Google search engine
HomePendidikanWujudkan Kemandirian Energi di Papua Barat, Mentrans Apresiasi Patriot ITS

Wujudkan Kemandirian Energi di Papua Barat, Mentrans Apresiasi Patriot ITS

Reporter: Hafidz Ridho
Redaktur: Zainuddin

MANOKWARI SELATAN-kanalsembilan.com (13 September 2026)

Kotoran ternak yang selama ini belum banyak dimanfaatkan mulai menemukan nilai baru bagi masyarakat Kampung Margorukun, Distrik Oransbari, Manokwari Selatan, Papua Barat. Melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 08 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), limbah ternak tersebut diolah menjadi sumber energi alternatif melalui reaktor biogas.

Inisiatif tersebut mendapat perhatian Menteri Transmigrasi (Mentrans) RI Dr Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara SH MA yang meninjau lokasi secara langsung, Sabtu (12/9).

Selama ini, masyarakat Margorukun banyak memelihara sapi dengan pola ternak yang dibiarkan liar. Di sisi lain, kebutuhan energi rumah tangga masih menghadapi tantangan.

Mayoritas warga bergantung pada minyak tanah untuk memasak yang notabene tergolong langka. Kondisi tersebut membuka peluang pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat sebagai energi alternatif.

Melihat potensi tersebut, TEP 08 ITS menghadirkan reaktor biogas yang mengolah kotoran sapi menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak.

Selain itu, biogas juga dapat dikonversi menjadi energi listrik melalui generator stasioner. Ketua TEP 08 ITS, Dr Ir Arief Abdurrakhman ST MT menjelaskan reaktor kapasitas 10 meter kubik dengan 10 ekor sapi dapat memenuhi kebutuhan memasak untuk dua rumah.

“Sedangkan dengan 20 ekor sapi, biogas yang dihasilkan dapat dikonversi menjadi listrik dengan daya 2.000 watt selama lima jam per hari untuk satu rumah,” jelasnya.

Tidak hanya memenuhi kebutuhan energi, Arief juga menjelaskan bahwa residu fermentasi berupa bioslurry dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk mendukung aktivitas pertanian masyarakat. Potensi tersebut menjadi semakin relevan bagi warga Distrik Oransbari yang sebagian besar menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian.

“Dengan memanfaatkan limbah ternak sebagai sumber energi dan mengolah sisa fermentasinya menjadi pupuk, satu inovasi dapat menjawab lebih dari satu kebutuhan masyarakat, mulai dari energi rumah tangga hingga kebutuhan pendukung pertanian,” ujar dosen Departemen Teknik Instrumentasi ITS tersebut.

Atas kerja nyata yang dilakukan oleh TEP 08 ITS, Mentrans menyatakan apresiasinya. Menurutnya, pemanfaatan potensi lokal seperti ternak dan hasil pertanian perlu diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sendiri.

Karena itu, ia mendorong agar pemanfaatan biogas tidak berhenti pada kebutuhan memasak, tetapi segera dikembangkan menuju konversi energi listrik. “Konversi listrik harus segera direalisasikan,” tegasnya.

Selain itu, Mentrans yang akrab disapa Iftitah tersebut menekankan bahwa keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari teknologi yang berhasil dibangun. Hal yang lebih penting adalah memastikan masyarakat mampu melanjutkan dan mengembangkan manfaatnya secara mandiri.

Sejalan dengan Iftitah, TEP 08 ITS membentuk Tim Kader Patriot (TKP) yang terdiri atas masyarakat dan perangkat daerah setempat yang telah dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga keberlanjutan program setelah tim kembali ke daerah asalnya. Pembentukan TKP ini juga dilakukan di seluruh lokasi ekspedisi TEP ITS.

Iftitah menilai mekanisme TKP merupakan kekuatan penting dalam pelaksanaan program transmigrasi patriot yang dijalankan ITS. Menurutnya, keberadaan kader lokal membuat transfer pengetahuan dan teknologi tidak berhenti ketika tim pendamping meninggalkan lokasi.

Dengan demikian, teknologi yang hadir bukan sekadar menjadi bantuan sesaat, melainkan menjadi modal bagi masyarakat untuk membangun kesejahteraannya secara mandiri.

“Tidak hanya untuk masyarakat transmigran, tetapi juga untuk masyarakat Papua secara keseluruhan,” ujarnya.

Bupati Manokwari Selatan, Bernard Mandacan turut hadir dalam peninjauan lokasi dan menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif yang dibawa TEP 08 ITS. Menurutnya, kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi dari ITS memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi yang selama ini tersedia di lingkungannya.

“Ilmu dan teknologi yang dibawa Tim Ekspedisi Patriot dapat memacu masyarakat untuk berdaya,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Arief menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Transmigrasi atas hadirnya program Transmigrasi Patriot. Menurutnya, program tersebut dapat menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi di luar lingkungan kampus agar dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.

“Melalui program ini, ilmu dan teknologi yang kami miliki mampu dihilirisasi dan berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya.

Reaktor biogas di Margorukun pada akhirnya bukan sekadar fasilitas pengolahan limbah ternak. Inovasi ini mampu mempertemukan potensi lokal dengan kebutuhan nyata masyarakat, dimana kotoran ternak menjadi energi, residu menjadi pupuk, dan pengetahuan menjadi bekal bagi masyarakat untuk melanjutkan program secara mandiri.

Hal ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau dan poin ke-11 tentang Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan.

Selain itu, SDGs poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan juga tercermin melalui kolaborasi TEP 08 ITS bersama masyarakat dan pemerintah daerah untuk memastikan teknologi tidak berhenti sebagai solusi yang datang dari luar. Sebaliknya, teknologi diharapkan tumbuh menjadi kemampuan lokal yang terus dikembangkan untuk memperkuat kemandirian dan kesejahteraan masyarakat Papua. (rid).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments