Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa kesesatan di hari Asyura terbagi menjadi dua kelompok besar:
1. Kelompok yang Menyerupai Yahudi
Mereka menjadikan hari Asyura sebagai hari pesta dan kegembiraan. Mereka menyemir rambut, memakai celak, membagi-bagikan hadiah, memasak makanan khusus, dan melakukan kebiasaan lain yang tidak bersumber dari syariat.
2. Kelompok yang Menjadikan Asyura Sebagai Hari Ratapan
Mereka menjadikan hari itu sebagai momen berkabung atas wafatnya Husain bin Ali. Mereka menangis, meratap, memukul diri, merobek pakaian, bahkan menyebarkan kisah-kisah palsu untuk membangkitkan emosi.
Perbuatan ini justru menyerupai tradisi jahiliyah dan membuka pintu fitnah serta perpecahan di tengah umat. Nabi ﷺ telah memperingatkan tentang kelompok semacam ini:
> “Mereka membunuh kaum muslimin, namun membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah menembus buruannya. Jika aku menjumpai mereka, sungguh akan aku perangi seperti kaum ‘Ad diperangi.”
(HR. Bukhari no. 4351 dan Muslim no. 1064)
✅ Sikap Ahlus Sunnah: Mengikuti Tuntunan Nabi
Kaum Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpegang teguh pada sunnah Rasulullah ﷺ. Mereka tidak menambah-nambahi amalan ibadah di bulan Muharram, kecuali apa yang telah disyariatkan — yaitu berpuasa pada hari Asyura, dan jika mampu, juga pada tanggal 9 (Tasua) untuk menyelisihi kaum Yahudi.
Tidak ada ibadah khusus lain di hari Asyura seperti:
Menghidupkan malamnya
Memakai celak atau parfum khusus
Merayakan atau meratapi peristiwa tertentu
Semua itu tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ.
📌 Kesimpulan
Bulan Muharram memang bulan yang mulia. Namun kemuliaannya tidak boleh dinodai dengan amalan yang tidak berdasar. Marilah kita beribadah sesuai tuntunan Nabi ﷺ, karena itulah jalan keselamatan dan kebenaran.
Wallahu a’lam bish-shawab.
🔗 Selengkapnya baca di Muslim.or.id
(gwa-saudara-muslim-2).


