Google search engine
HomeTausiyahJangan Menyakiti — Mencela dan Mengganggu Sesama Muslim (Bagian ke-3)

Jangan Menyakiti — Mencela dan Mengganggu Sesama Muslim (Bagian ke-3)

SEHARI SATU HADITS ﷺ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat iman dan Islam. Shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah ﷺ, yang membawa risalah kasih sayang dan kemuliaan akhlak kepada seluruh umat manusia.

📚 Akhlak Seorang Mukmini

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, gemar melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi no. 1978; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Albani)

Penjelasan dan Makna Hadits

Hadits ini merupakan bagian dari warisan akhlak luhur Nabi Muhammad ﷺ yang menekankan bahwa keimanan sejati tidak bisa dipisahkan dari kesantunan lisan. Dalam Islam, iman bukan hanya keyakinan di hati atau ibadah fisik, tetapi harus tercermin dalam akhlak sehari-hari—terutama dalam cara kita berbicara dan memperlakukan sesama.

Makna “ليس المؤمن بالطّعّان…”

Dalam Tuhfah al-Ahwazi, Syaikh al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa:
* الطّعّان (at-ta’aan) artinya orang yang suka mencela terus-menerus, baik kepada individu maupun kelompok, dengan gaya sinis, menjatuhkan, dan menghina.
* اللّعّان (al-la’aan) adalah orang yang mudah melaknat, mendoakan keburukan atas orang lain, bahkan kepada hal kecil yang seharusnya disikapi dengan kesabaran.
* الفاحش (al-faahisy) adalah orang yang berkata dengan ucapan yang sangat kasar, tak menjaga batasan adab, sering berkata keji meskipun saat marah atau bercanda.
* البذيء (al-badzii’) bermakna orang yang lisan dan tutur katanya jorok, vulgar, tidak bermartabat, tidak memperhatikan nilai-nilai kesopanan umum dan agama.

Hadits ini menekankan bahwa orang-orang dengan karakter seperti itu tidak mencerminkan keimanan sejati, meski secara syariat tetap tergolong Muslim. Ini adalah peringatan keras bahwa akhlak lisan adalah barometer keimanan.

Penekanan Ulama Hadits

Imam Tirmidzi menempatkan hadits ini dalam Bab: Ma Ja’a fi Husni al-Khuluq (Bab Akhlak Baik). Ini mempertegas bahwa menjaga lisan bukan perkara tambahan, tapi bagian utama dari misi kenabian.

Dalam Syarh Riyadhus Shalihin, Imam Ibn Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa lisan adalah cermin akhlak dan isi hati. Seseorang tidak akan mampu menahan ucapannya dari celaan dan makian kecuali jika hatinya telah dibersihkan dari kesombongan, kebencian, dan dendam.

Relevansi Hadits dalam Kehidupan Modern

Hadits ini sangat relevan di era komunikasi bebas, terutama dalam media sosial yang sering menjadi tempat “pelampiasan verbal” tanpa kendali. Berikut beberapa relevansi nyatanya:

1. Ujaran Kebencian dan Fitnah Digital

Banyak orang hari ini mudah mencaci, melaknat, dan menyebarkan konten yang penuh kebencian melalui komentar, status, dan meme. Mereka merasa bebas karena berada di balik layar. Padahal, ucapan digital juga bagian dari lisan, dan Allah Maha Melihat semuanya.

Hadits ini menjadi pagar etika bagi setiap Muslim di era digital:

“Jangan asal berbicara, karena lisanmu akan jadi saksi di hari kiamat.”

2. Budaya Nyinyir dan Sarkasme

Fenomena “nyinyir”, sinis, sarkasme dalam bentuk konten komedi, hiburan, atau bahkan ceramah agama, telah menjauhkan banyak umat dari kelembutan Islam. Rasulullah ﷺ tidak pernah menjadikan makian sebagai alat dakwah.

Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan, tidak pernah melaknat manusia secara langsung, dan selalu memilih kata yang paling halus—meskipun dalam menasihati orang kafir.

3. Edukasi Anak dan Keluarga

Lisan kasar orang tua kepada anak, suami kepada istri, atau sebaliknya, telah banyak merusak hubungan keluarga. Ucapan menyakitkan bisa lebih melukai daripada pukulan. Maka hadits ini bisa menjadi bekal membangun keluarga yang penuh kasih dan hormat.

4. Etika Public Speaking dan Dakwah

Bagi para pendakwah, pendidik, dan konten kreator Muslim, hadits ini adalah pengingat bahwa dakwah tidak boleh dibungkus dengan makian, meskipun untuk hal yang salah. Islam mengajarkan kebenaran disampaikan dengan hikmah dan kata-kata yang baik, bukan dengan caci maki.

Kesimpulan: Lisan Adalah Cermin Iman

Hadits ini mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang shalat dan puasa, tetapi juga tentang bagaimana kita berkata, menanggapi, dan memperlakukan orang lain. Seorang mukmin sejati adalah yang:
* Menjaga lisannya dari celaan dan laknat,
* Menjauhkan dirinya dari ucapan jorok dan kotor,
* Menyebarkan ketenangan, bukan keributan.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ lainnya:

«وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟»

“Bukankah yang membuat manusia dilemparkan ke neraka dengan wajah mereka lebih dahulu adalah hasil dari ucapan-ucapan lisannya?”
(HR. Tirmidzi No. 2616, dinilai hasan shahih)

🎯 Sukseskan Gerakan:
1. Hadir tepat waktu dan takbiratul ihram bersama imam.
2. “Rebutlah” shaf pertama dalam setiap shalat berjamaah.

وَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

📝 Disusun oleh:
Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati
Ketua KBIHU Baitul Izzah, Sidoarjo | Hp/WA: 0811 254 005

🌐 Follow us:
🔹 WhatsApp: bit.ly/3oJu311
🔹 Chanel Telegram: bit.ly/3BVMR20

Catatan akhir:
💎 “Semoga hadits ini menjadi amal jariyah ilmu. Jika menginspirasi, silakan bagikan kepada sahabat dan keluarga. Mari nyalakan nurani bangsa lewat cahaya sunnah Rasulullah ﷺ.”

(gwa-pbi).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments