Google search engine
HomeTausiyahBersyukur Setelah Makan Dan Minum

Bersyukur Setelah Makan Dan Minum

Fawaid Hadist #113 |

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَيَرْضَ عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأَكُلَ الأَ كْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah rida terhadap seorang hamba yang apabila dia makan, lalu dia memuji kepada Allah atas nikmat tersebut (mengucap tahmid), ataupun jika dia minum, dia memuji kepada-Nya atas kenikmatan tersebut.” (HR. Muslim, no. 2734)

Abu Umamah berkata bahwasanya,Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengangkat hidangannya (artinya: selesai makan), beliau berdo’a

الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ ، غَيْرَ مَكْفِىٍّ ، وَلاَ مُوَدَّعٍ وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ ، رَبَّنَا

Alhamdulillahi kastiron thoyyiban mubarokan fiih, ghoiro makfiyyin wa laa muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu robbanaa
(segala puji hanyalah milik Allah, yang Allah tidak butuh pada makanan dari makhluk-Nya, yang Allah tidak mungkin ditinggalkan, dan semua tidak lepas dari butuh pada Allah, wahai Rabb kami) (HR. Bukhari no. 5458)

Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghoiri haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Daud no. 4043, Tirmidzi no. 3458, Ibnu Majah no. 3285 dan Ahmad 3: 439)

Faedah Hadist
Hadist ini memberikan faedah – faedah berharga, di antaranya;

1. Penjelasan yang sangat penting bahwa rida Allah Ta’ala itu dapat diraih dengan amalan yang sederhana, bahkan hanya dengan ucapan yang sangat mudah ini -segala puji bagi Allah- (Alhamdulillah). Allah Ta’ala rida terhadap hamba-Nya yang hanya mengucapkan, Alhamdulillah setelah makan atau minum. Karena adab makan dan minum ada yang bersifat ucapan dan perbuatan.

2. Motivasi dan dorongan agar setiap insan itu bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas segala karunia dan nikmat yang begitu banyak, karena bersyukur itu adalah jalan keselamatan dan pengabulan bertambahnya nikmat yang lain, dan hanya Allah saja yang berhak atas rasa syukur yang sempurna itu.

3. Penetapan sifat rida bagi Allah Ta’ala sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

4. Faedah berharga tentang paripurnanya ajaran agama Islam yang mulia, dimana dalam beberapa adab makan dan minum tatkala seseorang selesai dari makan dan minumnya, maka adabnya adalah mengucapkan, – Alhamdulillah- bersyukur atas nikmat-Nya ini, karena ia masih dapat makan dan minum, sebab tidak ada seorang pun yang mampu memberinya makan dan minum kecuali Allah Ta’ala saja, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

أَفَرَءَيْتُمُ ٱلْمَآءَ ٱلَّذِى تَشْرَبُونَ

ءَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ ٱلْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ ٱلْمُنزِلُونَ

“Pernahkah kamu memperlihatkan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?” (QS. Al-Wâqi’ah: 68-69).

Sekiranya Allah Ta’ala tidak menumbuhkan tanaman ini kemudian melalui banyak proses hingga sampai ke depan mulutnya, pasti ia tidak akan bisa makan. Begitu pula air, seandainya Allah Ta’ala tidak menurunkannya dari langit, kemudian diserap bumi, lalu dipancarkan banyak mata air, pasti ia juga tidak akan bisa meminumnya, demikian Allah Ta’ala berfirman,

لَوْ نَشَآءُ جَعَلْنَٰهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ

“Sekiranya Kami menghendaki, nescaya Kami menjadikan asin, mengapa kamu tidak bersyukur?” (QS. Al-Wâqi’ah: 70).

5. Kemuliaan dan keutamaan sikap syukurnya seorang hamba atas nikmat yang diberikan, dan amalan ini menjadi sebab keridaan Allah Ta’ala padanya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Referensi Utama: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.

(gwa-majeis-ilmu-3).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments