Google search engine
HomeDewan DakwahAir Debitnya Kecil, Untuk Menaikkan Perlu Ngebor Sedalam 140 Meter

Air Debitnya Kecil, Untuk Menaikkan Perlu Ngebor Sedalam 140 Meter

Dewan Dakwah Bagi 500 Paket Sembako di Dusun Jatirajeh dan Manduro Kecamatan Kabuh, Jombang

SURABAYA-kanalsembilan.com (22 September 2026)
Ahad, 20 September 2026, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) atau Dewan Dakwah Jatim mengadakan bhakti sosial di du tempat. Yaitu balai Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, Kabupatren Jombang, dan di Dusun Jatirajah, Desa Mangunan, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang.
Walaupun masih satu kecamatan. Kedua desa ini memiliki Bahasa yang berbeda. Adat kebiasan berbeda. Desa Manduro sehari-hari menggunakan Bahasa Madura pasaran. Tidak bisa Bahasa Madura yang halus. Dan mereka hanya bahasa yang menggunakan Bahasa Madura, namun bekum pernah ke Madura. Orang Surabaya menyebutnya Madura pendalungan. Orang keturunan madura, lahir di Jawa mulai dari kakek, nenek, canggah dan seterusnya.
Salah seorang warga bertanya, sebuat saja mbok Ni, yang menanyakan pada rombongan pengurus Dewan Dakwah Jatim. Dari mana mereka berasal? Ketika dijawab dari Surabaya, apa kata mereka, “Kok jauh sekali,”.
Untuk menuju desa Manduro, harus melewati hutan jati yang kering kerontang. Sepanjangn jalan menuju lokasi tidak nampak hijau daun sama sekali. Hanya Kelihatan tanah kering yang menunggu datangnya musim hujan.
Masyarakat desa Manduro inilah yang perlu mendapat siraman rohani, perlu ada pencerahan. Sepanjang jalan yang dilewati menuju balai dewa Manduro, tidak terlihat adanya masjid atau musholla. Hanya ada bangunan masjid yang masih belum selesai didekat pintu masuk desa Manduro.
Kehadiran Dewan Dakwah yang menggelar bassos di desa Manduro disambut antusias oleh warga. Mereka berharap tidak hanya kali ini saja. Mereka juga berharap ada pengajian di desa Manruro. Kalau bisa pengajian rutin.
Lain lagi warga di dusun Jatirajah, desa Mangunan. Kampung ini meski penduduknya sedikit. Sekitar 150 Kepala Kaluarga. Ada dua masjid di kampung Jatirajeh. Meski tergolong kampung tertinggal, warga kampung Jatirajah kelihatan bersih, dan banyak yang memakai jilbab.
Di dusan Jatirajah ini, Dewan Dakwah membagikan 150 paket sembako. Lokasinya di masjid Darul Huda. Masjid ini dibangun atas bantuan dari Uni Emirat Arab (UEA). Dimasjid ini diadakan kegiatan kerohanian dan memberikan pencerahan pada warga.
Sama hal dengan di desa Manduro, kampung juga kesulitan air. Untuk membuat sumur cukup dalam, dan tidak mungkin menggunakan tenaga manusia.
“Untuk membuat sumor bor di dusun Jatirajah kedalamannya mencapai 140 meter,” kata salah seorang warga Jatirajah, sebut saja bapak Amir.
Karena musim kemarau, air debitnya kecil dan harus sabar. Untuk berwudhu saja harus bergantian. Termasuk di Masjid Darul Huda, yang dipilih menjadi lokasi bahakti social.
Untuk menuju lokasi dusun Jatirajah, harus melewati hutan jati. Jalan yang dilewati memang sudah baik. Ada juga yang masih jalan gronjalan. Masih belum di bangun jalan Semen yang enak dilewati.
Lebar jalan sekitar 2,5 meter. Untuk salipan dengan sepeda motor saja salah satunya harus berhenti dulu. Apalagi mobil tambah tidak bisa. Sedangkan kanan kiri jalan berupa jurang. Memang tidak dalam, namun tidak bisa dijadikan berhenti kalau bersalipan.
Sebagaimana kehidupan masyarakat desa yang tinggal di hutan, kebanyakan hiduonya pas-pasan. Ada juga yang yang memiliki mobil, kalua anaknya kerja di kota. Untuk yang jadi petani atau buruh tani, untuk bisa makan saja alhamdulillah.
Di dusun inilah, Dewan Dakwah mengadakan bakti social. Ada 150 Paket bingkisan dibagikan pada warga yang kurang beruntung. Warga dengan tertib merima bingkisan.
Menrutu takmir masjid Darul Huda, di dusun kecil ada ini ada dua masjid. Di Timur satu, dan di Barat satu. Penduduknya sekitar 150 Kepala Keluarga. Namun untuk Jumatan, ada sekitar 35 orang, lainnya kerja ditempat kerjanya. Sehingga di desa ini, kebanyakan penduduknya perempuan.
Untuk di Balai Desa Mangunan, ada 350 paket yang dibagikan kepada warga. Lokasi di Balai Desa Mangunan. Juga ada bhakti Sosial kesehatan dari RS dr Moedjito Dwidjosiswojo.
Begitu layanan kesehatan dibuka, warga langsung diserbu. Warga sangat ingin memeriksa kesehatannya. Ruangan yang tidak terlalu luas jadi penuh sesak dengan warga, petugas tepaksa memakai masker.
“Baksos di kampung Jatirajah dan desa Manduro sangat tepat, masyarakatnya membutuhkan sentuhan dari muhsinin,” kata ustadz Djuwari.(zainuddin).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments