RENUNGAN HARI JUMAT
semoga berkenan dan bermanfaat.
Tongkat Nabi Musa dilempar menjadi Ular menghabisi ular-ularnya para penyihir Firaun.
Diacungkan ke laut merah, laut terbelah kemudian tertutup menghabisi Firaun dan tentaranya.
_Tongkat Nabi Musa Sakti.
Misal tongkat itu masih ada di museum, bisakah kita lempar juga agar menjadi Ular atau kita acungkan ke laut hingga laut itu terbelah…?
Insyaallah jawabnya tidak….. lalu kenapa tongkat Nabi Musa menjadi tidak sakti?
Jawabannya ……….
Karena yang sakti bukanlah tongkatnya,
Tongkat itu hanya kayu biasa. Yang membuatnya sakti adalah:
1. Siapa yang memegangnya, dan
2. Siapa yang memberi izin kesaktiannya.
Yang memegang adalah seorang Nabi yang taat, yang sabar, yang yakin total kepada Allah. Dan yang memberi izin sakti adalah Allah SWT sendiri. Ada keimanan, ada ketaqwaan, ada perjuangan dan ada izin dari langit. Tanpa itu, tongkat tetaplah tongkat.
Ketika tongkat di tangan kita yang imannya masih bolak-balik, yang masih cinta dunia, tentu tidak akan menjadi ular. Karena Allah tidak berikan mukjizat itu kepada kita.
Analogi PANCASILA SAKTI …….. ………. …..
Begitu juga dengan Pancasila,
Hari ini kita peringati Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober. Kita tulis besar-besar di spanduk “PANCASILA SAKTI”.
Lalu kalau Pancasila itu sakti, kenapa korupsi masih merajalela? Kenapa keadilan masih terasa jauh? Kenapa persatuan masih mudah diadu domba? Kenapa sila ke-5 “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” belum kita rasakan sepenuhnya?
Jawabannya sama dengan tongkat Musa.
Pancasila menjadi tidak sakti, kalau hanya menjadi teks yang dihafalkan di sekolah, menjadi pajangan di dinding kantor, menjadi mantra upacara hari Senin.
Pancasila itu hanya naskah. Kayu biasa.
Pancasila akan menjadi SAKTI kembali kalau:
1. Dipegang oleh “Musa-Musa” masa kini. Yaitu pemimpin dan rakyat yang jujur, yang takut kepada Tuhan, yang menomor-satukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. Seperti para pejuang PETA, seperti para pahlawan Palagan Mendalan yang Jendral doakan kemarin, mereka tidak hafal Pancasila, tapi mereka laksanakan Pancasila dengan darahnya.
2. Mendapat izin untuk sakti dari yang Maha Kuasa dan dari rakyat. Yaitu ketika nilai-nilainya benar-benar DIAMALKAN. Ketuhanan yang Maha Esa bukan hanya sila pertama, tapi sholatnya dijaga, kejujurannya dijaga. Kemanusiaan yang adil dan beradab, bukan hanya slogan, tapi kita tidak tega melihat tetangga kelaparan.
Tongkat Musa membelah laut karena ada ketaatan.
Pancasila akan membelah kemiskinan, membelah kebodohan, membelah perpecahan, kalau ada ketaatan kita untuk mengamalkannya.
Tanpa pengamalan, tongkat hanya kayu.
Tanpa pengamalan, Pancasila hanya tulisan.
Maka tugas kita bukan hanya menjaga kesaktian Pancasila dengan upacara, tapi menjaganya dengan perilaku kita sehari-hari.
Semoga Allah SWT mengembalikan kesaktian itu kepada bangsa kita.
Mau ditambahin ayat Al-Qur’an tentang tongkat Musa (QS. Thaha : 17-21).
(gwa-dkbl)


