Google search engine
HomePolitikSebuah Panggilan untuk Revolusi Spiritual dan Sosial

Sebuah Panggilan untuk Revolusi Spiritual dan Sosial

DISFUNGSI UMAT ISLAM Di INDONESIA

Oleh: Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
Sidoarjo, 31 Maret 2025

Pendahuluan

Indonesia adalah negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Pew Research Center mencatat bahwa lebih dari 230 juta penduduk Indonesia beragama Islam, yakni sekitar 87% dari total populasi. Namun, pertanyaan kritis muncul: Mengapa negeri dengan mayoritas umat Islam ini justru mengalami krisis moral, disorientasi sosial, dan stagnasi peradaban yang berkepanjangan?

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi sebagai ajakan jujur untuk bercermin: Apakah umat Islam di Indonesia telah berfungsi sebagaimana mestinya? Atau sebaliknya—kita tengah menyaksikan fenomena disfungsi keislaman struktural dan kultural yang menjauh dari ajaran Rasulullah ﷺ dan nilai-nilai Al-Qur’an?

Krisis Representasi Islam: Umat Besar tapi Tidak Berdaya

Ironi besar umat Islam Indonesia hari ini adalah kuantitas tanpa kualitas, simbol tanpa substansi. Masjid megah dibangun, kajian agama menjamur, tokoh-tokoh bergelar ustadz dan ulama memenuhi layar-layar media, namun korupsi tetap merajalela, kesenjangan ekonomi makin menganga, dan umat tercerai-berai dalam konflik identitas yang superfisial.

Fenomena ini disebut oleh para pemikir Islam sebagai decoupling—pemisahan antara Islam normatif (ajaran) dan Islam empiris (perilaku umat). Umat Islam tidak kekurangan sumber daya teologis, tetapi mengalami kelumpuhan dalam operasionalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata.

Kegagalan Elit Keagamaan: Antara Ego, Elitisme, dan Disorientasi Peran

Tulisan ini menyoroti kegelisahan mendalam terhadap elit keagamaan Islam di Indonesia: para ustadz, ulama, kiyai, intelektual Muslim, dan tokoh-tokoh Islam yang justru menjadi bagian dari masalah, bukan solusi.

Fenomena ego keulamaan—merasa paling benar, enggan duduk setara dalam musyawarah, sibuk bersaing pengaruh di media—telah merusak ruh dakwah. Kita lupa bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia paling tawadhu’, yang mencium tangan sahabat, duduk di tanah bersama rakyat, dan menangis dalam shalat malamnya. Lantas, akhlak siapa yang diteladani oleh para elit keagamaan kita hari ini jika bukan dari Nabi dan para sahabatnya?

Banyak ustadz terjebak dalam rutinitas ceramah tanpa perubahan sosial. Banyak tokoh Islam menikmati popularitas tanpa keberpihakan pada nasib umat. Banyak cendekiawan Muslim lebih sibuk mengomentari politik daripada membangun kultur ilmu dan adab.

Disfungsi Sistemik: Umat Islam Tanpa Fungsi Kepemimpinan Kultural

Umat Islam di Indonesia juga mengalami disfungsi dalam peran sosial-kultural. Kita gagal menjadi mercusuar peradaban. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2023 menurun ke skor 34 (dari maksimal 100), menunjukkan budaya korupsi masih akut. Indeks Demokrasi, indeks pendidikan, dan indeks inovasi Indonesia tertinggal dari negara-negara minoritas Muslim seperti Korea Selatan, Jepang, dan bahkan Vietnam.

Padahal dalam Al-Qur’an, Islam datang sebagai rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya untuk umat Islam, tapi untuk semesta. Tapi di Indonesia, Islam justru menjadi sumber ketegangan sosial dan politik identitas. Islam yang seharusnya menjadi solusi, justru tidak lagi fungsional dalam menyelesaikan masalah umat.

Merevolusi Keislaman Kita: Back to the Prophet, Back to the People

Solusinya bukan pada sistem politik semata, bukan pada wacana elit, tapi pada reformasi ruhani dan revolusi sosial—kembali kepada Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ secara utuh.

Kita perlu melakukan reinventing & reoperating nilai-nilai Islam:
1. Kembali pada adab sebelum ilmu.
2. Kembali pada tawadhu’ sebelum popularitas.
3. Kembali pada ukhuwah sebelum debat.
4. Kembali pada kerja nyata sebelum wacana kosong.

Umat Islam perlu membentuk gerakan Jihad Silaturahmi—memutus ego, menyambung hati, menembus sekat-sekat ormas dan mazhab, lalu menyatu dalam agenda besar: membangkitkan kembali Islam sebagai sistem nilai dan sumber solusi.

Islam Sempurna, Kita yang Bermasalah

Kita percaya Islam adalah agama yang sempurna, tapi kita juga harus sadar: kita belum mengamalkan kesempurnaannya secara utuh. Jika Islam tidak memberi solusi di negeri Muslim terbesar ini, maka pasti bukan ajarannya yang salah—tetapi kita yang belum menghayati dan mengoperasikannya.

Disfungsi umat Islam bukan kesalahan Tuhan, tetapi akibat dari:
• Penyakit hati yang merajalela (riya, ujub, ego).
• Kegagalan kolektif dalam membangun sistem dakwah, pendidikan, dan ekonomi yang adil.
• Fragmentasi kepemimpinan umat akibat politik kekuasaan.

Penutup: Saatnya Menyatu, Bangkit, dan Menjadi Solusi

Mari kita jujur menatap realitas, dan mari kita bergerak. Tidak cukup hanya mengkritik, kita harus menjadi bagian dari solusi. Islam tidak akan kembali berjaya hanya dengan nostalgia masa lalu, tapi dengan menata kembali masa kini untuk menjemput masa depan yang cerah.

Indonesia bisa menjadi pusat kebangkitan Islam dunia, jika umatnya bersatu dan kembali kepada misi awal kenabian: rahmatan lil ‘alamin. Dari Melayu Indonesia dan Melayu Malaysia, insyaAllah nyala kebangkitan akan dimulai—dengan ruh cinta, ilmu, adab, dan kerja nyata.

Taqabbalallahu minna wa minkum.
Minal ‘aidin wal faizin.
Mohon maaf lahir dan batin.
Semoga Ramadhan ini menjadi pemantik perubahan, dan Idul Fitri ini menjadi titik balik kesadaran kolektif kita.

Referensi Data:
1. Pew Research Center (2017). _“The Future of the Global Muslim Population.”
2. BPS Indonesia (2023). “Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama.”
3. Transparency International (2023). “Corruption Perceptions Index.”
4. UNDP (2023) Human Development Reports. “Indonesia Human Development Index.”
5. Wahid Institute (2022). “Survei Toleransi dan Keagamaan di Indonesia.”

Klik untuk baca: https://www.facebook.com/share/1A5f8xDG6w/?mibextid=wwXIfr

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments