JAKARTA-kanalsembilan.com (25 Januari 226)
Di tengah tekanan volatilitas nilai tukar rupiah, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) memastikan kesiapan likuiditas untuk pembiayaan penyelenggaraan ibadah haji 2026. Strategi penguatan cadangan valuta asing menjadi langkah utama untuk menjaga stabilitas pembiayaan di tengah dinamika global.
Total dana haji yang disiapkan mencapai Rp 18 triliun hingga Rp 20 triliun untuk pembiayaan haji 2026, dengan sekitar 80 persen dialokasikan dalam bentuk valuta asing, terutama dolar Amerika Serikat dan riyal Saudi.
Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah mengatakan, persiapan likuiditas telah dilakukan sejak akhir 2025, seiring dimulainya pembayaran layanan haji oleh Pemerintah Arab Saudi pada 9 Januari dan 20 Januari 2026.
“Dari sisi likuiditas kami sudah siap. Pembayaran haji itu basisnya tiga mata uang: rupiah, Saudi riyal, dan dolar AS,” ujarnya dalam Annual Media Outlook BPKH 2026 di Magelang, Sabtu (24/1/2026).
Dalam perencanaan keuangan tersebut, BPKH menggunakan asumsi kurs Rp 16.500 per dolar AS. Selain itu, BPKH telah mengamankan stok dolar lebih awal untuk meredam dampak pelemahan rupiah yang sempat mendekati Rp 17.000 per dolar AS.
Langkah pengamanan ini diperkuat melalui koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) yang memberikan ruang bagi BPKH untuk melakukan pembelian valuta asing secara bertahap tanpa harus menunggu dokumen underlying.
“Setiap tahun kebutuhan kami sekitar Rp 18 triliun sampai Rp 20 triliun dan hampir 80% itu mata uang asing. Tahun ini persediaan valas kami lebih siap dibanding tahun-tahun sebelumnya,” kata Fadlul.
Sementara itu, BPKH memastikan tidak terdapat kendala likuiditas dalam pengelolaan haji khusus. Tantangan yang dihadapi pada tahun ini lebih berkaitan dengan pemenuhan dokumen administrasi, seiring adanya persyaratan baru dari Kementerian Haji Arab Saudi.
Sumber: Hajinews.co.id/kontan


