Di antara adab-adab ketika berpuasa Ramadhan :
✅1. Sholat sunnah dua raka’at atau empat raka’at pada malam pertama di bulan Ramadhan, dan pada setiap raka’atnya membaca surat “Al- Fatihah” kemudian membaca surat “Al-Fath”.
►Al-Imam Al-Mas’udi berkata:
بَلَغَنِي أَنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الفَتْحِ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فِي صَلَاةِ التَّطَوُّعِ رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعِ … حُفِظَ ذَلِكَ العَام . ( ا.هـ.. كنز النجاح والسرور ، ص : ١٨٨ ) .
Artinya: “Barangsiapa yang pada malam pertama di bulan Ramadhan melaksanakan sholat sunnah dua raka’at, dan membaca surat “Al-Fath”, maka dirinya akan terjaga setahun penuh”.{ Kanzun Najah Wassurür)
✅2. Memperbanyak amal ketaatan pada bulan Ramadhan, seperti: dzikir, sholat sunnah, doa, sedekah, membaca Al-Qur’an dengan merenungi maknanya, dan berbagai macam amal ketaatan lainnya.
✅3. Menunaikan sholat sunnah Tarawih pada setiap malamnya secara rutin, dan jika terdapat udzur dalam melaksanakannya, maka sunnah untuk diqodho’ pada waktu yang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda :
(( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا … غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ)). { رواه البخاري ومسلم } .
Artinya: “Barangsiapa yang mendirikan qiyamul lail (sholat Tarawih) karena iman dan mengharap ridho Allah, maka Allah akan menghapus dosanya yang telah lalu”.{ HR. Bukhõri dan Muslim }
📌Faedah:
“Cara melafazhkan sholat sunnah Tarawih secara berjama’ah”:
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku niat sholat sunnah Tarawih, dua raka’at, sebagai makmum, menghadap kiblat, karena Allah Ta’ala”.
✅4. Tidak menggunjing seseorang, atau berbohong, atau mengadu domba, karena hukumnya adalah haram dan dapat menghapus pahala puasa.
Berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ
((كَمْ مِنْ صَائِمِ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ … إِلَّا الجُوعُ وَالعَطَشُ)) { رواه احمد }. وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : ((أَعِفُّوا الصِّيَامَ ، فَإِنَّ الصِّيَامَ لَيْسَ مِنَ الطَّعَامِ وَلَا مِنَ الشَّرَابِ ، وَلَكِنَّ الصِّيَامَ … مِنَ المَعَاصِي)). { رواه أبو داود } .
Artinya: “Berapa banyak orang yang menjalankan puasa, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya rasa lapar dan dahaga (haus)”.{ HR. Ahmad }
Dan Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Muliakanlah ibadah puasa, karena sesungguhnya puasa bukanlah hanya sekedar tidak makan dan minum, akan tetapi (hakikat dari) puasa adalah menahan diri dari maksiat”.{ HR. Abu Dawud }
✅5. Tidak berbicara buruk tatkala berpuasa, karena dapat menghapus pahala puasa.
Berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ
(( مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالعَمَلَ بِهِ … فَلَيْسَ لِلَّهِ عَلَيْهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ )) . { رواه البيهقي } .
Artinya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang buruk juga perbuatan keji, maka (ketahuilah bahwa) Allah tidak membutuhkan puasanya di saat dia meninggalkan makanannya dan minumannya”.{ HR. Baihaqi }
✅6. Berbuka dengan sesuatu yang halal, karena barangsiapa yang berbuka dengan sesuatu yang haram, maka Allah SWT tidak akan menerima puasanya.
►Al-Habib ‘Abdullah bin Husein bin Thohir berkata:
وَافْطِرْ عَلَى الحَلَالِ يَا طَالِبَ الكَمَالِ
Artinya: “Dan berbukalah dengan makanan yang halal, wahai pencari kesempurnaan”.
✅7. Tidak banyak tidur pada siang harinya.
✅8. Tidak berdebat dengan orang lain ketika sedang berpuasa, dan jika dipaksa untuk berdebat, maka ucapkanlah : “Saya sedang berpuasa”
►Lafazh tersebut diucapkan dalam hati, dan boleh juga diucapkan dengan lisan jika tidak khawatir timbul riya’ (bangga diri) dalam hatinya.
Dalil dari masalah di atas adalah berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:
((فَإِذَا صَامَ أَحَدُكُمْ فَجَهِلَ عَلَيْهِ رَجُلٌ ، أَوْ شَتَمَهُ ، فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ)). ( رواه أبو داود } .
Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, kemudian oleh orang lain diajak berbicara buruk atau dicaci-maki, maka ucapkanlah: “Sesungguhnya aku dalam keadaan berpuasa”.{ HR. Abŭ Dawud }
✅9. Tidak banyak mendengarkan musik atau menonton televisi (TV).
✅10. Istiqomah (rutin) dalam menghadiri majelis-majelis ta’lim.
►Diriwayatkan dari salafus sholeh:
“Barangsiapa yang menghadiri majelis ta’lim pada bulan Ramadhan, maka setiap langkah kakinya oleh Allah akan dihitung sebagai pahala ibadah selama setahun”.
✅11. Sering menziarahi makam kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia dan bersedekah untuk keduanya.
✅12. Memperbanyak membaca doa berikut ini :
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ) ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي).
✅13. Jika dalam keadaan janabah, maka disunnahkan untuk mandi janabah sebelum adzan fajar (Shubuh), agar dapat menunaikan ibadah puasa dalam keadaan suci, dan jika tidak mandi sebelum adzan fajar, maka menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Al-Imam Syafi’i: hukum puasanya tetap sah.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ummul mukminin Sayyidatuna ‘Aisyah ra dan Sayyidatuna Ummu Salamah ra, keduanya berkata :
((أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ كَانَ يُدْرِكُهُ الفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُوْمُ)) . ( رواه
البخاري ) .
Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah suatu waktu tatkala masuk waktu fajar, beliau dalam keadaan janabah (dari hubungan badan) dengan istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa”.{ HR. Bukhori}
►Sedangkan menurut pendapat Sahabat Sayyiduna Abu Hurairah : hukum mandi janabah sebelum fajar adalah wajib.
Berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ
مَنْ أَصْبَحَ جُنُبًا … فَلَا صَوْمَ لَهُ)) . ( رواه البخاري ومسلم } . ((
Artinya: “Barangsiapa yang (telah niat puasa, akan tetapi) pada pagi harinya (masih) dalam keadaan janabah, maka tidak sah puasanya”.{ HR. Bukhõri dan Muslim }
_📚KARYA SAYYID MUHAMMAD AMIN BIN ‘IDRUS BIN ‘ABDULLAH BIN ‘UMAR BIN SYEIKH ABU BAKAR BIN SALIM BA ‘ALAWI AL-HUSAINI


