Google search engine
HomeUncategorizedSusur Galur Perempuan Negarawan Hebat Indonesia

Susur Galur Perempuan Negarawan Hebat Indonesia

Oleh : Firman Syah Ali

Hari-hari ini, Indonesia masih terus terpukau oleh senyum manis Presiden kelima, Megawati Soekarnoputeri, sembari menggandeng tangan Presiden RI Prabowo Subianto pada momen Upacara Hari Lahir Pancasila, tanggal 1 Juni 2026, di Gedung Pancasila, Jakarta.

Momennya sangat singkat, tapi resonansinya terus bergema melintasi hari bahkan bisa melintasi abad, karena akan dikenang sebagai peristiwa kenegarawanan seorang tokoh, pemimpin, mantan Presiden, dan perempuan.

Publik tau bahwa Megawati sering berbalas pantun dengan pemerintah dalam berbagai kesempatan. Kritikan pedas kerap menghantam dinding-dinding istana. Istanapun kadang membalas. Namun momen gandengan tangan kemarin, menunjukkan bahwa perbedaan pandangan tentang tata kelola negara bukan berarti bermusuhan secara interpersonal. Itulah sikap negarawan.

Orang sering bertanya, apa perbedaan negarawan dengan politikus. Jawabannya gampang. Negarawan berpikir tentang bagaimana nasib generasi penerus negara ini kelak, sedangkan politikus berpikir bagaimana nasib dirinya sendiri pada Pemilu mendatang. Berangkat dari pola pikir tersebutlah, Megawati telah mewariskan teladan sikap bernegara yang baik untuk generasi penerus.

TINJAUAN SEJARAH

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa peradaban luhur bangsa tidak dibangun oleh lelaki, tapi justeru oleh perempuan. Setidaknya ada dua perempuan hebat yang berhasil membangun dinasti-dinasti besar, seperti Dinasti Sanjaya, Syailendra, Isyana, Rajasa (Singasari-Majapahit), Demak, Pajang dan Mataram.

Pertama, RATU SHIMA. Ratu Shima adalah pemimpin Kerajaan Kalingga (674-695) yang terkenal adil, tegas dan bijaksana. Bahkan puteranya sendiri tidak luput dari sanksi pidana potong kaki. Dari rahim Ratu Shima turunlah raja-raja dan ratu-ratu dari Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra.

Kedua, PUTERI SANAHA, Cucu Ratu Shima, dari Kerajaan Galuh, peletak fondasi Imperium Medang sebagai penerus Kalingga, Sunda, dan Galuh.

Ketiga, RATU PRAMODAWARDHANI, cicit generasi keenam Ratu Shima, pemersatu Dinasti Sanjaya dan Syailendra di Imperium Medang.

Keempat, RATU ISYANA, cicit generasi kedelapan Ratu Shima, pembuka Dinasti Isyana di Imperium Medang.

Kelima, RATU MAHENDRATTA, cicit generasi kesepuluh Ratu Shima, pemersatu Dinasti Jawa dan Bali.

Keenam, DEWI KILISUCI, cicit generasi kesebelas Ratu Shima, puteri Raja Airlangga yang menolak tahta dan memilih jadi pertapa.

Ketujuh, DEWI SARA, cicit generasi keempatbelas Ratu Shima, Permaisuri Raja Jayabaya dari Kediri, yang kekuatan spiritualnya berkolaborasi dengan kekuatan spiritual Raja Jayabaya.

Kedelapan, KEN DEDES, Permaisuri Ken Arok, leluhur raja-raja Jawa Madura sejak Singosari hingga Mataram (menurut serat Pararaton).

Kesembilan, RAJAPATNI, cicit generasi keempat Ken Dedes, isteri tercinta Nararya Sanggrama Wijaya yang menolak tahta Majapahit dan memilih jadi pertapa.

Kesepuluh, RATU TRIBUWANA WIJAYATTUNGGADEWI, cicit generasi kelima Ken Dedes, dari Dinasti Rajasa, peletak fondasi kejayaan Majapahit.

Kesebelas, RATU SUHITA (Ratu Kencanawungu), cicit generasi ketujuh Ken Dedes, pemersatu Majapahit pasca perang Paregreg;

Kedua belas, RATU KALINYAMAT, cicit generasi kesebelas Ken Dedes, Panglima perang melawan penjajah, Pahlawan Nasional RI.

Ketiga belas, RATU MAS HADI/Dyah Banowati, cicit generasi ke-13 Ken Dedes, Ibunda Sultan Agung, sang inspirator besar kejayaan Mataram.

Keempat belas, RA Matah Ati dari Wonogiri, permaisuri Pangeran Sambernyowo (Mangkunegara I) dan pemimpin Laskar Estri;

Kelima belas, SULTANA SYAFIATUDDIN SYAH TAJUL ALAM, pemimpin besar Kerajaan Aceh Darussalam pada masa keemasan.

Keenam belas, LAKSAMANA MALAHAYATI, pemimpin militer Aceh Darussalam yang paling ditakuti oleh eropa.

Ketujuh belas, NYI AGENG SERANG dari Purwodadi, salah satu Panglima Perang Diponegoro yang sangat dihormati, Pahlawan Nasional RI.

Kedelapan belas, RATU AGENG TEGALREJO, singa betina dari Mataram, nenek buyut sekaligus pembimbing spiritual Pangeran Diponegoro.

Kesembilan belas, CUT NYAK DIEN, pimpinan perang rakyat Aceh melawan Belanda, Pahlawan Nasional RI.

Kedua puluh, CUT NYAK MEUTIA, pejuang gerilya, Pahlawan Nasional RI.

Kedua puluh satu, MARTHA KHRISTINA TIAHAHU dari Maluku, pejuang garis depan pertempuran melawan penjajah, Pahlawan Nasional RI.

Kedua puluh dua, RA KARTINI dari Jepara, cicit generasi ke-24 Ken Dedes, pejuang emansipasi perempuan, Pahlawan Nasional RI.

Kedua puluh tiga, DEWI SARTIKA dari Bandung, pejuang pendidikan dan emansipasi perempuan, Pahlawan Nasional RI.

Kedua puluh empat, HR RASUNA SAID dari Minangkabau, pejuang pers dan pendidikan, Pahlawan Nasional RI.

Kedua puluh lima, MARIA WALANDA MARAMIS dari Minahasa, pejuang hak perempuan, Pahlawan Nasional RI.

Kedua puluh enam, SK TRIMURTI dari Boyolali, pejuang pers dan buruh, Pahlawan Nasional RI.

Kedua puluh tujuh, MARSINAH dari Nganjuk, pejuang buruh, Pahlawan Nasional RI.

KONKLUSI

Ternyata sejarah dan peradaban besar Indonesia memang dibentuk oleh dua wanita hebat, yaitu Ratu Shima dan Ken Dedes, maka wajar kalau kemudian muncul banyak negarawan hebat Indonesia dari kaum perempuan.

*) Penulis adalah Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK)/Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU/Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments