SURABAYA-kanalsembilan.com (3/6/2025)
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat bahwa pada Mei 2025, provinsi ini mengalami deflasi sebesar 0,34 persen (month-to-month/mtm). Deflasi ini dipicu oleh melimpahnya produksi hortikultura, terutama cabai dan bawang, serta penurunan harga emas.
“Selain harga cabai dan bawang yang turun karena melimpahnya produksi, harga emas juga mengalami penurunan. Kombinasi ini mendorong deflasi sebesar 0,34 persen,” ujar Zulkipli, Kepala BPS Jawa Timur, dalam rilis resmi di Surabaya, Senin (2/6/2025).
Meskipun demikian, deflasi Jatim ini masih lebih ringan dibandingkan tingkat nasional yang mencapai 0,37 persen. Secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2025, Jatim mencatatkan deflasi sebesar 0,89 persen, yang menurut Zulkipli tergolong kecil.
Secara tahunan (year-on-year/YoY), Jawa Timur mencatatkan inflasi sebesar 1,22 persen. Semua kabupaten/kota di Jawa Timur mengalami deflasi, dengan Sumenep mencatat deflasi terdalam sebesar 0,79 persen, disusul Malang sebesar 0,21 persen.
Zulkipli menjelaskan, deflasi terutama terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau, terjadi deflasi YoY sebesar 0,08 persen—indeks harga turun dari 111,58 pada Mei 2024 menjadi 111,49 pada Mei 2025.
Subkelompok makanan mencatat deflasi terbesar, yakni 1,26 persen YoY. Sementara itu, subkelompok minuman non-alkohol serta rokok dan tembakau masing-masing menyumbang deflasi 0,02 persen.
Komoditas utama yang menyumbang deflasi YoY antara lain:
Daging ayam ras: 0,22 persen
Bawang merah: 0,13 persen
Tomat: 0,10 persen
Telur ayam ras: 0,08 persen
Cabai merah: 0,07 persen
Jagung manis: 0,04 persen
Ikan mujair dan daun bawang: masing-masing 0,03 persen
Bawang putih, jeruk, dan terong: masing-masing 0,02 persen
Kol putih/kubis dan pepaya: masing-masing 0,01 persen
Zulkipli menekankan pentingnya menjaga kestabilan harga komoditas agar tren deflasi tetap terkendali di bulan-bulan mendatang. (za.


