan dalam timbangan bukan perkara kecil. Ia adalah simbol kejujuran, amanah, dan tanggung jawab. Allah mencintai hamba yang berlaku adil, bahkan dalam perkara yang tampak sederhana seperti menimbang barang.
Dari pasar Madyan kita belajar bahwa keberkahan rezeki tidak diukur dari banyaknya keuntungan, tetapi dari kejujuran dalam mendapatkannya. Sebab ketika keadilan ditegakkan, rahmat Allah turun. Dan ketika kezaliman merajalela, kehancuran menjadi akibatnya. (za).
Wallahu A’lam Bissowab


