Google search engine
HomePolitikSerial Refleksi Akademik: “Belajar Lagi Sebagai Ijtihad Intelektual”

Serial Refleksi Akademik: “Belajar Lagi Sebagai Ijtihad Intelektual”

KEMBALI KULIAH DI USIA MATANG: ANTARA IDEALITAS ILMU, TEKANAN SISTEM, DAN AMANAH KEBERMANFAATAN

🧩 Episode 1 dari 8 – Serial Refleksi Akademik: “Belajar Lagi Sebagai Ijtihad Intelektual”

✍️ Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
Surabaya, 21 November 2025

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Ada kalimat yang pelan-pelan berubah menjadi doa hidup:

“Aku kembali menjadi mahasiswa. Di usia matang. Tanpa paksaan. Tanpa ambisi gelar.”

Di usia ketika banyak teman sebaya mulai mengurangi aktivitas, menikmati cucu, atau fokus pada bisnis dan organisasi, ada sebagian orang yang justru kembali duduk di bangku kuliah. Bukan karena dikejar jabatan, tapi karena dikejar pertanyaan:

“Sisa hidup ini mau dipakai untuk apa?”

Di titik itulah, kembali kuliah di usia matang bukan sekadar keputusan akademik, tapi ijtihad eksistensial–spiritual.

🌅 Pendidikan: Syarat Karier, Status Sosial, atau Jalan Kebermaknaan?

Di narasi sosial kita, pendidikan tinggi sering direduksi menjadi:
1. Syarat administratif karier – tanpa S2/S3, pintu jabatan tertentu tertutup.
2. Ritual status sosial – supaya “lebih pantas” di mata keluarga, jamaah, dan kolega.

Padahal riset tentang mature students di berbagai negara menunjukkan bahwa banyak mahasiswa dewasa justru memaknai kuliah sebagai:
1. jalan memperbaiki diri,
2. cara merapikan kembali arah hidup,
3. ruang mencari makna dan self-worth, bukan sekadar tiket naik tangga karier.

Di konteks Indonesia, pendidikan bisa menjadi alat pembebasan, tapi juga bisa jatuh menjadi komoditas status jika hanya dikejar sebagai syarat angka dan simbol.

Maka ketika seseorang di usia matang berkata:

“Bagiku, ini panggilan spiritual, bukan proyek gengsi.”

itu bukan kalimat puitis, tapi sikap hidup.

🏫 Romantisme Kampus vs Realitas “Dashboard dan Indeks”

Bagi yang pernah merasakan kuliah doktoral di awal 2000-an, kampus dulu dikenang sebagai:
1. ruang dialog ilmu,
2. tempat teori diuji,
3. tempat metodologi diperdebatkan.

Tidak ada istilah “submit Scopus dulu baru boleh sidang”, tidak ada APC ribuan dolar, tidak ada SINTA score yang menghantui. Yang menegangkan adalah substansi gagasan, bukan status jurnal.

Namun ketika kembali kuliah di dekade 2020-an, wajah kampus terasa berbeda. Telinga kita disambut kalimat:
1. “Sudah punya artikel Q1/Q2?”
2. “APC jurnal ini sekitar 2.000–3.000 USD.”
3. “Minimal SINTA 2, ya, untuk syarat kelulusan.”

Di banyak kampus, energi institusi tersedot ke logika angka: jumlah publikasi, indeks, sitasi, peringkat, dashboard akreditasi.

Pertanyaan pun muncul:

“Aku datang mencari substansi, kenapa justru disambut administrasi?”

💸 Industri Jurnal, APC, dan Ketidakadilan Epistemik

Data global menunjukkan bahwa publikasi ilmiah hari ini bukan hanya urusan ilmu, tapi juga industri besar:
1. Rata-rata Article Processing Charge (APC) jurnal full open access kini berada di kisaran ± USD 2.000 per artikel.
2. Jurnal hybrid (berlangganan tapi ada opsi OA) bahkan bisa mendekati USD 3.000 per artikel.
3. Beberapa konsorsium universitas besar di dunia dilaporkan menghabiskan puluhan juta dolar hanya untuk membayar APC dalam lima tahun.
4. Enam penerbit besar dunia dilaporkan meraup lebih dari USD 1 miliar dari pasar APC global dalam beberapa tahun terakhir.

Bagi peneliti di negara maju, angka ini tetap berat tapi masih mungkin diatur lewat skema hibah, konsorsium, dan dana riset.

Namun di konteks Indonesia dan Global South, USD 2.000–3.000 berarti sekitar Rp30–50 juta per artikel. Bagi banyak dosen dan mahasiswa doktoral, ini adalah:
1. setara biaya satu tahun SPP anak,
2. setara modal usaha mikro yang bisa menghidupi satu keluarga.

Maka wajar jika muncul kegelisahan:

“Apakah ilmu sedang dikembangkan, atau sedang diperdagangkan?”

Masalahnya bukan kita anti-publikasi, tetapi kita menyadari adanya ketidakadilan epistemik:
1. Peneliti yang tak mampu bayar, tersingkir dari panggung jurnal global.
2. Narasi dari Selatan Global lebih sulit menembus pusat percakapan.
3. Sistem terlihat “adil” karena semua boleh submit, tapi tiket sebenarnya adalah daya beli.

👤 Mahasiswa Dewasa di Tengah Tekanan “Publish or Perish”

Untuk dosen muda, mungkin publish or perish masih bisa dilihat sebagai “harga profesional”. Tetapi bagi mahasiswa S3 di usia matang, posisinya berbeda:
1. sudah punya amanah keluarga, lembaga, jamaah, bisnis;
2. kembali kuliah untuk mendalami substansi, bukan sekadar menambah simbol;
• kini “dipaksa” ikut lomba angka dan indeks.

Literatur tentang mature students menunjukkan pola yang serupa:
1. Motivasi mereka mulia dan kompleks: memperbaiki diri, memperluas manfaat, memberi teladan bagi anak.
2. Namun risiko drop out dan kelelahan lebih tinggi karena beban hidup ganda (atau tiga).

Di sini terasa sekali paradoksnya:

Niat datang ke kampus untuk memurnikan ruh, tapi hidup justru makin penuh form, skor, dan dashboard.

🧭 Ilmu, Pasar, dan Niat: Di Mana Kita Berdiri?_

Dalam ideal Islam, ilmu adalah amanah dan public good: semakin dibagikan, semakin berkah. Tapi ketika akses ilmu global sangat ditentukan oleh APC dan indeks, kita berhadapan dengan realitas baru: ilmu sebagai komoditas.

Di sinilah niat menjadi penentu arah:
1. Apakah kita kembali kuliah hanya untuk menambah huruf di belakang nama?
• Atau karena ingin membenahi cara berpikir, menata ulang amal, dan memperluas manfaat?

Kalimat kunci yang perlu terus diulang:

“Aku tidak mengejar gelar aku mengejar dampak.”

Dampak di sini meliputi:
1. perubahan diri sendiri,
2. transformasi praktik di lembaga/komunitas,
3. suara baru dari pinggiran yang akhirnya masuk ke percakapan global.

📌 Rekomendasi Strategis & Implementasi (Untuk Diri, Kampus, dan Sistem)

🔹 Untuk diri sebagai mahasiswa dewasa
1. Luruskan niat: kuliah sebagai ibadah dan ijtihad intelektual, bukan proyek pencitraan.
2. Pilih topik riset yang betul-betul relevan dengan amanah hidup (umat, lembaga, daerah), bukan hanya yang “mudah publish”.
3. Susun strategi publikasi yang realistis: kombinasi jurnal nasional bereputasi, konferensi, dan jurnal internasional yang biaya dan audiensnya masuk akal.
4. Jaga kesehatan fisik dan mental; disertasi yang selesai lebih mulia daripada rancangan sempurna yang tak pernah tuntas.

🔹 Untuk kampus & dosen pembimbing
1. Mengakui bahwa mahasiswa dewasa bukan hanya “NIM”, tapi juga membawa amanah keluarga dan sosial.
2. Menyediakan support system khusus: fleksibilitas waktu, klinik penulisan, dan pendampingan publikasi yang transparan soal biaya dan risiko.
3. Mendorong skema jurnal tanpa APC (diamond OA), konsorsium pendanaan, dan penguatan jurnal nasional sebagai ruang wicara yang bermartabat.

🔹 Untuk pembuat kebijakan & organisasi profesi
1. Meninjau kembali syarat publikasi yang terlalu sempit (hanya Scopus/SINTA tertentu), agar tidak menutup ruang bagi topik-topik strategis yang butuh kanal berbeda.
2. Mengembangkan skema nasional dukungan APC yang adil, dengan prioritas pada tema riset yang berdampak bagi umat dan bangsa.

🔮 Dalil & Kompas Ruhani

Ketika semua terasa teknis dan administratif, kita perlu kembali kepada kompas wahyu.

🔹 Doa ilmu dalam Al-Qur’an

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Wa qul rabbi zidnī ʿilmā
“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Ṭāhā [20]: 114)

🔹 Hadis tentang jalan menuntut ilmu

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Man salaka ṭarīqan yaltamisu fīhi ʿilmًا, sahhala Allāhu lahū bihī ṭarīqan ilā al-jannah

“Barangsiapa menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Dalil ini mengingatkan: selagi jalan yang kita tempuh bernama “mencari ilmu”, dan niatnya adalah Allah serta kebermanfaatan, maka setiap form, sidang, revisi, dan artikel bisa berubah menjadi langkah menuju jannah – asalkan kita menjaga hati agar tidak diperbudak angka dan gengsi.

🌱 Penutup Reflektif & Ajakan

Kembali kuliah di usia matang bukan langkah mundur. Ia adalah:
• tanda bahwa ruh masih hidup,
• pengakuan jujur bahwa kita masih perlu belajar,
• ikhtiar agar pengaruh sosial dan dakwah kita berdiri di atas landasan ilmiah yang lebih kokoh.

Sistem mungkin keras: publish or perish, APC mahal, audit culture melelahkan. Tapi di tengah semua itu, selalu ada ruang kecil bernama niat dan strategi. Di ruang itulah kita diuji:
1. apakah kita sekadar menjadi operator angka,
2. atau tetap menjadi hamba Allah yang menjadikan ilmu sebagai amanah.

Mari sama-sama:
1. meluruskan niat,
2. menata strategi,
3. saling menguatkan sesama “mahasiswa dewasa” yang sedang berjihad di kampus.

Semoga setiap halaman yang kita baca, setiap draft yang kita revisi, dan setiap artikel yang akhirnya terbit, dicatat sebagai amal jariyah ilmu, bukan sekadar pemanjang CV.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

🔗 Versi panjang artikel (Bab I–VIII) bisa panjenengan bagikan di sini: https://www.facebook.com/share/14NVeML446a/?mibextid=wwXIfr

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments