Bagian ke – 2 dari 6 tulisan
Oleh: Firman Syah Ali As-Samarqandy
Jika rivalitas antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah pada era pra-Islam dapat disebut sebagai “api dalam sekam”, maka wafatnya Khalifah Utsman bin Affan menjadi percikan yang menyulut ledakan besar dalam sejarah politik Islam. Periode ini dikenal oleh para sejarawan sebagai Fitnah Kubra, perang saudara pertama dalam dunia Islam yang mengubah arah sejarah umat secara permanen.
Konflik ini bukan hanya soal perebutan kekuasaan, tetapi pertarungan legitimasi, krisis keadilan, dan benturan kepentingan politik di tengah ekspansi besar negara Islam.
Era Utsman dan Menguatnya Dominasi Bani Umayyah
Ketika tongkat kepemimpinan jatuh kepada Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 644 M, banyak kalangan berharap stabilitas yang diwariskan Umar bin Khattab tetap terjaga. Utsman adalah sahabat senior Nabi Muhammad SAW, menantu Rasulullah, dan dikenal sebagai sosok lembut serta dermawan.
Namun, dalam praktik pemerintahan, era Utsman menghadapi tantangan berbeda.
Wilayah Islam berkembang sangat cepat. Kekuasaan meluas dari Persia hingga Afrika Utara. Kompleksitas administrasi negara meningkat drastis. Di tengah situasi itu, muncul kritik bahwa pemerintahan Utsman terlalu banyak memberi ruang kepada kerabat dekat dari Bani Umayyah untuk menduduki posisi strategis.
Marwan bin Hakam—sepupu Utsman—menjadi salah satu figur paling berpengaruh di lingkaran kekuasaan. Sejumlah gubernur penting di berbagai wilayah berasal dari jaringan keluarga Umayyah. Bahkan tokoh senior seperti Amr bin Al-Ash dicopot dari jabatan Gubernur Mesir.
Kondisi ini memunculkan tuduhan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam bentuk awal pemerintahan Islam.
Di Kufah, Basrah, dan Mesir, gelombang ketidakpuasan tumbuh. Kritik terhadap para gubernur berubah menjadi gerakan politik yang semakin radikal.
Revolusi Sosial dan Terbunuhnya Utsman
Ketegangan mencapai titik puncak ketika kelompok-kelompok dari Mesir, Kufah, dan Basrah bergerak menuju Madinah.
Awalnya mereka datang untuk menyampaikan tuntutan reformasi kepada Khalifah Utsman. Namun situasi berubah menjadi pengepungan rumah khalifah selama berminggu-minggu.
Dalam berbagai riwayat sejarah seperti karya At-Tabari dan Ibn Sa’d, disebutkan bahwa Utsman memilih tidak melawan meski memiliki peluang memobilisasi kekuatan militer.
Ia menolak perang saudara terjadi di Madinah.
Keputusan itu justru berakhir tragis.
Pada tahun 656 M, Khalifah Utsman terbunuh di rumahnya saat sedang membaca Al-Qur’an.
Kematian ini menjadi salah satu tragedi paling traumatis dalam sejarah Islam awal. Jenazah Utsman bahkan tidak bisa langsung dimakamkan karena situasi kota berada dalam kekacauan.
Menurut sejumlah riwayat, pemakaman dilakukan secara terbatas di malam hari untuk menghindari amuk massa.
Terbunuhnya Utsman bukan sekadar pergantian kekuasaan. Ia menjadi simbol runtuhnya konsensus politik umat Islam generasi pertama.
Ali bin Abi Thalib di Tengah Kekacauan
Pasca wafatnya Utsman, Madinah memasuki fase vakum kepemimpinan.
Para pemberontak yang menguasai situasi mendesak agar segera ditunjuk khalifah baru guna menghindari kehancuran negara. Nama paling kuat mengemuka adalah Ali bin Abi Thalib.
Ali bukan figur biasa. Ia sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW, termasuk orang pertama yang masuk Islam, dan dihormati karena integritas serta keilmuannya.
Namun, Ali sebenarnya menolak.
Dalam berbagai catatan sejarah, beliau berkali-kali menyatakan keberatan memimpin di tengah situasi penuh fitnah. Ali bahkan berkata bahwa dirinya lebih suka menjadi penasihat ketimbang pemimpin.
Tetapi tekanan politik terlalu besar.
Akhirnya, Ali menerima baiat dengan syarat prosesnya dilakukan secara terbuka di Masjid Nabawi dan atas persetujuan mayoritas umat.
Sebagian besar warga Madinah mendukung beliau. Namun tidak semua pihak menerima legitimasi tersebut.
Di sinilah konflik mulai memasuki babak paling serius.
Mengapa Muawiyah Menolak Baiat kepada Ali?
Muawiyah bin Abu Sufyan, Gubernur Syam sekaligus kerabat dekat Utsman, menolak berbaiat kepada Ali.
Ada dua alasan utama.
Pertama, Muawiyah menilai proses pengangkatan Ali berlangsung di bawah tekanan kelompok pemberontak yang sebelumnya terlibat dalam pengepungan Utsman.
Kedua, Muawiyah menuntut qishash atau penghukuman terhadap pembunuh Utsman sebelum pengakuan terhadap khalifah baru diberikan.
Di mata Muawiyah, Ali dianggap tidak cukup tegas terhadap para pelaku.
Namun posisi Ali sangat sulit.
Para pemberontak jumlahnya ribuan dan telah melebur ke dalam struktur pendukung pemerintahan baru. Banyak berasal dari Mesir, Kufah, dan Basrah—wilayah yang memiliki kekuatan militer signifikan.
Menindak mereka secara frontal dapat memicu perang saudara lebih besar.
Selain itu, pembunuhan Utsman dilakukan secara massal. Sulit menentukan siapa pelaku utama yang secara hukum layak dihukum.
Ali memilih memprioritaskan stabilitas negara sebelum proses hukum dilakukan.
Keputusan ini justru menjadi sumber kritik yang terus membesar.
Perang Jamal: Ketika Sekutu Berubah Menjadi Lawan
Konflik pertama meledak dalam Perang Jamal (656 M).
Ironisnya, lawan Ali bukan Bani Umayyah, melainkan sebagian mantan sekutu sendiri.
Aisyah binti Abu Bakar, bersama Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam, menuntut percepatan keadilan atas kematian Utsman.
Mereka mengumpulkan kekuatan di Basrah.
Ali bergerak untuk mencegah konflik membesar. Upaya dialog sebenarnya sempat dilakukan, tetapi situasi lapangan berubah kacau.
Perang akhirnya tidak terhindarkan.
Pertempuran berlangsung sengit dan berakhir dengan kemenangan pasukan Ali. Aisyah dipulangkan ke Madinah dengan penghormatan penuh.
Namun luka politik sudah terlanjur terbuka.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, sesama sahabat Nabi saling mengangkat senjata.
Perang Siffin dan Kekalahan Diplomasi Ali
Belum selesai konflik Jamal, tantangan jauh lebih besar muncul dari Syam.
Muawiyah menolak legitimasi Ali dan membangun koalisi politik-militer besar.
Konfrontasi mencapai puncak dalam Perang Siffin (657 M) di tepi Sungai Efrat.
Secara militer, pasukan Ali berada di atas angin.
Namun situasi berubah ketika pasukan Muawiyah mengangkat mushaf Al-Qur’an di ujung tombak sebagai simbol ajakan arbitrase (tahkim).
Sebagian pasukan Ali menolak melanjutkan perang karena tidak ingin melawan sesama Muslim atas nama Al-Qur’an.
Ali terpaksa menerima negosiasi.
Keputusan ini menjadi titik balik.
Dalam banyak pembacaan sejarah, Ali sebenarnya unggul di medan tempur tetapi kalah dalam diplomasi politik.
Muawiyah berhasil mempertahankan posisi dan memperoleh legitimasi baru di mata sebagian umat.
Munculnya Khawarij dan Wafatnya Ali
Pasca arbitrase, masalah baru muncul.
Sebagian pendukung Ali kecewa dan keluar dari barisan beliau. Kelompok ini dikenal sebagai Khawarij.
Mereka menganggap Ali telah melakukan kesalahan besar karena menerima arbitrase manusia dalam perkara yang menurut mereka hanya milik Allah.
Ironisnya, kelompok yang semula mendukung Ali berubah menjadi oposisi radikal.
Pada tahun 661 M, tragedi kembali terjadi.
Ali bin Abi Thalib dibunuh oleh seorang anggota Khawarij saat menuju salat Subuh di Kufah.
Wafatnya Ali menandai berakhirnya satu bab penting kepemimpinan Khulafaur Rasyidin.
Hasan dan Perdamaian yang Rapuh
Setelah Ali wafat, kepemimpinan beralih kepada putranya, Hasan bin Ali.
Namun situasi politik sangat berat.
Pasukan Irak mengalami demoralisasi, pembelotan semakin banyak, sementara kekuatan Muawiyah di Syam semakin dominan.
Hasan menyadari bahwa perang lanjutan hanya akan memperpanjang pertumpahan darah.
Pada tahun 661 M, Hasan mengambil keputusan monumental: menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah melalui perjanjian damai.
Kesepakatan itu memuat beberapa syarat, termasuk bahwa kepemimpinan setelah Muawiyah harus dikembalikan kepada musyawarah umat, bukan diwariskan secara turun-temurun.
Peristiwa ini dikenal sebagai Amul Jama’ah (Tahun Persatuan).
Secara formal, perang saudara berakhir.
Namun sesungguhnya, konflik hanya memasuki masa jeda.
Karena ketika Muawiyah menunjuk putranya, Yazid bin Muawiyah, sebagai penerus, bara lama kembali menyala.
Dari keputusan itulah sejarah bergerak menuju tragedi besar berikutnya: Karbala.
(Bersambung ke Opini 3: Karbala, Ibn Zubair, dan Awal Politik Dinasti dalam Dunia Islam.


