Google search engine
HomeSejarahQuraisy Mengutus Abu Sufyan: Misi Damai Yang Gagal

Quraisy Mengutus Abu Sufyan: Misi Damai Yang Gagal

OneDayOneSirah
Edisi 362 dari 732

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah—Dzat Yang menanamkan dalam dada hamba-Nya keimanan, dan menggenggam seluruh rencana kehidupan dengan hikmah. Shalawat dan salam teruntuk Nabi Muhammad ﷺ, pemimpin mulia yang menjadikan maaf sebagai kekuatan dan prinsip sebagai fondasi kemenangan.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد

Quraisy Mengutus Abu Sufyan

Setelah pelanggaran terang-terangan oleh sekutu Quraisy, yaitu Bani Bakr yang menyerang Bani Khuza’ah—sekutu kaum Muslimin—kekhawatiran mulai menghantui kaum Quraisy di Mekah. Mereka sadar telah melanggar Perjanjian Hudaibiyah yang belum genap dua tahun berjalan. Untuk meredam kemarahan kaum Muslimin, Quraisy pun mengutus tokoh mereka yang paling berpengaruh: Abu Sufyan bin Harb, pemimpin kabilah dan ayah dari Ummu Habibah, istri Rasulullah ﷺ.

Ia menuju Madinah dengan misi: mengembalikan perjanjian dan mencegah pecahnya perang. Tapi sungguh, misi ini bagai mencari air di padang gersang.

Sesampainya di Madinah, Abu Sufyan pertama kali mendatangi putrinya, Ummu Habibah Radhiyallahu ‘Anha. Namun, istri Rasulullah ini bahkan menolak membiarkan ayahnya duduk di atas tikar milik Nabi ﷺ seraya berkata, “Itu milik Rasulullah. Engkau bukan orang yang layak duduk di atasnya!”

Merasa terpukul, Abu Sufyan pun mencari jalur lain. Ia mendatangi Abu Bakar ash-Shiddiq dan memohon agar membujuk Rasulullah ﷺ untuk memperbarui perjanjian damai. Abu Bakar menjawab tegas, “Aku tidak akan pernah memohon kepada Rasulullah dalam urusan ini.”

Ia lalu mendatangi Umar bin Khattab, berharap ada simpati. Tapi Umar malah berkata lantang, “Apakah aku akan menjadi penengah bagi kalian? Demi Allah, andai aku hanya memiliki segenggam pasir, niscaya itu akan kupakai untuk memerangi kalian!”

Dalam kegelisahan, Abu Sufyan mencoba mendekati Ali bin Abi Thalib di rumah Fathimah Az-Zahra. Di sana, ia melihat cucu Rasulullah, Hasan dan Husain, sedang bermain. Abu Sufyan merendahkan dirinya serendah mungkin, berharap belas kasih dari keluarga Rasul. Namun Ali berkata tenang, “Wahai Abu Sufyan, demi Allah, jika Rasulullah telah mengambil keputusan, maka tak seorang pun dari kami bisa membatalkannya.”

Merasa tak ada celah, Abu Sufyan mencoba akal politik terakhir. Ia masuk ke Masjid Nabawi dan menyatakan sepihak bahwa ia memperpanjang perjanjian damai dengan Rasulullah. Tapi kaum Muslimin tak menanggapi. Tidak ada satu pun yang menganggap pernyataan itu sah. Ia datang sendiri, dan pulang sendiri, membawa kegagalan.

Penebus Dosa Seorang Pemimpin

Kelak, setelah Fathu Makkah, Abu Sufyan masuk Islam. Ia menyaksikan bagaimana Rasulullah ﷺ masuk ke Makkah tanpa pertumpahan darah, bahkan memberi jaminan keamanan bagi siapa pun yang masuk rumah Abu Sufyan. Dari situ ia menyadari keagungan Islam dan memeluknya dengan sepenuh hati.

Di hari-hari tuanya, ia pernah berkata dengan yakin:

“Demi Allah, semenjak aku memeluk Islam, tak ada lagi dosa yang menyentuhku.”

Sebuah akhir yang menenangkan dari perjalanan seorang musuh besar yang berbalik menjadi hamba Allah yang bertaubat.

InsyaaAllah, kita akan lanjutkan kisah dakwah Rasulullah ﷺ dalam edisi berikutnya.

وَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

Sukseskan Gerakan:
1. Hadir tepat waktu dan takbiratul ihram bersama imam.
2. Rebut shaf pertama dalam setiap shalat berjamaah.

Gabung Grup Sirah Nabawiyah:
WhatsApp: bit.ly/Siroh9
Telegram: t.me/BaitulIzzah_SirahNabawiyah

Disusun oleh:
Mangesti Waluyo Sedjati
Ketua KBIHU Baitul Izzah, Sidoarjo | 0811 254 005

Referensi Utama:
1. Sirah Nabawiyah – Ibnu Hisyam
2. Fiqh as-Sirah – Dr. Muhammad Sa‘id Ramadhan al-Buthī
3. Ar-Rahiq al-Makhtum – Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri
4. Al-Bidāyah wa an-Nihāyah – Ibnu Katsir
5. Zaad al-Ma‘ad – Ibn al-Qayyim

Jika kisah ini menginspirasi, silakan Bapak/Ibu [[fullname]] bagikan ke grup dan jejaring.
Semoga menjadi amal jariyah ilmu yang tak terputus.
Nyalakan nurani bangsa dengan cahaya Sirah Nabawiyah.

Untuk baca klik: https://www.facebook.com/share/1KBqYgpcee/?mibextid=wwXIfr

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments