Google search engine
HomePolitikBelajar dari Negeri Kungfu Panda: Mengapa Dunia Mewaspadai China, tetapi Sekaligus Belajar...

Belajar dari Negeri Kungfu Panda: Mengapa Dunia Mewaspadai China, tetapi Sekaligus Belajar dari Keberhasilannya ?

Oleh: Sila Basuki

Banyak orang Indonesia mengenal China melalui film kungfu, panda, tembok raksasa, atau produk-produk murah yang memenuhi pasar. Namun di balik semua itu, terdapat sebuah kisah transformasi ekonomi yang sulit diabaikan.

Dalam waktu sekitar empat dekade, China berubah dari negara yang masih bergulat dengan kemiskinan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Pertanyaannya bukan lagi apakah dunia menyukai atau tidak menyukai China, melainkan: mengapa dunia mempelajari keberhasilannya ?

Kisah itu bukan dongeng. Ia lahir dari visi jangka panjang, disiplin pembangunan, investasi besar pada pendidikan, infrastruktur, dan industri manufaktur. Hari ini, hampir setiap rumah di dunia memiliki setidaknya satu produk yang dirancang atau diproduksi di China. Dari mainan anak-anak hingga kendaraan listrik, dari peralatan rumah tangga hingga komponen telepon pintar, jejak industri China hadir di mana-mana.

Salah satu kisah yang paling menarik perhatian dunia adalah perjalanan . Lahir dari keluarga sederhana dan pernah berkali-kali mengalami penolakan dalam mencari pekerjaan, ia membangun menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia. Perjalanan hidupnya sering dijadikan simbol bahwa inovasi dan keberanian dapat mengubah nasib seseorang.

Namun, kisah itu memiliki bab lain yang tidak kalah penting. Pada 2020, setelah menyampaikan kritik terhadap sistem regulasi keuangan China, rencana pencatatan saham dibatalkan oleh pemerintah.

Jack Ma kemudian menghilang dari sorotan publik selama beberapa waktu. Peristiwa tersebut mengirimkan pesan yang kuat kepada dunia: di China, sebesar apa pun sebuah perusahaan, negara tetap ingin memastikan bahwa arah pembangunan berada dalam kendali kebijakan publik.

Terlepas dari pro dan kontra pendekatan tersebut, dunia melihat satu kenyataan yang tidak dapat disangkal. China memiliki kemampuan luar biasa dalam menyelaraskan pembangunan infrastruktur, pengembangan industri, riset teknologi, dan kebijakan perdagangan dalam satu strategi nasional yang konsisten.

Jalan tol, pelabuhan, kereta cepat, kawasan industri, serta investasi pada kecerdasan buatan, energi terbarukan, dan kendaraan listrik dibangun sebagai bagian dari visi jangka panjang.

Keunggulan China juga terletak pada efisiensi manufakturnya. Produksi dilakukan dalam skala besar, didukung rantai pasok yang terintegrasi, logistik yang cepat, dan ekosistem industri yang saling terhubung.

Hasilnya, banyak produk dapat dipasarkan dengan harga yang sulit disaingi negara lain.

Bagi konsumen, kondisi ini menghadirkan pilihan yang lebih murah. Namun bagi banyak industri di berbagai negara, termasuk Indonesia, hal tersebut menjadi tantangan serius untuk tetap kompetitif.

Lalu, apakah Indonesia harus meniru China ?

Jawabannya adalah tidak, jika yang dimaksud adalah menyalin sistem politik atau struktur pemerintahannya.

Setiap bangsa memiliki sejarah, konstitusi, dan nilai-nilai yang berbeda. Indonesia dibangun di atas fondasi demokrasi konstitusional, , serta penghormatan terhadap keberagaman.

Akan tetapi, ada banyak hal yang patut dipelajari. China mengajarkan bahwa kemajuan tidak lahir dari slogan, melainkan dari konsistensi. Pendidikan teknik diperkuat, riset didanai, industri didorong naik kelas, infrastruktur dibangun untuk menekan biaya logistik, dan negara berupaya menciptakan ekosistem yang mendukung produktivitas.

Semua itu dilakukan secara berkelanjutan selama puluhan tahun.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang tidak kalah besar. Kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, letak geografis yang strategis, dan pasar domestik yang luas merupakan keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara.

Tantangan kita bukan kekurangan potensi, melainkan bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi daya saing yang nyata.

Di sinilah gagasan BERDIKARI yang diwariskan Bung Karno kembali menemukan relevansinya. Berdiri di atas kaki sendiri bukan berarti menutup pintu bagi dunia. Sebaliknya, ia mengajarkan bahwa kerja sama internasional akan lebih menguntungkan apabila dilakukan oleh bangsa yang memiliki kemampuan produksi, penguasaan teknologi, sumber daya manusia yang unggul, dan posisi tawar yang kuat.

Karena itu, pelajaran terbesar dari Negeri Kungfu Panda bukanlah tentang kungfu, bukan pula tentang panda. Pelajaran terbesarnya adalah keberanian sebuah bangsa untuk merancang masa depannya dengan disiplin, bekerja keras selama puluhan tahun, serta menempatkan pendidikan, industri, dan inovasi sebagai fondasi kemajuan.

Indonesia tidak perlu menjadi China. Indonesia juga tidak perlu memusuhi China.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk belajar dari siapa pun, mengambil yang baik, meninggalkan yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa, lalu membangun model pembangunan yang berakar pada nilai-nilai Indonesia sendiri.

Bangsa yang besar tidak diukur dari seberapa keras ia mengkritik keberhasilan bangsa lain, melainkan dari kesungguhannya belajar dan memperbaiki diri.

Dunia telah belajar dari Negeri Kungfu Panda. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu mengikuti jejak kemajuan itu, tetapi apakah kita memiliki tekad yang sama untuk bekerja keras, berpikir jauh ke depan, dan membangun negeri ini dengan semangat kemandirian.

Sebab pada akhirnya, masa depan suatu bangsa tidak ditentukan oleh kekayaan alam yang dimilikinya, melainkan oleh kualitas manusianya, keberanian pemimpinnya mengambil keputusan, dan konsistensi seluruh rakyatnya dalam mengubah cita-cita menjadi kenyataan (za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments