Google search engine
HomeDaerahRibath Futuhatunnu Gelar Perayaan Maulid Nabi Muhammad

Ribath Futuhatunnu Gelar Perayaan Maulid Nabi Muhammad

TULUNGAGUNG-kanalsembilan.com (20/9/2025

Sabtu malam Ahad Dusun Toro berselimut kabut. Hujan hadlir sejak sebelum magrib. Tidak ada panggung besar. Tidak ada baliho. Tidak ada pengeras suara yang memekakkan telinga.

Tapi ada sesuatu yang lebih penting: cinta. Cinta yang sederhana. Cinta yang tidak perlu dipamerkan. Cinta yang cukup ditanamkan. Cinta pada sang rasul, Sayyidina Muhammad sholalloh alaihi was salam.

Di halaman kecil Pesantren Ribath Futuhatunnur, Dusun Toro Desa Sidomulyo, Pagerwojo, Tulungagung, sekitar seratus lima puluh orang berkumpul.. Mereka merupakan tetangga sekitar pesantren.

Warga masyarakat Toro. Orang-orang yang tahu bahwa Maulid merupakan syafa’at. Harapan keselamatan. Peringatan Maulid Nabi Muhammad terwujud pada Hari Sabtu (20/9/2025).

Tampak hadlir DPRD Kabupaten Tulungagung, Bapak Mulyono, Kepala Desa Sidomulyo, Bapak Marlikan, Bapak Dusun Toro dan perangkat desa. Sementara itu Kyai Hudzoifah, pengasuh pesantren, memilih kesederhanaan.

“Maulidur Rasul digelar sederhana agar mendapatkan keberkahan,” katanya. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang dibuat-buat. Karena keberkahan tidak datang dari kemewahan. Ia datang dari keikhlasan.

Yang datang memberi ceramah adalah KH. Imam Mawardi Ridlwan, Wakil Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jawa Timur. Tapi yang ia bawa bukan teori. Bukan dalil panjang. Ia membawa kisah. Kisah tentang Abu Lahab. Paman Nabi. Musuh dakwah. Tapi juga manusia yang pernah tersenyum.

Senyum itu bukan sembarang senyum. Senyum itu muncul saat Nabi Muhammad lahir. Senyum karena bahagia. Senyum karena cinta darah. Senyum yang membuatnya memerdekakan budaknya, Tsuwaibah. Dan Tsuwaibahlah yang pertama kali menyusui Nabi.

Senyum itu, kata Imam Mawardi, membuat Abu Lahab mendapat setetes air setiap hari Senin. Di neraka. Karena ia pernah bahagia atas kelahiran Nabi. Karena ia pernah menunjukkan cinta. Walau hanya sebentar. Walau hanya setetes.

Lalu, bagaimana dengan kita? Yang setiap tahun merayakan Maulid. Yang bershalawat. Yang berkumpul. Yang belajar. Apakah kita tidak lebih layak mendapat syafa’at?

Abah Imam menjawabnya dengan tenang. Bulan Rabiul Awal adalah bulan damai. Bulan kelahiran manusia paling mulia. Bulan yang membuat langit dan bumi bersuka cita. Maka wajar jika kita pun ikut bersuka cita. Wajar jika kita berkumpul. Wajar jika kita bershalawat.

Karena Allah sendiri memerintahkan kita untuk bershalawat. Karena Nabi sendiri berpuasa setiap hari Senin sebagai bentuk syukur atas kelahirannya. Karena cinta itu tidak bisa dipaksakan. Ia tumbuh dari hati yang mengenal dan mencintai.

Abah Imam mengutip dawuh Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani: merayakan Maulid pasti bermanfaat. Di dunia dan akhirat. Karena itu adalah ekspresi mahabbah. Dan mahabbah itu tidak bisa dibeli. Tidak bisa disuruh. Ia tumbuh. Ia mekar.

Tentu, ada yang menyebut Maulid sebagai bid’ah. Tapi para ulama menjawabnya dengan bijak, bid’ah hasanah. Sesuatu yang baik. Sesuatu yang tidak bertentangan dengan syariat. Sesuatu yang membawa manfaat.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud pernah berkata: “Apa yang dilihat umat Islam sebagai perkara yang baik, maka perkara tersebut baik di sisi Allah.”

Di akhir ceramahnya, Abah Imam tidak mengajak untuk merayakan Maulid setahun sekali. Ia mengajak untuk merayakan setiap hari. Dengan shalawat. Dengan ilmu. Dengan cinta.

Karena cinta kepada Nabi bukan soal tanggal. Bukan soal acara. Tapi soal hati.

Dan semoga Ribath Futuhatunnur, pesantren kecil di Dusun Toro, diberkahi Allah. Karena ia telah mengajarkan satu hal yang besar, bahwa cinta tidak perlu panggung. Ia cukup ditanamkan dalam bersholawat. (za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments