JAKARTA-mediadakwah.id
Sudah lebih dari 50 tahun mengirimkan dai-dai ke berbagai penjuru tanah air, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), masih kekurangan dai. Permintaan tenaga dai (sarjana dakwah) jauh melebihi lulusan yang dihasilkan. Tahun 2025 ini, DDII meluluskan 189 sarjana dakwah tingkat S1. Permintaan dai dari berbagai daerah mencapai 450 orang.
KabarĀ itu disampaikan oleh Ketua Umum DDII Dr Adian Husaini dalam acara Wisuda Sarjana S1 Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir, di Kampus Pusat STID M Natsir, Bekasi Jawa Barat. Hadir dalam acara tersebut Wakil Menteri Agama Dr. Romo Muhammad Syafiāi, Dr. Dadan Suherdiana, wakil Kopertais Jawa Barat, dan segenap jajaran pimpinan DDII.
Kampus STID M Natsir sudah berumur 26 tahun. Ia telah meluluskan lebih dari 1200 dai yang kini tersebar di seluruh Indonesia. Setiap tahun, rata-rata STID M Natsir menerima mahasiswa baru sekitar 200 orang. Mereka dididik selama 6 tahun. Dua tahun di Asrama, dua tahun di Masjid, dan 2 tahun (setelah lulus S1) diterjunkan ke masyarakat, khususnya di daerah-daerah tertinggal, terluas, dan termiskin (3-T).
DDII mengakui adanya keterbatasan fasilitas untuk menerima lebih banyak mahasiswa. āTahun ini kami hanya bisa menerima 80 mahasiswi baru, padahal yang mendaftar ada 120 lebih. Itu pun sudah kami paksakan. Karena semua mahasiswa harus berasrama dan diberikan beasiswa,ā kata Ketum DDII pada mediadakwah.id.
Para mahasiswa kader dakwah DDII itu dilatih hidup sederhana. Uang makan mereka hanya Rp 10.000 sehari. Itu untuk makan tiga kali. Mereka memasak sendiri dan disediakan beras oleh kampus. Alhamdulllah, setelah lulus, mereka semua diterjunkan ke daerah-daerah seluruh Indonesia. Alhamdulillah, kini permintaan dai lulusan STID M Natsir semakin meningkat.
āJadi Pak Wamen,Ā terbukti sarjana-sarjana lulusan STID tidak ada yang nganggur,ā ujar Dr. Adian kepada Wamen Romo Syafiāi.
Menanggapi berita-berita tentang susahnya mencari kerja bagi lulusan Perguruan Tinggi, Dr. Adian mengusulkan agar definisi ākerjaā diperluas bukan hanya bekerja di pabrik atau instansi pemerintah. āPara sarjana ini terjun ke masyarakat, mengajar ngaji dan ibadah, membimbing masyarakat, mengembangkan ekonomi, dan sebagainya,ā lanjutnya.
Berdasarkan pengalamannya keliling Indonesia dari Aceh sampai Papua, Ketum DDII itu meyakini, bahwa kekayaan alam di Indonesia sebenarnya sangat mencukupi untuk rakyat Indonesia hidup bahagia. Asalkan, diberikan pendidikan dan pemahaman yang benar, bahwa tujuan hidup itu adalah untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa; bukan untuk bangga-banggaan dan bersenang-senang dengan melupakan Tuhan.
Wisuda Sarjana STID M Natsir tahun 2025 ini juga diikuti oleh tujuh orang lulusan kelas khusus Jurnalistik dan Pemikiran Islam. Kelas ini bekerjasama dengan Pesantren At-Taqwa yang langsung dibina oleh Dr. Adian Husaini. (https://mediadakwah.id/mahasiswa-ddii-inovator-muda-dunia-ini-lanjut-kuliah-s2-di-universiti-teknologi-malaysia/ā¦..https://mediadakwah.id/sarjana-stid-m-natsir-kaji-serius-pemikiran-mohammad-natsir-tentang-sekularisme/).
Jadi, saat ini, ada dua jenis pendidikan di STID M Natsir, yaitu kelas reguler yang berasrama dan kelas kepakaranĀ khusus yang berbiaya Rp 7,2 juta/semester. āAlhamdulillah, sekarang banyak yang senang membayar kuliah, karena berinfaq fi-sabilillah,ā pungkas Dr. Adian. (Humas DDII/ Informasi dan pendaftaran STID M Natsir: Ust. Wildan: 0813-8048-9347, juga: https://stidnatsir.ac.id).


