š¢ CAKBOT & KALIJAGA: FILSAFAT LAKU DI TENGAH REVOLUSI TEKNOLOGI
š§ Episode 8
Oleh: Dr. Ir. Mangesti Waluyo Sedjati,MM
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
Sidoarjo, 20 Agustus 2025
AssalÄmuāalaikum warahmatullÄhi wabarakÄtuh
šæ Sahabat yang dirahmati Allah,
Hari ini kita menyaksikan perubahan besar: pendidikan tidak lagi dimonopoli sekolah. Dulu, ruang kelas adalah panggung utama ilmu, guru satu-satunya otoritas, dan buku teks sumber kebenaran. Kini, internet telah meruntuhkan monopoli itu. Anak SMP bisa mengakses filsafat Yunani lewat podcast, belajar fikih dari YouTube, hingga memahami kalkulus dari Coursera.
š Data terbaru menunjukkan:
⢠224 juta orang Indonesia telah terhubung internet (82% populasi).
⢠94% anak usia sekolah mengakses internet setiap hari.
⢠41% remaja Indonesia lebih banyak belajar dari YouTube/TikTok ketimbang dari guru.
Pertanyaannya: apakah akses informasi otomatis berarti belajar?
Cakbot, sang algoritma, berkata: āAku bisa mengurutkan konten paling relevan.ā
Tapi Kalijaga menimpali: āNanging sing paling relevan, ora mesthi sing paling bener kanggo jiwamu.ā
Inilah krisis besar kita: relevansi sering menggantikan kebenaran. Algoritma mengangkat yang paling viral, bukan yang paling benar. Akibatnya, ilmu kerap kalah oleh sensasi.
UNESCO (2024) mencatat: lebih dari 63% siswa dunia kini belajar dari platform digital, tapi hanya 28% guru yang mampu mengintegrasikan teknologi ke kurikulum. Ada jurang besar antara arus informasi dan bimbingan makna.
š Lebih jauh, internet kini bukan sekadar alat belajar, tetapi juga arena geopolitik. AS dan Tiongkok bertarung memperebutkan kuasa AI, 5G, dan data. Rusia dan Ukraina menunjukkan bagaimana informasi dijadikan senjata. Dan Indonesia? Kita menjadi pasar digital terbesar di ASEAN, tapi masih pasifāmengandalkan platform asing, menyerahkan data, bahkan membiarkan kesadaran generasi ditentukan oleh algoritma global.
š Bappenas (2025): lebih dari 70% aplikasi belajar yang dipakai siswa Indonesia berbasis server asing, dan 85% ekosistem digital pendidikan bergantung pada Google, Zoom, dan YouTube.
Siapa menguasai platform, ia menguasai kesadaran.
Namun, sahabatku, semua ini bukan alasan untuk putus asa. Justru inilah panggilan zaman: menata ulang pendidikan agar kontekstual, beradab, dan berdaulat.
š Ada lima strategi kunci:
1ļøā£ Guru harus menjadi kurator nilai, bukan sekadar pengajar.
2ļøā£ Kurikulum harus mengajarkan literasi digital & spiritualāadab berselancar, bukan hanya coding.
3ļøā£ Indonesia harus membangun platform lokal berdaulat agar tidak selamanya jadi konsumen pasif.
4ļøā£ Keluarga, sekolah, dan komunitas harus bersinergi menjaga akar budaya dan agama.
5ļøā£ Negara harus memandang pendidikan digital sebagai isu kedaulatan nasional, bukan sekadar kurikulum.
āø»
š Namun refleksi terbesar tetaplah ini: pendidikan tak lagi dimonopoli sekolah, tapi jangan sampai jiwa dimonopoli algoritma.
Kalijaga menutup dengan hikmah:
_āIlmu kuwi cahya. Nanging cahya sing ora nganggo adab, mung bakal nyilauke lan nggawe wong kesasar.ā_
(Ilmu itu cahaya. Tapi cahaya tanpa adab hanya akan menyilaukan dan menyesatkan.)
⨠Sahabatku,
Mari kita renungkan: apakah kita rela anak-anak kita dibimbing trending topic, atau kita ingin mereka dipandu cahaya ilmu yang beradab? Jangan biarkan bangsa ini sekadar jadi konsumen pasif konten global. Mari kita tumbuh sebagai produsen nilai, penjaga kebenaran, dan mercusuar peradaban.
š Untuk membaca artikel lengkap Bab IāVII:
š https://www.facebook.com/share/1B3QUhHhu6/?mibextid=wwXIfr
Semoga suluh kecil ini menyalakan kesadaran kolektif kita. Pendidikan adalah perjuangan, dan perjuangan terbesar kita hari ini adalah melawan monopoli algoritma atas jiwa generasi.
WallÄhu aālam bish-shawÄb
WassalÄmuāalaikum warahmatullÄhi wabarakÄtuh.


