SURABAYA-kanalsembilan.com (13 Oktober 2026)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Universitas Airlangga (UNAIR) mengajak mahasiswa memahami peluang dan risiko investasi aset digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi keuangan. Edukasi ini dilakukan melalui kegiatan Digital Financial Literacy 2026 di Aula Fajar Notonegoro, Kampus B UNAIR, Surabaya, Senin (12/10/2026).
Mengusung tema “Dari Aset Nyata ke Aset Digital, Kenalan dengan Tokenisasi dan Peluang di Indonesia”, kegiatan tersebut membahas perkembangan tokenisasi dan aset kripto, sekaligus mendorong mahasiswa agar lebih kritis dalam mengambil keputusan keuangan.
Pelaksana Harian Kepala Kantor OJK Provinsi Jawa Timur, Asep Hikayat, menegaskan bahwa kolaborasi berbagai pihak diperlukan untuk memperluas literasi keuangan sekaligus melindungi masyarakat dari risiko transaksi digital.
“Kolaborasi pentahelix antara OJK, perbankan, akademisi, dan media menjadi kunci utama dalam memperluas jangkauan edukasi serta melindungi masyarakat dari risiko keuangan digital,” ujarnya.
Menurut Asep, pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan perlu terus diperkuat seiring berkembangnya inovasi di sektor keuangan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak.
Dari kalangan akademisi, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya UNAIR, Prof. Dr. Ardianto, S.E., Ak., M.Si., CMA., CA., menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membekali mahasiswa menghadapi perubahan teknologi.
Ia menilai, kampus tidak cukup hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga harus membangun kemampuan berpikir kritis agar mahasiswa mampu menyikapi perkembangan teknologi secara tepat.
“Perguruan tinggi tidak sekadar berperan sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi juga benteng dalam membangun kesadaran kritis mahasiswa untuk menghadapi disrupsi teknologi di era modern,” katanya.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, mengingatkan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menentukan arah perekonomian Indonesia pada masa mendatang.
“Mahasiswa hari ini adalah pemimpin masa depan. Apakah siap adik-adik semua menjadi pemimpin masa depan? Mari kita gelorakan visi yang besar untuk Indonesia, di mana pada tahun 2045 kita akan menjadi lima besar ekonomi dunia,” ujar Adi.
OJK Ingatkan Prinsip 2L dalam Investasi
Dalam kegiatan tersebut, OJK juga mengingatkan pentingnya memahami aspek legalitas dan risiko sebelum berinvestasi pada aset digital. Kemajuan teknologi tidak serta-merta membuat suatu produk investasi aman atau menjamin keuntungan bagi investor.
Masyarakat perlu mengenali karakteristik produk, memahami potensi kerugian, serta memastikan legalitas penyelenggara sebelum menempatkan dana. OJK menekankan prinsip 2L, yakni legal dan logis, sebagai pedoman dalam menilai tawaran investasi.
Aspek legal mengharuskan masyarakat memeriksa legalitas produk atau penyelenggara sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara itu, aspek logis berarti mencermati kewajaran imbal hasil yang ditawarkan. Janji keuntungan tinggi dalam waktu singkat tanpa penjelasan yang masuk akal patut diwaspadai.
Penerapan prinsip tersebut penting untuk membantu masyarakat menghindari penawaran investasi ilegal maupun praktik penipuan yang memanfaatkan popularitas aset digital.
Literasi Keuangan Perlu Mengimbangi Inklusi
Data yang disampaikan dalam kegiatan itu menunjukkan indeks inklusi keuangan Indonesia mencapai 93,61 persen, sedangkan indeks literasi keuangan berada pada level 69,57 persen.
\
Data tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat agar akses terhadap layanan keuangan diikuti kemampuan untuk memilih dan menggunakan produk keuangan secara tepat.
Selain memahami risiko investasi, mahasiswa juga didorong membangun kebiasaan mengelola keuangan secara sehat. Salah satunya dengan menyisihkan setidaknya 10 persen dari penghasilan untuk tabungan atau kebutuhan keuangan masa depan.
Kebiasaan menyisihkan penghasilan secara rutin diharapkan dapat membantu membangun ketahanan finansial, terutama di tengah semakin beragamnya pilihan produk dan instrumen investasi.
Melalui Digital Financial Literacy 2026, OJK dan UNAIR berharap mahasiswa tidak hanya mengikuti tren aset digital, tetapi juga mampu menilai manfaat, legalitas, serta risikonya secara kritis.
Dengan literasi keuangan yang memadai, generasi muda diharapkan dapat memanfaatkan inovasi keuangan secara bertanggung jawab dan mengambil keputusan investasi berdasarkan informasi yang benar, bukan sekadar mengikuti tren atau tergiur janji keuntungan. (za).


