Sebagian orang telah merasakan ketenangan hati dengan rezeki yang diperolehnya dan berkata, “Gajiku sudah cukup bagiku,” atau “Saya memiliki uang pensiun,” atau “Saya mendapatkan penghasilan dari rumah atau tokoku, maka saya merasa tenang dengan rezekiku dan bertawakkal kepada Rabbku.”
Ia mengira bahwa hal ini adalah ketenangan karena Allah dan bentuk bertawakkal kepada-Nya. Padahal, yang sebenarnya terjadi hanyalah ketenangan karena adanya sesuatu yang pasti, seperti gaji atau pensiun.
Jika salah satu dari sumber penghasilan itu terputus, ia akan merasa takut, cemas, dan panik. Rasa takut ini adalah tabiat manusiawi, tetapi yang perlu dipahami adalah bahwa seseorang tidak boleh mengira dirinya telah mencapai hakikat tawakkal dalam rezeki hanya karena merasa tenang dan bergantung pada sesuatu yang sudah terjamin.
Penyucian jiwa (tazkiyah) yang sejati adalah ketika seseorang menanamkan dalam dirinya ketenangan dan ketergantungan hanya kepada Allah, baik dalam keadaan memiliki sumber penghasilan maupun saat semua itu terputus.
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata,
ومنه: اشتباه الطُّمأنينة إلى الله والسُّكون إليه بالطُّمأنينة إلى المعلوم وسكون القلب إليه. ولا يميِّز بينهما إلَّا صاحب البصيرة،
كما يُذكر عن أبي سليمان الداراني رحمه الله أنه رأى رجلًا بمكَّة ــ أعزَّها الله ــ لا يتناول شيئًا إلا شربةً من ماء زمزم، فمضى عليه أيام، فقال له أبو سليمان يومًا: أرأيت لو غارت زمزم، أيشٍ كنت تشرب؟ فقام وقبَّل رأسه وقال: جزاك الله خيرًا حيث أرشدتَني، فإنِّي كنت أعبد زمزم منذ أيام ، ومضى
وأكثر المتوكِّلين سكونهم وطمأنينتهم إلى المعلوم، وهم يظنُّون أنه إلى الله، وعلامة ذلك أنّه متى انقطع معلومُ أحدهم حضره همُّه وبثُّه وخوفه. فعُلِم أنَّ طمأنينته وسكونه لم يكن إلى الله
“Di antara bentuk kekeliruan adalah menyamakan “ketenangan hati karena Allah dan bersandar kepada-Nya dengan ketenangan karena sesuatu yang sudah pasti dan bergantungnya hati kepadanya. Tidak ada yang mampu membedakan keduanya kecuali orang yang memiliki bashirah (ketajaman hati).
Sebagaimana dikisahkan dari Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah, ia melihat seseorang di Makkah—semoga Allah memuliakannya—yang tidak makan apa pun selain hanya meminum air zamzam. Hari-hari berlalu, lalu suatu hari Abu Sulaiman bertanya kepadanya, “Bagaimana jika air zamzam mengering? Apa yang akan kau minum?”
Maka orang itu bangkit, mencium kepala Abu Sulaiman, dan berkata, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan karena telah menasihatiku. Aku selama beberapa hari ini justru menyembah zamzam.” Kemudian ia pergi.
Banyak orang yang mengaku telah bertawakkal, tapi sebenarnya mereka hanya merasa tenang dan bersandar pada sesuatu yang pasti. Mereka mengira itu adalah ketenangan kepada Allah. Tanda bahwa seseorang hanya bersandar pada sesuatu yang pasti dan bukan kepada Allah adalah ketika sumber rezekinya terputus, ia langsung dirundung kesedihan, kecemasan, dan ketakutan. Dari situ diketahui bahwa ketenangan dan ketergantungannya selama ini bukan kepada Allah.” [Madarij As-Salikin]
#nasihat
#tauhid
Selamat beraktifitas, Jadilah Kunci2 Pembuka KeBaikan, semoga segala kebaikan yg kita kerjakan bernilai ibadah disisi Alloh azza wa jalla…
BaarokaAllohu Fiikum


