Google search engine
HomeUncategorizedPertama di Indonesia, Dosen ITS Terpilih sebagai ISC Fellow 2026

Pertama di Indonesia, Dosen ITS Terpilih sebagai ISC Fellow 2026

Reporter: Nailah RIfdah Zakiyah
Redaktur: Zainuddin Qodir

SURABAYA-kanalsembilan.com (23 Oktober 2026)

Prestasi membanggakan dari sivitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menorehkan pengakuan di kancah internasional. Kali ini, dosen Departemen Kimia ITS Sri Fatmawati Ssi MSc PhD berhasil menjadi ilmuwan Indonesia pertama yang terpilih sebagai International Science Council (ISC) Fellow 2026.

ISC atau Dewan Sains Internasional merupakan organisasi sains global yang menghimpun sekitar 250 organisasi ilmiah dari berbagai negara. Salah satu bentuk pengakuannya adalah ISC Fellowship, penghargaan tertinggi yang diberikan kepada ilmuwan dan insinyur atas kontribusi luar biasa mereka dalam menghubungkan sains dengan masyarakat.

Perempuan yang akrab disapa Fatma tersebut mengungkapkan bahwa penghargaan ini merupakan hasil dari perjalanan panjang yang melibatkan penelitian fundamental, kolaborasi, inovasi, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Berangkat dari potensi biodiversitas Indonesia yang begitu kaya, ia berupaya mengolah kekayaan tersebut menjadi pengetahuan ilmiah yang mampu mendapat pengakuan di tingkat internasional.

“Kita tidak harus meninggalkan akar lokal untuk menjadi relevan secara global,” tegasnya.

Berangkat dari upaya tersebut, Fatma menekuni penelitian bahan alam, senyawa bioaktif, pengobatan tradisional, dan kimia medisinal yang menghasilkan publikasi internasional serta berbagai kekayaan intelektual.

Ia meyakini penghargaan ini merupakan buah konsistensinya dalam mengolah kekayaan hayati dan pengetahuan tradisional Indonesia menjadi bukti ilmiah dan inovasi.

“Keberhasilan riset tidak cuma diukur lewat publikasi, tetapi pada manfaatnya bagi masyarakat,” ungkap perempuan kelahiran 1980 tersebut.

Sebagai Direktur Indonesian Herbal and Horticultural Science Technology Park (TSTH2), Fatma melihat pencapaian ini sebagai peluang untuk memperluas kolaborasi dalam penelitian biodiversitas, genomik, metabolomik, serta pengembangan produk herbal dan hortikultura.

Ia juga berharap kolaborasi tersebut dapat mendorong pengembangan kekayaan biodiversitas Indonesia sekaligus memperkuat kapasitas peneliti muda.

Terpilihnya Fatma sebagai ISC Fellow 2026 diharapkan dapat membuka pintu untuk memperluas kiprah ITS dalam jejaring sains internasional.

Ia berharap jejaring ISC Fellowship dapat membuka peluang kolaborasi riset, pertukaran peneliti dan mahasiswa, serta proyek lintas negara yang memperkuat peran Indonesia dalam diskusi sains dunia.

“Saya berharap semakin banyak ilmuwan kita hadir untuk memberikan perspektif dan andil dalam sains global,” harap alumnus doktoral Kyushu University, Jepang tersebut.

Perempuan asal Madura ini berpegang teguh pada prinsip Science is a way of humanity, di mana sains bukan hanya soal kemajuan, tetapi juga manfaat dan kolaborasi untuk berkembang bersama. Kegigihan Fatma dalam mengembangkan riset ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan poin ke-17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (nai/za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments