SURABAYA-kanalsembilan.com (12 Oktober 2026)
Mendukung penguatan sumber daya di kawasan transmigrasi, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang sejumlah teknologi tepat guna untuk mendorong perekonomian masyarakat pesisir. Prinsip ekonomi sirkular menjadi basis pengembangan untuk menopang pemberdayaan masyarakat Tanjung Banun, Kecamatan Galang, Kota Batam.
Melalui tema Desain Teknologi dan Inovasi Tepat Guna (TTG) Kawasan Transmigrasi, inovasi akan disasarkan pada pengelolaan sampah, hasil perikanan, limbah domestik, dan kebutuhan energi warga. Tema ini merupakan bagian dari arah re-orientasi transmigrasi dengan menciptakan ekosistem ekonomi baru yang ditopang modal (lahan dan rumah), sumber daya manusia (SDM) yang terampil, serta tata kelola, inovasi, dan teknologi.
Ir Hendro Nurhadi PhD selaku Ketua Tim menerangkan bahwa mata pencaharian utama masyarakat di wilayah Tanjung Banun adalah nelayan skala kecil. Hendro mengungkapkan bahwa sekitar 57,86 persen kapal nelayan di Kecamatan Galang berukuran di bawah 5 Gross Tonnage (GT). “Dengan itu, hasil tangkapan nelayan masih rendah dan mayoritas hanya untuk konsumsi rumah tangga atau dijual belikan ke tetangga,” ungkap Hendro.
Lebih lanjut, menurut Hendro, persoalan tersebut juga diperparah dengan tidak adanya mesin pendingin untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan, sehingga ikan harus segera dijual dengan harga rendah. Tidak hanya itu, Hendro dan tim menemukan bahwa para nelayan hingga kini masih sangat bergantung dengan tengkulak atau pedagang perantara.
Untuk itu, Hendro dan tim merancang sistem TTG cold storage dan palka pendingin yang dapat dipasang langsung pada kapal nelayan. “Tim kami juga membuat desain cooling box hemat energi yang dapat dipadukan dengan sistem panel surya guna menekan biaya operasional,” terang Hendro.
Tidak hanya berfokus pada hasil tangkapan segar, TEP ITS juga berupaya mendongkrak nilai tambah komoditas perikanan melalui penyediaan mesin food dehydrator. Yakni alat yang mampu mendukung pengolahan hasil perikanan menjadi ikan kering. Dengan menghilangkan kadar air pada ikan, Hendro mengungkapkan bahwa alat ini dapat memperpanjang usia penyimpanannya.
Rantai inovasi ini kemudian diperluas untuk menyokong sektor pertanian pekarangan dan budidaya akuaponik warga. Namun, warga kerap mengeluhkan listrik di kawasan sering padam dan mengganggu usaha budidaya akuaponik. “Jadi kami juga menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dapat menjadi sumber energi cadangan yang mandiri,” beber Kepala Pusat Teknologi Tepat Guna ITS itu.
Kemudian, sinergi teknologi ini disempurnakan lewat pendekatan lingkungan yang menyeluruh. Tim merumuskan teknologi unggulan Thermal Incinerator atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Teknologi tersebut turut menjadi prioritas tim setelah mendapati pengelolaan sampah yang tidak maksimal di daerah setempat.
Berdasarkan peninjauan di lapangan, tim menghitung timbunan sampah berkisar pada angka 7,1 ton perhari. Melihat angka tersebut, Hendro mengukur bahwa skala itu cocok untuk operasional PLTSa mikro yang dapat menyuplai fasilitas publik dan pusat ekonomi warga. “Incinerator itu dapat menekan volume sampah sekaligus menghasilkan tenaga listrik,” papar dosen Departemen Teknik Mesin Industri ITS tersebut.
Rangkaian siklus ramah lingkungan ini ditutup dengan penyediaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berbasis biofilter. Tim menggabungkan dua metode biologis tanpa oksigen dan dengan oksigen (anaerob-aerob) untuk mengolah limbah domestik rumah tangga. “Untuk IPAL, kami juga melengkapi model bisnis pemeliharaannya guna menjaga keberlanjutan,” imbuh Hendro.
Dengan demikian, kelima teknologi yang dikembangkan oleh tim yang bernama TEP 25 ITS 2026 itu disusun dalam empat klaster yang saling bersinergi. Mulai dari energi terbarukan, rantai dingin dan nilai tambah sektor perikanan, pengelolaan lingkungan, serta kelembagaan dan pembiayaan.
Untuk target implementasi pasca TEP, Hendro menyebut telah merancang peta jalan penerapan TTG secara bertahap. Pertama yakni, pilot project thermal incinerator dan cold storage komunal. Selain itu, terdapat pula pembentukan atau penguatan koperasi nelayan sebagai pengelola, serta pelatihan operasional dasar bagi warga.
Selanjutnya, dalam jangka menengah, terdapat pengembangan solar farm dan IPAL, hingga perluasan layanan TTG ke seluruh blok permukiman. Tim juga merencanakan integrasi ke dalam rencana pengembangan Rempang Eco City sebagai proyek kawasan ekonomi di Batam. “Rencana replikasi model TTG ke kawasan transmigrasi di wilayah pesisir serupa lainnya, serta pengembangan inkubasi usaha menjadi salah satu target jangka panjang kami,” tutur Hendro mewakili tim.
Setiap inovasi yang ditawarkan oleh kelompok patriot ITS ini merupakan langkah nyata dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Inisiatif ini sejalan dengan SDG 6 dalam memastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak.
Pembangunan PLTS dan PLTSa juga mendukung SDG 7 dalam menawarkan energi alternatif yang terjangkau dan berkelanjutan. Turut pula tercapainya SDG 11 terkait kota dan permukiman yang berkelanjutan dengan didukungnya cita-cita SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. (za).


