Google search engine
HomeTausiyahSaat Rasulullah Menegur Abu Dzar dengan Kalimat yang Menggetarkan Langit

Saat Rasulullah Menegur Abu Dzar dengan Kalimat yang Menggetarkan Langit

‘Sarapan Pagi’

Siang itu Madinah tidak sedang diliputi perang.
Tidak ada suara pedang, tidak ada teriakan musuh.
Namun sebuah peristiwa kecil terjadi dan justru menggores lebih dalam daripada luka senjata.

Abu Dzar Al-Ghifari dikenal sebagai sahabat yang sangat jujur. Lurus. Tegas. Keras terhadap kebatilan.
la mencintai kebenaran dengan seluruh jiwanya. Namun pada hari itu, lidahnya tergelincir dalam satu kalimat yang tidak seharusnya terucap dari seorang mukmin.

Di suatu perdebatan yang memanas, Abu Dzar berselisih dengan Bilal bin Rabah.

Bilal… Mantan budak.
Mantan hamba sahaya.
Bekas orang yang dulu disiksa di padang pasir Makkah karena mempertahankan tauhid.

Dalam keadaan emosi, Abu Dzar berkata:
“Wahai anak wanita hitam !”

Kalimat itu meluncur cepat. Namun dampaknya tidak kecil.

Bilal terdiam. Wajahnya berubah. Dadanya terasa dihantam bukan oleh tangan, tetapi oleh luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Luka karena hinaan, luka karena perbudakan, luka karena direndahkan oleh manusia.

Tanpa berkata apa pun, Bilal pergi. Langkahnya cepat. Dadanya sesak. Ia langsung menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan suara tertahan, Bilal menyampaikan apa yang baru saja terjadi. Dan di saat itulah… Wajah Rasulullah berubah.

Bukan marah yang meledak-ledak.
Tetapi marah yang membuat langit seakan ikut terdiam.
Rasulullah segera memanggil Abu Dzar.

Abu Dzar datang dengan langkah yakin. la tidak merasa melakukan dosa besar. Baginya itu hanya ucapan yang terucap dalam panasnya emosi. Namun begitu ia berdiri di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau menatapnya dalam-dalam, lalu bersabda:
“Apakah engkau mencelanya karena ibunya ?”

“Sesungguhnya engkau adalah orang yang masih memiliki sifat jahiliyah.”
(HR Bukhari no. 30 dan Muslim no. 1661)

Kalimat itu menghantam Abu Dzar lebih keras daripada tamparan mana pun.

“Orang yang masih memiliki sifat jahiliyah…”

la telah memeluk Islam sejak awal. la telah meninggalkan berhala.
Padahal ia telah berhijrah.

la telah meninggalkan kaumnya. la telah berpuasa, salat, berjihad… namun satu kalimat rasis, satu penghinaan terhadap asal-usul, dianggap oleh Rasulullah sebagai sisa jahiliyah yang masih hidup di hatinya.

Abu Dzar membeku.
Dunia seakan runtuh di hadapannya.
Air matanya jatuh.
Tanpa membela diri, tanpa mencari alasan, tanpa menyusun pembenaran.
la langsung pergi mencari Bilal.

la menemukannya.
Lalu… di hadapan banyak orang… Abu Dzar menjatuhkan dirinya ke tanah. Ia menempelkan pipinya di pasir. Dengan suara yang pecah oleh tangis, ia berkata :

“Wahai Bilal… injaklah wajahku hingga dosaku terhapus.”

Bilal terkejut.
“Wahai saudaraku… semoga Allah mengampunimu. Aku memaafkanmu”

Bilal tidak menginjaknya.
la justru menangis.
Lalu mengangkat Abu Dzar dari tanah dan memeluknya.

Hari itu bukan hanya Abu Dzar yang hancur oleh taubat. Tapi semua sahabat yang menyaksikan peristiwa itu memahami satu pelajaran besar: Bahwa Islam menghancurkan segala bentuk kesombongan ras, warna kulit, dan garis keturunan.

Bahwa takwa tidak diukur dari darah, tetapi dari hati.

Dan bahwa satu kalimat penghinaan bisa menghidupkan kembali jahiliyah yang telah lama dikubur.

Sejak hari itu…
Abu Dzar tidak pernah lagi
meninggikan dirinya di atas siapa pun.

Dan Bilal… bukan karena warna kulitnya, tetap berdiri sebagai muadzin langit, tetapi karena kemurnian imannya.

â—† Kisah ini berdasarkan hadits shahih riwayat Bukhari no. 30 dan Muslim no. 1661 tentang Abu Dzar
yang ditegur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena menghina asal-usul seseorang. Kisah disampaikan dalam bentuk narasi tadabbur.

Semoga bermanfaat.

(gwa-kb-dd-jatim).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments