Fawaid:
Ustadz Abu abd Rahman bin Muhammad Suud al Atsary Hafidzahullah.
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam mengajarkan kepada kita do’a, di antaranya.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ
“Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari himpitan Bala’ (cobaan) yang berat, di timpa kesengsaraan, buruknya Taqdir, dan melihat gembiranya orang orang yang memusuhi (dari apa yang menimpa ku)”.
Hr Bukhari. Muslim. An Nasa’i dari Abu Hurairah.
Juga di sebutkan riwayat dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam mengajarkan kepada kita do’a,
رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ الْهُدَى لِي وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ
رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ شَكَّارًا لَكَ ذَكَّارًا لَكَ رَهَّابًا لَكَ مُطِيعًا إِلَيْكَ مُخْبِتًا إِلَيْكَ أَوَّاهًا مُنِيبًا
رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي وَاغْسِلْ حَوْبَتِي وَأَجِبْ دَعْوَتِي وَاهْدِ قَلْبِي وَسَدِّدْ لِسَانِي وَثَبِّتْ حُجَّتِي وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي
Wahai Rabb ku, Bela lah aku dan jangan Engkau bela orang orang yang hendak berbuat jahat kepada ku, tolong lah aku dan jangan tolong orang orang yang akan menimpakan keburukan kepada diri ku, lindungi aku dari Makar jahat dan jangan jadikan aku sasaran keburukan, berikan selalu petunjuk kepada jalan ku, mudahkan petunjuk itu untuk di terima oleh hati ku, jaga aku dari keburukan orang orang yang membenci ku,
Wahai Rabb ku, jadikan aku orang yang senantiasa bersyukur kepada Mu, selalu mengingat Mu, senantiasa takut kepada Mu, selalu dalam ketaatan, yang selalu menghadap Mu, menangis untuk Mu, banyak bertaubat,
Wahai Rabb ku, terima lah taubat ku, cuci lah dosa dosa ku, ijabah lah seluruh do’a do’a ku, berikan hidayah kepada hati ku, luruskan lisan ku, kokoh kan hujjah ku, dan hilangkan sifat keras dari hati ku.
(Di sebutkan oleh Rawi (Abu Hasan) bahwasanya dia mengatakan kepada Waki’, apakah aku boleh membacanya di dalam do’a Qunut Witr ?, ia menjawab, boleh).
Hr Bukhari dalam Al Adabul Mufrad.
Fawaid dalam do’a do’a ini,
Kami (Abu abd Rahman) katakan,
* Istia’dzah adalah permohonan perlindungan pada bahaya yang belum tampak, yakni kita memohon kepada Allah di hindarkan dari bahaya bahaya yang bisa saja menimpa, yang di sebabkan unsur dari dalam maupun luar.
Sedangkan Istighatsah adalah permohonan perlindungan dari bahaya yang tampak, bisa di rasakan, serta di depan mata.
Keduanya bagian dari permohonan kepada Allah.
* Ujian memiliki tingkatan, bentuk, dan macam yang berbeda,
Boleh jadi ujian itu datang dari dalam diri (dan keluarga), atau luar (orang lain),
Maka Allah melalui Rasul Nya, mengajarkan untuk seseorang kembali kepada Nya, saat di timpa keburukan.
Sedangkan dalam kenyataannya, banyak manusia mengeluhkan dirinya dan kondisinya kepada sesama mereka, dalam beberapa hal (seperti berkonsultasi atau minta solusi) di benarkan, namun secara umum, mengeluhkan kondisi diri dan keburukan yang menimpa kepada orang lain, adalah keburukan itu sendiri.
* Kita mengetahui dalam interaksi antara manusia, ada saja permasalahan yang muncul, di sebabkan adanya kepentingan dan cara pandang yang berbeda, juga adanya saling mengungguli, sehingga muncul Hasad, Percekcokan dan Permusuhan.
Juga adanya kesulitan, keburukan, dan hal hal yang tidak di sukai, seperti himpitan Bala’, kesengsaraan hidup, atau Taqdir yang terasa buruk.
* Di antara keburukan yang lain, adalah tersenyum nya orang orang yang memusuhi ketika melihat kondisi kita, maka hal ini adalah keburukan di atas keburukan itu sendiri, yang menjadikan jiwa menyusut, dan seseorang undur ke belakang (karena merasa tidak memiliki pembela).
* Maka, dari semua keburukan itu, kita berharap kepada Allah, agar tidak di timpakan kepada kita, dan bila pun ujian itu Allah Taqdir kan, maka Dia memberikan pahala dan penyelesaian.
* Terkait riwayat Abdullah bin Abbas, yang mengajarkan kita doa, agar kita di lindungi dari kejahatan orang lain, kebencian dan sasaran Makar mereka.
Di antara do’a yang di minta saat mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain, adalah memohon kepada Allah agar senantiasa di berikan jalan, penerangan, dan kemudahan, karena setiap keburukan tidak akan pernah bisa menimpa kepada diri kita, selama Allah menolong kita.
* Hendaknya setiap orang yang memiliki ilmu, mengetahui, tidak bisa seseorang dengan percaya dirinya, memohon pembelaan, pertolongan, sementara ia bermuamalah secara buruk dengan Rabb nya,
Pertolongan, pembelaan, dan permohonan dari semua itu, hanya bisa di lakukan oleh orang orang yang benar benar di zalimi, dan mereka memiliki kedekatan kepada Allah (meskipun kita ketahui ancaman secara umum, bagi pelaku kezaliman agar mereka berhenti dari berbuat zalim dan waspada atas do’a do’a orang orang yang di zalimi).
* Maka dari itu, dalam do’a ini, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam tidak lupa, mengajarkan kita untuk senantiasa memohon kepada Allah agar di jadikan hamba yang senantiasa bersyukur, mengingat, dan kembali ke pada Nya, karena itulah pintu pertolongan.
* Juga wajib di ketahui oleh orang orang yang memiliki ilmu, bahwasanya di kuasai oleh musuh, di tertawa kan oleh orang orang yang membenci saat kita tertimpa keburukan, itu di sebabkan oleh dosa dan maksiat kita sendiri.
Maka hendaklah seseorang yang merasakan kezaliman, untuk segera ia ingat, kembali, dan bertaubat.
* Dan terakhir dari do’a yang di ajarkan adalah, memohon di hilangkan sifat keras dalam hati,
Sifat keras yang di maksud adalah tidak mudah menerima nasehat, senantiasa mendahulukan emosi dari pada ilmu, dan memiliki egoisme yang tinggi, sehingga orang orang seperti ini sulit di luruskan.
Tabiat keras dan lembut di lihat dari sisi Syar’i, bukan sekedar perasaan.
Banyak orang yang tabiatnya lembut, namun mereka sulit menerima hidayah dan kebaikan.
Namun ada juga orang yang di katakan keras, namun memiliki hati yang lembut, mudah meneteskan air mata, dan mudah menerima ucapan kebenaran.
Sehingga tidak bisa kelembutan atau keras sekedar penilaian subyektif.
14 Jumadil Akhir 1447 H, Pondok Pesantren Tahfidz Aisyah Ummul Mu’minin Madiun.
Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabb nya.
(gwa-saudara-muslim-2).


