EPISODE 8:
Oleh: Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
Sidoarjo, 18 Agustus 2025
⸻
🌿 Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh
Sahabat yang saya muliakan,
Pernahkah kita berhenti sejenak, lalu bertanya dalam hati: “Apakah sekolah masih menjadi pusat utama pendidikan anak-anak kita hari ini?”
Kalau jujur, jawabannya mulai bergeser. Sekolah memang masih ada, guru masih hadir, kurikulum masih berjalan, tapi sejatinya anak-anak kita lebih banyak belajar dari layar gawai ketimbang dari buku pelajaran.
📱 Mereka mencari rumus matematika di YouTube, memahami sejarah lewat TikTok Edu, mendengarkan kisah inspiratif dari podcast, bahkan ikut kuliah daring dari profesor di belahan dunia lain. Realitanya, sekolah bukan lagi rumah tunggal ilmu. Ia hanyalah salah satu simpul kecil dalam jejaring raksasa bernama internet.
⸻
🔎 Inilah wajah baru pendidikan kita:
Awal 2025, Indonesia mencatat 212–221 juta pengguna internet, dengan rata-rata waktu online 7–8 jam per hari. Anak-anak muda adalah pengguna paling aktif—94% remaja 13–18 tahun sudah terbiasa mengakses konten pendidikan non-formal secara daring.
Tentu ini membawa peluang besar. EdTech seperti Ruangguru, Zenius, Quipper, HarukaEdu tumbuh pesat. Belajar bisa lebih murah, lebih fleksibel, lebih luas. Bahkan anak di pelosok pun bisa mengakses materi yang sama dengan anak di kota besar. Internet membuka pintu kesetaraan akses ilmu.
Tetapi, sahabatku, di balik peluang itu juga ada gelombang ancaman yang tak kalah besar.
⸻
⚠️ Mengapa berbahaya jika tanpa pendampingan?
📊 Survei UNICEF (2023) menunjukkan 58% siswa SMA dan mahasiswa di Indonesia pernah menerima informasi salah dari internet, dan hanya 21% yang mampu membedakan sumber valid dari yang palsu.
Artinya, lebih dari separuh generasi kita sedang belajar dari sumber yang tidak jelas—dan parahnya, mereka merasa seolah-olah itu benar.
Inilah yang melahirkan fenomena mental instan. Anak lebih senang mendapat jawaban cepat ketimbang melalui proses berpikir kritis. Mereka pandai mencari, tapi tidak pandai menimbang. Mereka terampil copy-paste jawaban, tapi lemah dalam menyusun argumen.
Kalau guru masih sibuk menyalin isi buku ke papan tulis, sementara Google bisa menjawabnya dalam 0,2 detik, maka wibawa sekolah akan terus menurun. Sekolah berisiko menjadi museum pengetahuan yang sepi pengunjung.
⸻
👩🏫 Di sinilah peran guru dan orang tua diuji.
Guru tidak cukup hanya mengajar. Mereka harus menjadi kurator informasi, fasilitator diskusi, dan pendamping etika digital. Guru harus berani berubah: dari sosok “penyalur buku teks hidup” menjadi mentor digital yang menuntun murid memilah dan memaknai pengetahuan.
Sayangnya, data Kemdikbud (2024) menunjukkan baru 54% guru yang benar-benar nyaman menggunakan teknologi digital dalam mengajar. Artinya, masih ada separuh guru yang gagap teknologi.
Orang tua pun menghadapi dilema. Anak menghabiskan sebagian besar waktunya di layar, tapi banyak orang tua tidak tahu dunia digital anaknya, tidak mampu mengontrol konsumsi konten, bahkan bingung harus mulai dari mana untuk mendampingi. Akibatnya, pendidikan anak ditentukan oleh algoritma media sosial, bukan oleh nilai keluarga.
⸻
🌱 Lalu, apa strategi adaptif yang harus kita tempuh?
1️⃣ Pendidikan harus melahirkan Critical Digital Learners: murid yang tak hanya pandai membaca, tetapi mampu mengkritisi informasi. Mereka harus dibekali literasi digital, literasi media, literasi informasi, dan literasi etika online.
2️⃣ Sekolah harus bertransformasi menjadi pusat kontekstualisasi informasi. Guru tidak lagi mengajar untuk hafalan, tapi membimbing murid menimbang, berdialog, dan menghubungkan ilmu dengan realitas sosial.
3️⃣ Blended learning bukan sekadar Zoom plus tatap muka, tapi sebuah metode yang memadukan eksplorasi mandiri di dunia digital dengan penguatan nilai dan karakter di ruang kelas.
4️⃣ Kolaborasi antar sekolah, guru, orang tua, dan komunitas perlu diperkuat. Kita bisa membangun komunitas belajar digital yang saling berbagi konten, pengalaman, dan praktik terbaik.
⸻
🚪 Sahabat, kita sedang berdiri di ambang jendela peradaban baru.
Kita hanya punya dua pilihan:
📌 Menolak realita dan tertinggal.
📌 Atau menerimanya, dan bersiap memimpin arus perubahan.
Bangsa yang akan memimpin era digital bukanlah bangsa yang paling banyak memiliki gawai, tetapi bangsa yang mampu menguasai ilmu, menjaga nilai, dan memanusiakan teknologi.
👉 Jangan biarkan murid kita dibesarkan oleh mesin pencari.
👉 Mari bimbing mereka agar mampu mencari yang benar, bukan hanya mencari yang cepat.
⸻
🌿 Sahabatku,
Pendidikan adalah jalan peradaban. Jika kita berani menata ulang sistem pendidikan agar berakar pada literasi kritis, maka generasi mendatang akan tumbuh menjadi cerdas informasi, berkarakter kuat, dan berakhlak mulia. Tapi jika kita abai, mereka akan cerdas menjawab soal, namun rapuh dalam berpikir, mudah dipengaruhi, dan kehilangan jati diri.
🌟 Mari kita bergerak bersama—guru, orang tua, pemerintah, dan komunitas—agar pendidikan Indonesia tidak sekadar mengejar ketertinggalan, tetapi benar-benar menjadi pondasi kebangkitan bangsa di era digital.
⸻
📝 Baca artikel lengkap Bab I–VI di sini 👉 https://www.facebook.com/share/1CNYMoUxbj/?mibextid=wwXIfr


