Google search engine
HomePendidikanSatu Tangan Menggendong Bayi, Satu Tangan Meraih Harvard

Satu Tangan Menggendong Bayi, Satu Tangan Meraih Harvard

Ini bukan cerita Jet Pribadi atau Tas Mewah, Ini cerita Seorang Ibu muda yang Lulus dari Harvard.

Geisz Chalifah.

Mutiara Annisa Baswedan menyelesaikan pendidikan magisternya di Harvard hanya dalam waktu sekitar satu tahun. Ia meraih gelar Master of Education dari Harvard Graduate School of Education, dengan konsentrasi Education Policy and Analysis, sebuah bidang yang mempelajari kebijakan pendidikan, tata kelola pendidikan, serta bagaimana sistem pendidikan dapat dirancang agar lebih adil dan efektif. Ia menempuh studi tersebut dengan beasiswa LPDP.

Yang membuat kisah ini lebih mengesankan, ia menjalani studi itu ketika sedang membesarkan anak yang masih bayi. Saat berangkat ke Amerika Serikat, putranya bahkan baru berusia sekitar satu bulan. Setahun kemudian, ia naik ke panggung wisuda sambil menggendong anaknya yang telah berusia satu tahun.

Entah bagaimana cara dia belajar. Bagaimana dia membagi waktu. Bagaimana dia menyusun tugas-tugas akademiknya. Bagaimana dia menghadapi ujian. Bagaimana dia menjalani ritme kuliah yang terkenal ketat di Harvard sambil tetap menjalankan peran sebagai seorang ibu muda.

Yang jelas, pencapaian seperti itu tidak lahir dari keberuntungan. Di balik selembar ijazah ada disiplin. Di balik toga ada pengorbanan. Di balik foto wisuda yang kita lihat hari ini ada hari-hari panjang yang tidak pernah dipotret kamera.

Kita sering terpukau pada hasil akhirnya. Padahal yang sesungguhnya layak dihormati adalah proses yang mengantarkan seseorang ke sana.

Sebab gelar Master of Education dari Harvard mungkin adalah simbol pencapaian akademik. Tetapi keteguhan menjalani peran sebagai mahasiswa, istri, dan ibu dalam waktu yang bersamaan adalah pencapaian yang tidak kalah besar.

Karena itu, ketika melihat Mutiara berdiri di panggung wisuda sambil menggendong putranya, yang terlihat bukan hanya seorang lulusan Harvard.

Yang terlihat adalah pelajaran tentang ketekunan.

Bahwa mimpi besar tidak selalu diperjuangkan dalam keadaan yang ideal. Kadang ia diperjuangkan sambil menggendong bayi di satu tangan, dan harapan di tangan yang lain.

Dan di zaman media sosial seperti sekarang, perbedaan itu menjadi semakin mudah terlihat.

Sebab ada orang yang pergi ke luar negeri lalu yang dibicarakan publik adalah jet pribadi yang ditumpanginya.

Ada yang pergi ke luar negeri lalu yang dibicarakan adalah tas yang dibawanya.

Ada yang menjadi perbincangan karena harga jam tangan yang dikenakannya.

Ada yang viral karena roti lobster yang harganya ratusan ribu rupiah.

Ada yang membuat orang membahas restoran, steak, chef, pusat perbelanjaan, dan segala simbol kemewahan yang dipamerkan di layar telepon genggam.

Tetapi ada pula yang pergi ke luar negeri dengan seorang bayi yang bahkan belum genap berusia satu bulan.

Lalu pulang membawa ilmu.

Pulang membawa gelar.

Pulang membawa pencapaian yang tidak bisa dibeli dengan kartu kredit, tidak bisa disewa dengan uang, dan tidak bisa dipamerkan melalui unggahan media sosial.

Yang satu membuat orang bertanya:

“Berapa harga tasnya?”

Yang satu membuat orang bertanya:

“Bagaimana dia bisa menyelesaikan semua itu?”

Yang satu membuat orang penasaran pada barang yang dimiliki.

Yang satu membuat orang kagum pada kualitas dirinya.

Yang satu menjadikan kemewahan sebagai cerita.

Yang satu menjadikan perjuangan sebagai cerita.

Dan dari dua jenis cerita itu kita belajar sesuatu.

Bahwa kemewahan memang mudah menarik perhatian.

Tetapi hanya kerja keras yang mampu menghadirkan penghormatan.

Harga sebuah tas bisa dicari di internet.

Harga sebuah jam tangan bisa ditemukan di katalog.

Harga steak mahal bisa dilihat di menu restoran.

Harga sewa jet pribadi bahkan bisa dihitung per jam.

Tetapi tidak ada katalog yang bisa menghitung harga dari malam-malam tanpa tidur seorang ibu muda yang harus mengurus bayi, menyelesaikan tugas kuliah, menulis makalah, menghadapi ujian, dan bertahan di salah satu universitas terbaik dunia.

Tidak ada etalase yang menjual ketekunan.

Tidak ada butik yang menjual integritas.

Tidak ada merek mewah yang menjual kecerdasan.

Dan tidak ada jet pribadi yang mampu menerbangkan seseorang menuju prestasi tanpa kerja keras.

Pada akhirnya waktu akan memilih sendiri apa yang layak dikenang.

Tas mewah akan menjadi barang bekas.

Jam tangan mewah akan menjadi aksesori biasa.

Foto-foto belanja akan tenggelam di linimasa.

Unggahan makanan mahal akan hilang ditelan algoritma.

Tetapi ilmu akan tetap tinggal.

Menjadi manfaat.

Menjadi karya.

Menjadi inspirasi.

Menjadi teladan.

Karena itulah ketika saya melihat Mutiara Annisa Baswedan berdiri di panggung wisuda Harvard sambil menggendong putranya yang berusia satu tahun, saya tidak melihat kemewahan.

Saya melihat sesuatu yang jauh lebih mahal.

Ketekunan.

Dan tidak semua orang yang lahir dalam lingkungan yang penuh kemudahan mampu membeli itu…!
(gwa-kb-dd-jatim).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments