Google search engine
HomeEkbisPawukon Jewelry, Perhiasan Berbasis Budaya Lokal Karya Mahasiswa ITS

Pawukon Jewelry, Perhiasan Berbasis Budaya Lokal Karya Mahasiswa ITS

SURABAYA-kanalsembilan.comĀ  (30 April 2026)

Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan kreativitasnya melalui Pawukon Jewelry Collection, inovasi koleksi perhiasan berupa kalung dan anting yang memadukan teknik material modern dengan nilai astrologi Jawa kuno (Wuku).

Melalui karyanya, Bhirawa Kusuma Wijaya menghadirkan koleksi perhiasan premium yang terinspirasi dari sistem penanggalan Jawa sebagai identitas budaya lokal.

Bermula dari tugas kuliah, mahasiswa Departemen Desain Produk Industri (Despro) ITS ini menyampaikan bahwa Pawukon Jewelry Collection lahir dari pendekatan metode material-driven design. Dalam proyek tersebut, setiap mahasiswa diminta melakukan riset eksplorasi dan eksperimen material yang berbeda, hingga ia memilih mengeksplorasi teknik oksidasi untuk memunculkan lapisan patina biru pada tembaga.

Pemuda asal Ponorogo itu mengungkapkan bahwa nama Pawukon sendiri diambil dari sistem penanggalan Jawa dan Bali kuno yang hingga kini masih dikenal oleh Masyarakat setempat. Menurutnya, tema tersebut dipilih karena belum banyak diangkat dalam desain perhiasan modern.

ā€œZodiak Barat sudah sering digunakan dalam perhiasan, sehingga kami mengangkat zodiak Jawa kuno asli Indonesia ke dalam bentuk perhiasan,ā€ ujarnya.

Lebih lanjut, mahasiswa yang akrab disapa Bhirawa ini memilih Wuku Watugunung sebagai inspirasi utama dari inovasinya di proyek kali ini. Keputusan itu lahir karena wuku tersebut merupakan wuku dirinya sendiri. ā€œKoleksi ini mengusung konsep storytelling yang merepresentasikan karakter dan perjalanan hidup seseorang,ā€ jelasnya.

Desain Watugunung memuat tiga elemen utama, yakni Lakuning Rembulan, bunga Wijaya Kusuma, dan Sang Hyang Antaboga. Lakuning Rembulan menggambarkan pribadi yang mudah berbaur dan membawa kebahagiaan, bunga Wijaya Kusuma melambangkan proses bertumbuh, sedangkan Sang Hyang Antaboga berbentuk naga yang merepresentasikan semangat terhadap inovasi dan seni.

Ketiga elemen tersebut direpresentasikan oleh Bhirawa melalui perhiasan inovasinya. Sang Hyang Antaboga diwujudkan lewat detail kepala naga bermahkota dari emas 18 karat. Dengan sentuhan high polished, elemen ini menonjolkan kilau mewah sebagai simbol semangat inovasi dan seni, sekaligus memberikan kontras visual yang elegan pada perhiasan.

Pada elemen bunga Wijaya Kusuma, Bhirawa menggunakan mutiara air tawar yang melambangkan proses pertumbuhan. Kilau alami mutiara ini berfungsi menyeimbangkan tekstur rustic dari material tembaga, memberikan kesan anggun namun tetap ringan dan nyaman saat digunakan.

Terakhir, Lakuning Rembulan divisualisasikan melalui Dancing Stone dengan mata berlian moissanite. Batu ini dirancang untuk terus bergetar mengikuti gerakan tubuh pengguna, menciptakan efek kinetik yang melambangkan karakter rembulan yang dinamis, dan membawa kebahagiaan.

Untuk menghasilkan warna khas pada tembaga tersebut, ia menerapkan teknik blue patina copper melalui metode ammonia fuming. Proses ini dilakukan dengan memicu oksidasi terkontrol pada permukaan tembaga selama 24 jam, kemudian dilanjutkan dengan pengeringan dan tahap finalisasi agar aman dan nyaman di kulit.

Menariknya, menurut Bhirawa, patina yang umumnya dianggap sebagai cacat material, justru diubah menjadi nilai artistik utama. ā€œPatina sering dianggap sebagai kerusakan material, namun dalam karya ini justru dimanfaatkan sebagai elemen estetika yang bernilai artistik,ā€ imbuh mahasiswa angkatan 2023 ini.

Dalam proses pengerjaannya, ia mengaku menghadapi tantangan pada eksperimen warna, keamanan material saat bersentuhan dengan kulit, hingga ketepatan detail desain. Proses pengembangan Pawukon dilakukan selama satu semester, termasuk riset material, pembuatan prototipe, dan proses produksi handmade.

Bhirawa juga menyampaikan bahwa Departemen Desain Produk Industri ITS turut mendukung pengembangan karya tersebut melalui fasilitas ruang kerja, peralatan, hingga pameran yang memperkenalkan hasil karya mahasiswa kepada publik.

Ke depan, ia berharap Pawukon dapat terus dikembangkan menjadi produk komersial dan menjangkau pasar yang lebih luas. ā€œHarapannya, lebih banyak orang yang mengenal karya ini, sekaligus budaya Indonesia dan ilmu zodiak kuno yang mulai jarang diketahui,ā€ tutupnya.

Inovasi yang dikembangkan mahasiswa ITS ini sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Utamanya pada poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui industri kreatif berbasis kearifan lokal, serta poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui teknik material inovatif. Selain itu, juga poin ke-11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan melalui pelestarian warisan budaya Jawa dalam desain modern. (za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments