Google search engine
HomeEkbisSurplus Neraca Perdagangan Tumbuh Sebesar 71,71 Persen yoy

Surplus Neraca Perdagangan Tumbuh Sebesar 71,71 Persen yoy

JAKARTA-kanalsembilan.com (04 Maret 2025).

Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 26 Februari 2025 menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) tetap terjaga, di tengah tantangan perekonomian global dan domestik.

Plt. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi, M. Ismail
Riyadi mengatakan ertumbuhan ekonomi global relatif stagnan dengan inflasi di beberapa negara maju mulai menunjukkan tren penurunan. Volatilitas pasar tetap tinggi seiring
ketidakpastian kebijakan ekonomi dan geopolitik yang terus berkembang.

Di Amerika Serikat (AS), pertumbuhan ekonomi tetap solid dengan aktivitas
ekonomi didukung oleh konsumsi domestik. Inflasi berada di level 3 persen yoy pada
Januari 2025 dan core CPI naik ke 3,3 persen yoy menunjukkan bahwa tekanan
harga di luar sektor energi dan pangan masih cukup tinggi.

Pasar tenaga kerja tetap kuat dengan tingkat pengangguran turun ke 4 persen, meski angka peningkatan Nonfarm Payroll jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar. Kebijakan moneter cenderung netral, dengan The Fed diperkirakan hanya akan memangkas Fed Fund
Rate (FFR) 1 hingga 2 kali di tahun 2025.

Dari sisi geopolitik, upaya penyelesaian konflik Ukraina dan Rusia belum
menemukan titik terang pascapertemuan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy
dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih baru-baru ini yang tidak
mencapai kesepakatan. Selain itu, rencana penerapan tarif baru AS terhadap negara
mitra dagang juga meningkatkan ketidakpastian.

Di Tiongkok, pertumbuhan ekonomi cenderung tertahan dengan CPI tercatat masih
rendah sebesar 0,5 persen yoy, dan indeks harga produsen (PPI) terus mengalami
kontraksi. Adapun PMI masih di zona ekspansi namun turun menjadi sebesar 50,1,
di bawah ekspektasi pasar.

Sementara itu, Bank Sentral mempertahankan suku bunga acuan, menunjukkan pendekatan hati-hati dalam pelonggaran moneter. Tiongkok juga memperketat regulasi ekspor rare earth yang dapat berdampak pada industri teknologi global.

“Dari sisi domestik, inflasi cukup terkendali dengan inflasi Januari tercatat 0,76
persen yoy, dan inflasi inti sebesar 2,26 persen yoy yang menunjukkan permintaan
domestik masih cukup baik,” jelas M. Ismail Riyadi.

Namun demikian, perlu dicermati indikator permintaan domestik lainnya, di antaranya berlanjutnya penurunan penjualan kendaraan baik motor dan mobil, penurunan penjualan semen, serta perlambatan pertumbuhan harga dan penurunan volume penjualan rumah.

Disisi supply, PMI Manufaktur pada Januari 2025 naik ke level 51,9 dari sebelumnya 51,2. Kinerja eksternal tetap solid di tengah perlambatan ekonomi global, terlihat pada surplus neraca perdagangan yang terus berlangsung, pada Januari 2025 meningkat ke USD 3,45
miliar (Des-24: USD 2,24 miliar), tumbuh sebesar 71,71 persen yoy.(za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments