Google search engine
HomeEkbisNilai Tukar Petani Tertinggi di Pulau Jawa

Nilai Tukar Petani Tertinggi di Pulau Jawa

SURABAYA-kanalsembilan.com (18/7/2025)

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur (BPS Jatim) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) untuk bulan Juni 2025 naik hingga 2,75 persen, kenaikan ini merupakan yang tertinggi se-Pulau Jawa. Pernyataan tersebut, disampaikan Kepala BPS Jatim Zulkipli melalui Berita Resmi Statistik (BRS) pada Jumat (18/7/2025).

“Kenaikan harga cabai rawit, tomat dan bawang merah merupakan subsektor hortiklutura yang menjadi penyumbang kenaikan NTP pada Juni 2025 yakni 2,75 persen. Hal ini menjadikannya yang tertinggi di Pulau Jawa untuk penutup semester pertama tahun 2025,” ujar Zulkipli.

Untuk Juni 2025, Zulkipli mengungkap, BPS Jatim mencatat NTP sebesar 112,39, atau naik dari 109,38 pada Mei. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa secara umum, petani di Jawa Timur menikmati peningkatan daya beli karena harga jual hasil pertanian tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya yang mereka keluarkan.

“Kenaikan harga komoditas hortikultura sangat tajam bulan ini. Harga cabai rawit naik lebih dari 25 persen, tomat di atas 30 persen, dan bawang merah dua digit. Ini mendongkrak pendapatan petani,”ungkapnya.

Hortikultura dan Tanaman Pangan Jadi Penopang

Oleh karena komoditas hortikultura tersebut yang menjadi faktor pengaruh NTP di Jatim, maka Zulkipli menyebut, hasil rekapan data BPS Jatim. Dikatakannya, berdasarkan sektoral pada subsektor hortikultura telah tercatat kenaikan NTP paling signifikan, yakni 13,68 persen, menjadi 141,68. Sementara itu, subsektor tanaman pangan juga tumbuh 2,37 persen menjadi 110,51.

“Adapun sektor lainnya, seperti perkebunan rakyat menurun -1,35 persen, peternakan menurun -0,43 persen, dan perikanan menurun -1,05 persen justru mengalami penurunan,” sebut Zulkipli.

Kenaikan NTP itu, menurut Zulkipli, sejalan dengan meningkatnya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 3,34 persen, yang berasal dari lonjakan harga beberapa komoditas kunci.

“Komoditas utama yang menyumbang kenaikan It antara lain gabah dengan kenaikan 3,65 persen, cabai rawit 25,89 persen, dan tomat yang melonjak lebih dari 32 persen,” ucap Zulkipli.

“Gabah menyumbang andil paling besar terhadap It, yakni 1,44 persen, diikuti cabai rawit sebesar 0,88 persen dan bawang merah sebesar 0,46 persen,” sambungnya.

Selain mengukur lt, Zulkipli menuturkan, BPS Jatim juga mengukur indeks harga yang dibayar petani (Ib). Dibeberkannya, lb Jatim saat ini juga mengalami kenaikan tipis, yakni 0,57 persen.

“Hal ini mencerminkan naiknya pengeluaran petani baik untuk keperluan rumah tangga maupun sarana produksi,” tuturnya.

Beberapa komoditas, Zulkipli mengatakan, yang mendorong kenaikan Ib antara lain, tomat sayur naik 28,68 persen, bakalan sapi naik 4,03 persen, cabai rawit naik 30,16 persen, dan bawang merah naik 6,67 persen.

Kepala BPS Jatim, Dr Ir Zulkipli, M.Si. (ist).

“Namun, karena laju kenaikan It lebih tinggi dari Ib, NTP tetap meningkat secara keseluruhan,” ujarnya.

NTUP di Jatim

Tak hanya mengukur NTP, Zulkipli menerangkan, BPS Jatim juga mengukur Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) di Jawa Timur. Ia menyebut, bahwa NTUP di Jatim sama sama halnya dengan NTP yang juga mengalami kenaikan dan mencatatkan peningkatan sebesar 3,10 persen, menjadi 116,94.

Ia menerangkan, kenaikan NTUP ini menandakan, usaha tani di Jawa Timur semakin layak secara ekonomi, karena harga hasil pertanian tetap lebih tinggi dibandingkan biaya produksi.

“NTUP digunakan untuk melihat apakah usaha tani masih menguntungkan. Ketika NTUP naik, berarti hasil usaha masih menutup biaya modal dan produksi,” terang Zulkipli.

Kenaikan NTUP di Jatim ini, dipaparkan Zulkipli, juga mengakibatkan Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) juga mengalami kenaikan. “Namun kenaikan BPPBM tersebut tidak sebesar It, sehingga NTUP tetap meningkat,” paparnya.

NTP Jatim Tertinggi 

Dikarenakan hasil pengukuran baik NTP maupun NTUP sama-sama mengalami kenaikan, Zulkipli menyimpulkan, pada Juni 2025 ini, jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa, Jawa Timur mencatatkan kenaikan NTP bulanan tertinggi, yakni 2,75 persen.

“Kemudian diusul oleh, Jawa Barat naik +1,85 persen, Jawa Tengah naik +1,83 persen, dan Banten naik +0,18 persen. Sementara DIY justru mengalami penurunan NTP sebesar -0,37 persen,” kata Zulkipli.

“Tren ini menunjukkan bahwa petani Jawa Timur mendapat momentum positif di tengah fluktuasi harga, terutama karena dukungan dari sektor hortikultura,” tambahnya.

Walaupun secara umum angka NTP meningkat dan mencerminkan daya beli petani yang membaik, Zulkipli tetap mengingatkan pentingnya stabilisasi harga komoditas, terutama pangan, agar tidak terjadi lonjakan yang justru merugikan konsumen atau petani kecil yang menjadi pembeli.

“Kenaikan harga memang baik untuk produsen, tapi perlu dijaga keseimbangannya agar tidak menjadi beban bagi petani lain yang juga konsumen, seperti peternak atau nelayan,” pungkasnya.(za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments