Oleh: Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah_
š© AssalÄmuāalaikum warahmatullÄhi wabarakÄtuh.
Sahabat se-Bangsa dan se-Tanah Air yang budiman,
Hari ini, kita tidak sedang bicara teori ekonomi. Kita sedang menghadapi realitas pahit yang menampar hidup sehari-hari rakyat.
Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, tapi upah tak kunjung naik.
Bensin mahal, listrik mahal, dan bahkan nasi kucing pun kena pajak.
š Di balik statistik pertumbuhan ekonomi yang katanya positif, sesungguhnya sedang terjadi ledakan sunyi di perut rakyat.
Tidak terdengar seperti bom, tapi *mematikan pelan-pelan.
Seperti racun yang masuk lewat meja makan:* rakyat makin lapar, negara makin rakus.
āø»
š UTANG: ANTARA SOLUSI ATAU JERATAN?
Utang negara kini tembus Rp8.300 triliun lebih.
Beban bunga utang melebihi Rp500 triliun per tahunābahkan melebihi total anggaran pendidikan dan kesehatan jika digabung.
Rasio utang terhadap PDB memang masih di bawah 60%,
tapi rasio pembayaran utang terhadap penerimaan negara sudah di atas 40%.
Artinya:kita gali lubang untuk tutup lubang.
Bukan membangun, tapi bertahan hidup.
Yang lebih menyakitkan:
utang dibayar rakyat, dinikmati elite.
āø»
š·āāļø PENGANGGURAN DAN BONUS DEMOGRAFI YANG GAGAL
Ketika anak-anak muda lulus kuliah dengan harapan tinggi,
yang mereka temui justru: PHK, outsourcing, dan lapangan kerja yang makin informal.
š Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat:
Tingkat pengangguran terbuka masih di atas 5%,
tapi tingkat pekerjaan informal lebih dari 59%.
Mereka bekerja,
tapi tanpa jaminan kesehatan, pensiun, atau masa depan.
Apa gunanya bonus demografi jika hanya jadi bonus statistik?
āø»
šø PENDAPATAN RAKYAT TURUN, TAPI PAJAK TERUS NAIK
Pemerintah bilang: āuntuk menyehatkan fiskal, pajak harus diperluas.ā
Hasilnya?
ā
Rakyat disuruh bayar PPN 11%
ā
Petani kena pajak natura
ā
Warung kopi diminta pakai NIK untuk setor pajak
ā
Bahkan ada wacana pajak jajanan anak sekolah
š Di mana rasa keadilan fiskal itu?
Mengapa yang kaya diampuni lewat tax amnesty,
tapi yang kecil dikejar sampai ke ujung sendok?
Mengapa mafia pajak masih merdeka,
sementara rakyat kecil dicekik pajak demi negara
yang katanya āuntuk kita semuaā?
āø»
š FISKAL YANG MEMBESAR, TAPI TIDAK MERATA
Belanja negara meningkat,
tapi defisit juga melebar.
APBN makin jumbo,
tapi anggaran untuk rakyat justru menyusut.
š Tahun 2023:
ā
Transfer ke daerah dikurangi
ā
Belanja kementerian pusat ditambah
Rezim fiskal kita seperti orang kaya yang boros,
berutang terus, tapi uangnya tidak pernah sampai ke dapur rakyat.
āø»
š ALTERNATIFNYA ADA, TAPI TIDAK DIPILIH
Padahal Indonesia punya alternatif nyata:
ā
Reformasi subsidi agar tepat sasaran
ā
Cetak uang dengan pengawasan moneter yang kuat
ā
Redistribusi aset produktif untuk rakyat
ā
Wakaf produktif untuk energi dan pangan
ā
Zakat kolektif untuk mengentaskan kemiskinan
ā
Koperasi rakyat yang digerakkan dengan energi komunitas
Sayangnya, paradigma fiskal kita masih top-down.
Rakyat hanya dianggap sebagai obyek, bukan subyek kebijakan.
āø»
šÆ PERTANYAANNYA SEKARANG: PAJAK UNTUK SIAPA?
Apakah pajak hari ini masih digunakan untuk:
šø pendidikan yang merata?
šø membangun desa tertinggal?
šø membebaskan rakyat dari cengkeraman rente dan utang?
Atau justru:
pajak hanya jadi alat survival rezim,
dan rakyat dijadikan sapi perah fiskal yang tak boleh mengeluh?
āø»
š SAATNYA KITA BICARA KEDAULATAN EKONOMI
Kita tidak boleh diam.
Karena ketika suara rakyat tidak lagi terdengar dalam rapat anggaran,
maka tugas kitalah untuk membunyikan lonceng peringatan.
š Indonesia tidak kekurangan data.
Indonesia kekurangan keberanian untuk berubah.
Dan perubahan hanya dimulai jika kesadaran rakyat tumbuh
ā secara kolektif, masif, dan terorganisir.
āø»
š Sahabat sekalian,
Jangan berhenti membaca sampai di sini.
š Pelajari lebih dalam, pahami lebih luas, dan sebarkan kesadaran ini kepada saudaramu, rekanmu, tetanggamu.
š BACA ARTIKEL LENGKAPNYA (BAB 1ā7):
UTANG MENGGUNUNG, PENGANGGURAN BESAR, PENDAPATAN MINUS: SIAP-SIAP APA-APA DIPAJAKIN!
ā Karena pajak tanpa keadilan, adalah bentuk kekuasaan tanpa nurani.
Dan rakyat yang sadar, tidak akan mudah dibungkam dengan slogan.
š© WassalÄmuāalaikum warahmatullÄhi wabarakÄtuh.


