OneDayOneSirah
Edisi 361 dari 732
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah, Dzat Yang Maha Memegang janji dan Maha Mengetahui rencana terbaik bagi umat-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ—teladan dalam keteguhan, kebijakan, dan kesetiaan pada prinsip yang haq.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد
Quraisy Mengutus Abu Sufyan
Sahabat Sirah yang dirahmati Allah,
Ketika Perjanjian Hudaibiyah dilanggar secara terang-terangan oleh kaum Quraisy melalui sekutu mereka, Bani Bakr, yang menyerang Bani Khuza’ah—sekutu kaum Muslimin—maka kegentingan pun merebak di Mekah. Abu Sufyan, sebagai tokoh tertinggi Quraisy, merasa posisi mereka terancam dan mendesak untuk memperbaiki hubungan dengan Madinah sebelum Nabi Muhammad ﷺ bertindak.
Dalam kondisi itulah Abu Sufyan diutus untuk menyampaikan permohonan perpanjangan masa perjanjian dan memperbarui komitmen damai.
Namun, niat damai yang dibawanya tidak cukup untuk menghapus dosa pelanggaran. Sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Hisyām, al-Buthī, dan Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfūrī, kedatangan Abu Sufyan justru menjadi babak baru dalam strategi Nabi ﷺ dalam menaklukkan Mekah secara damai tapi tegas.
Pertemuan Penuh Ketegangan dengan Putrinya
Setibanya di Madinah, Abu Sufyan tidak langsung menemui Nabi ﷺ. Ia justru datang ke rumah putrinya sendiri, Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan, yang saat itu telah menjadi istri Rasulullah ﷺ.
Dalam sebuah momen emosional, Abu Sufyan hendak duduk di tikar yang biasa digunakan Nabi ﷺ. Namun, Ummu Habibah segera melipatnya. Terkejut, Abu Sufyan berkata:
“Wahai putriku, apakah engkau lebih menghormati tikar ini daripada ayahmu sendiri?”
Ia menjawab dengan tegas dan berani:
“Tikar ini adalah tempat duduk Rasulullah ﷺ, sedangkan engkau adalah musyrik najis. Aku tidak ingin ayah duduk di atasnya.”
Peristiwa ini menunjukkan perubahan besar dalam kesetiaan dan keimanan para shahabiyah. Ummu Habibah lebih mencintai kebenaran dibandingkan darah keturunan. Ia berdiri kokoh di barisan Rasulullah ﷺ, sekalipun ayahnya sendiri berada di seberang jalan.
Misi yang Gagal Total
Setelah pertemuan itu, Abu Sufyan menemui Nabi ﷺ. Ia menyampaikan niat Quraisy untuk memperpanjang perjanjian. Namun, Rasulullah ﷺ sama sekali tidak merespons, tidak membalas, bahkan tidak mengangguk. Ini adalah bentuk diplomasi bisu yang tegas—diam Nabi ﷺ adalah tanda bahwa perjanjian telah gugur karena pengkhianatan pihak Quraisy.
Tak menyerah, Abu Sufyan mendatangi Abu Bakar ash-Shiddiq dan memohon agar beliau membujuk Rasulullah ﷺ. Namun jawaban Abu Bakar pun sangat tegas:
“Aku tidak sudi melakukannya.”
Ia juga mendatangi Umar bin al-Khattab, ‘Ali bin Abi Thalib, hingga Fathimah az-Zahra. Namun seluruh mereka menolaknya secara halus maupun keras. Upaya Abu Sufyan berakhir tanpa hasil.
Pelajaran dari Sirah
Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthī dalam Fiqh as-Sirah menyatakan bahwa kisah ini merupakan pelajaran tentang harga dari sebuah pengkhianatan perjanjian. Islam menjunjung tinggi kesetiaan terhadap perjanjian. Tapi saat komitmen itu dilanggar oleh pihak lawan, maka umat Islam tidak wajib menahannya, bahkan wajib bersikap tegas.
Nabi ﷺ tidak tergesa-gesa membalas. Beliau menanti saat yang tepat, mempersiapkan strategi, dan menegakkan keadilan dengan hikmah. Inilah keindahan strategi Rasulullah ﷺ: kombinasi antara ketegasan politik dan akhlak kenabian.
Penutup
Sahabat Sirah yang dirahmati Allah,
Kisah ini mengajarkan bahwa:
• Kesetiaan adalah bagian dari iman.
• Pengkhianatan atas perjanjian membawa konsekuensi besar.
• Keimanan menuntut ketegasan terhadap kebatilan—meski datang dari orang terdekat.
• Kemenangan bukanlah hasil dari emosi, tapi buah dari perhitungan, kesabaran, dan keyakinan kepada janji Allah.
Semoga kita termasuk dalam barisan orang-orang yang setia pada perjanjian, teguh di jalan kebenaran, dan tidak silau dengan bujuk rayu siapa pun yang menodai amanah.
+وَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ*
Sukseskan Gerakan:
1. Hadir tepat waktu dan takbiratul ihram bersama imam.
2. Rebutlah shaf pertama dalam setiap shalat berjamaah.
Gabung Grup Sirah Nabawiyah:
WhatsApp: bit.ly/Siroh9
Telegram: t.me/BaitulIzzah_SirahNabawiyah
Disusun oleh:
Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati
Ketua KBIHU Baitul Izzah, Sidoarjo | Hp/WA: 0811 254 005
Referensi Utama:
1. Sirah Nabawiyah – Ibnu Hisyam
2. Fiqh as-Sirah – Dr. Muhammad Sa‘id Ramadhan al-Buthī
3. Ar-Rahiq al-Makhtum – Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri
4. Al-Bidāyah wa an-Nihāyah – Ibnu Katsir
5. Zaad al-Ma‘ad – Ibn al-Qayyim
Jika kisah ini menginspirasi, silakan Bapak/Ibu [[fullname]] bagikan ke grup dan jejaring.
Semoga menjadi amal jariyah ilmu yang tak terputus.
Nyalakan nurani bangsa dengan cahaya Sirah Nabawiyah.


