Google search engine
HomeTausiyahJika Naik Panggung, Jangan Cuma Bikin Orang Bilangt: "Ada Apa Lagi"

Jika Naik Panggung, Jangan Cuma Bikin Orang Bilangt: “Ada Apa Lagi”

“Panggung itu mudah dibuat. Yang sulit: membuat orang tertarik tanpa membuat hidup mereka semakin ruwet”

Oleh: Basa Alim Tualeka (Obasa)

Ada panggung, ada mikrofon, ada lampu, ada kamera, lalu seseorang berdiri di depan orang banyak.

Sekejap perhatian publik tertuju kepadanya.

Di situlah persoalan dimulai.

Sebab naik panggung bukan sekadar berdiri lebih tinggi daripada penonton. Naik panggung berarti menerima tanggung jawab untuk mengelola perhatian publik.

Orang bisa naik panggung untuk pidato. Bisa untuk orasi. Bisa berceramah. Bisa menyanyi. Bisa membaca puisi. Bisa berdialog. Bisa mempertunjukkan seni. Bahkan bisa sekadar membuat pernyataan.

Tetapi semuanya memiliki satu pertanyaan yang sama:

«“Apa yang akan Anda tinggalkan setelah turun dari panggung?”»

Apakah pengetahuan?

Apakah inspirasi?

Apakah hiburan?

Apakah solusi?

Atau justru masalah baru?

1. PANGGUNGNYA MUDAH, “WOW”-NYA YANG SULIT

Membuat panggung sekarang bukan pekerjaan sulit.

Sound system tersedia. Kamera tersedia. Media sosial tersedia. YouTube, TikTok, Instagram, Facebook, podcast, dan berbagai platform digital dapat membuat seseorang berbicara kepada ribuan bahkan jutaan orang.

Yang sulit adalah membuat orang mau mendengar.

Lebih sulit lagi membuat orang berpikir.

Dan yang paling sulit adalah membuat orang berpikir tanpa merasa sedang digurui.

Dalam teori komunikasi, perhatian merupakan sumber daya yang terbatas. Herbert A. Simon, peraih Nobel Ekonomi, pernah menjelaskan bahwa kelimpahan informasi menciptakan kelangkaan perhatian.

Maknanya sederhana:

Semakin banyak informasi beredar, semakin mahal perhatian manusia.

Karena itu, orang yang mendapatkan panggung harus mampu menyampaikan sesuatu yang relevan.

Bukan sekadar keras.

Bukan sekadar kontroversial.

Bukan sekadar viral.

Tetapi bermakna.

2. DARI “WAUUU…” SAMPAI “MUMET!”

Panggung yang menarik biasanya mempunyai dramaturgi.

Awalnya orang penasaran.

Lalu muncul perhatian:

“Wah, menarik!”

Kemudian muncul kejutan:

“Wauuu…”

Lalu penonton bertanya:

«“Ada apa lagi?”»

Ini sebenarnya bagian dari seni komunikasi.

Tetapi masalah muncul apabila setiap kejutan melahirkan kejutan baru, setiap isu melahirkan isu baru, dan setiap pernyataan melahirkan kontroversi baru.

Akhirnya penonton tidak lagi berkata:

“Menarik!”

Tetapi:

“Mumet!”

Kemudian:

“Ruwet!”

Dan akhirnya:

«“Hidup sudah penuh masalah, mengapa dibuat semakin bermasalah?”»

Di sinilah kita perlu membedakan komunikasi publik dengan produksi kegaduhan publik.

Tidak semua yang viral itu penting.

Tidak semua yang menarik itu bermanfaat.

Dan tidak semua yang membuat orang menoleh layak dijadikan konsumsi publik.

3. ARISTOTELES SUDAH MENGINGATKAN: LOGOS, ETHOS, PATHOS

Lebih dari dua ribu tahun lalu, Aristoteles membahas seni persuasi melalui tiga unsur penting:

ethos, pathos, dan logos.

Ethos adalah kredibilitas pembicara.

Pathos adalah kemampuan menyentuh emosi audiens.

Logos adalah argumentasi yang masuk akal.

Ketiganya penting.

Pembicara tanpa ethos sulit dipercaya.

Pembicara tanpa pathos sulit menarik perhatian.

Tetapi pembicara tanpa logos berbahaya karena bisa membuat orang terbawa emosi tanpa memahami persoalan.

Maka panggung yang ideal bukan:

emosi saja.

Bukan pula:

data saja.

Tetapi:

«kredibel, menyentuh, dan masuk akal.»

Inilah yang membedakan orasi dengan sekadar teriakan, dan membedakan komunikasi dengan kegaduhan.

4. ISU BOLEH DILEMPAR, TETAPI JANGAN SEMBARANGAN

Dalam kehidupan masyarakat, isu memang diperlukan.

Isu dapat membuka persoalan yang selama ini tersembunyi.

Isu dapat mendorong pemerintah memperbaiki kebijakan.

Isu dapat membuat masyarakat kritis.

Tetapi isu harus mempunyai tanggung jawab epistemik—tanggung jawab terhadap kebenaran informasi yang disampaikan.

Di era media sosial, satu kalimat bisa menyebar lebih cepat daripada proses verifikasi.

Akibatnya, dugaan bisa berubah menjadi seolah-olah fakta.

Potongan video bisa dianggap sebagai keseluruhan peristiwa.

Komentar bisa dianggap sebagai bukti.

Dan tuduhan bisa berkembang menjadi “kebenaran” hanya karena diulang berkali-kali.

Di sinilah prinsip sederhana harus dikembalikan:

«Dugaan tetap dugaan sampai ada bukti.»

«Pendapat tetap pendapat sampai ada dasar yang dapat diuji.»

«Tuduhan tidak otomatis menjadi fakta hanya karena viral.»

5. CONTOH: “AYAH–ANAK–IJAZAH” LALU MENJADI “TURUNAN IJAZAH PALSU?”

Inilah contoh bagaimana sebuah isu dapat berkembang menjadi semakin ruwet.

Misalnya ada perdebatan mengenai keabsahan sebuah ijazah.

Pertanyaan awal sebenarnya sederhana:

Apakah dokumen itu asli atau tidak?

Maka jalan keluarnya juga relatif jelas:

periksa dokumen, periksa institusi penerbit, periksa arsip, periksa prosedur akademik, gunakan pemeriksaan ahli apabila diperlukan, kemudian sampaikan hasilnya secara transparan sesuai kewenangan.

Tetapi apabila persoalan kemudian melebar:

ayah → anak → keluarga → kerabat → turunan → siapa saja ikut terseret,

publik akhirnya bertanya:

«“Ini sedang mencari kebenaran atau sedang membuat sinetron baru?”»

Tentu, setiap dugaan yang memiliki dasar dan relevansi boleh diperiksa.

Tetapi prinsip keadilan dan akal sehat menuntut agar setiap orang dinilai berdasarkan fakta mengenai dirinya sendiri, bukan semata-mata karena hubungan keluarga.

Jangan sampai logika publik berubah menjadi:

“Kalau ayah dipersoalkan, anak harus ikut dipersoalkan.”

Itu bukan pembuktian.

Itu adalah perluasan masalah.

6. FILOSOFI: HIDUP SUDAH BERAT, JANGAN MENAMBAH BEBAN

Filosofi sederhana dalam kehidupan masyarakat sebenarnya sangat indah:

«Jangan menjadi bagian dari masalah apabila kita bisa menjadi bagian dari solusi.»

Konsep ini sejalan dengan pemikiran filsuf pragmatis John Dewey yang menempatkan pemecahan masalah dan pengalaman nyata sebagai bagian penting dari kehidupan demokratis.

Dalam kehidupan bersama, pengetahuan tidak berhenti pada kemampuan menemukan masalah.

Pengetahuan harus bergerak menuju pemecahan masalah.

Maka orang yang memiliki ilmu, jabatan, popularitas, atau panggung yang besar seharusnya mempunyai tanggung jawab sosial yang juga besar.

Semakin banyak orang mendengarkan kita, semakin besar kewajiban kita untuk berhati-hati.

Sebab satu kalimat dari orang biasa mungkin hanya didengar lima orang.

Tetapi satu kalimat dari tokoh publik bisa didengar jutaan orang.

Panggung memperbesar suara. Karena itu, panggung juga memperbesar akibat.

7. KOMUNIKASI PUBLIK BUKAN LOMBA SIAPA PALING HEBOH

Di zaman algoritma, sesuatu yang mengejutkan sering lebih cepat mendapat perhatian.

Tetapi masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar kejutan.

Masyarakat membutuhkan kejelasan.

Kalau setiap hari publik disuguhi konflik baru, tuduhan baru, sensasi baru, dan perdebatan baru, lama-kelamaan masyarakat mengalami kelelahan informasi.

Istilah yang sering digunakan dalam kajian komunikasi adalah information overload—ketika jumlah informasi yang diterima melebihi kemampuan seseorang untuk memprosesnya secara efektif.

Maka komunikasi yang baik justru mempunyai kemampuan menyederhanakan.

Yang rumit dibuat jelas.

Yang panjang dibuat ringkas.

Yang panas dibuat rasional.

Yang kabur dibuat terang.

Dan yang salah dikoreksi berdasarkan bukti.

8. PANGGUNG YANG INDAH HARUS MEMPUNYAI “NAPAS”

Sebuah pertunjukan yang bagus tidak membuat penonton terus-menerus berteriak.

Ia memberikan ruang untuk tertawa.

Ruang untuk berpikir.

Ruang untuk diam.

Ruang untuk merenung.

Begitu pula pidato dan orasi.

Pidato yang baik bukan hanya membuat orang bertepuk tangan.

Kadang-kadang pidato terbaik justru membuat ruangan menjadi sunyi karena semua orang sedang berpikir.

Itulah kekuatan gagasan.

Bukan volume suara yang membuat pesan kuat.

Bukan panjang pidato yang membuat orang percaya.

Bukan banyaknya kata yang membuat sebuah gagasan bernilai.

Tetapi ketepatan pesan dan kualitas argumentasi.

9. SEBELUM NAIK PANGGUNG, TANYAKAN EMPAT HAL

Sebelum berbicara kepada publik, setidaknya ada empat pertanyaan yang perlu diajukan:

Pertama: APA FAKTANYA?

Jangan memulai dengan asumsi.

Kedua: APA MASALAHNYA?

Bedakan masalah utama dengan masalah sampingan.

Ketiga: APA DAMPAKNYA?

Apakah isu tersebut benar-benar penting bagi masyarakat?

Keempat: APA SOLUSINYA?

Kalau tidak ada solusi, setidaknya berikan jalan menuju penyelesaian.

Dengan empat pertanyaan itu, panggung berubah.

Dari panggung sensasi menjadi panggung edukasi.

Dari panggung konflik menjadi panggung dialog.

Dari panggung kegaduhan menjadi panggung peradaban.

10. “ADA APA LAGI?” HARUS BERUBAH MENJADI “APA YANG BISA KITA PERBAIKI?”

Inilah inti persoalannya.

Masyarakat tidak anti terhadap isu.

Masyarakat juga tidak anti terhadap kritik.

Justru demokrasi membutuhkan kritik.

Tetapi kritik yang baik mempunyai tujuan memperbaiki keadaan.

Maka setelah seseorang naik panggung, jangan biarkan pertanyaan terakhir penonton hanya:

«“Ada apa lagi?”»

Lebih baik mereka pulang dengan pertanyaan:

«“Apa yang bisa kita perbaiki?”»

Itulah pergeseran dari sensasi menuju substansi.

Dari viral menuju bernilai.

Dari menyerang menuju menguji.

Dari menuduh menuju membuktikan.

Dari memperpanjang masalah menuju menyelesaikan masalah.

11. PANGGUNG ADALAH AMANAH PERHATIAN

Pada akhirnya, panggung bukan sekadar tempat untuk terlihat.

Panggung adalah amanah perhatian.

Ketika masyarakat memberikan waktunya kepada seseorang, sesungguhnya mereka memberikan sesuatu yang tidak dapat dikembalikan: waktu hidup mereka.

Karena itu, jangan sia-siakan perhatian publik.

Kalau kita bisa membuat mereka tertawa, buatlah tertawa dengan cerdas.

Kalau kita bisa membuat mereka berpikir, buatlah berpikir dengan sehat.

Kalau kita bisa membuat mereka terharu, sentuhlah hati dengan kebenaran.

Kalau kita mengangkat masalah, tunjukkan pula jalan keluarnya.

Dan kalau kita tidak memiliki sesuatu yang bermanfaat untuk disampaikan, mungkin sesekali diam juga merupakan bentuk kebijaksanaan.

PENUTUP: JANGAN BUAT HIDUP YANG SUDAH RUWET MENJADI MAKIN RUWET

Hidup manusia sudah mempunyai cukup banyak persoalan.

Ada persoalan ekonomi.

Ada persoalan keluarga.

Ada persoalan pendidikan.

Ada persoalan pekerjaan.

Ada persoalan sosial.

Ada persoalan politik.

Ada persoalan masa depan.

Karena itu, orang yang diberi panggung sebaiknya tidak berlomba menjadi produsen keruwetan.

Jadilah produsen kejelasan.

Jadilah penyampai kebenaran yang dapat diuji.

Jadilah pembawa gagasan.

Jadilah pencari solusi.

Sebab ketika lampu panggung menyala, mikrofon berada di tangan, kamera mengarah ke wajah kita, dan ribuan mata menunggu, jangan hanya berpikir:

«“Bagaimana saya membuat mereka berkata WOW?”»

Tetapi tanyakan:

«“Apa yang membuat mereka pulang dengan pikiran yang lebih terang?”»

Karena panggung yang hebat bukan panggung yang membuat orang terus berkata:

“Wauuu… ada apa lagi?”

Panggung yang hebat adalah panggung yang pada akhirnya membuat orang berkata:

«“Saya mengerti.”»

«“Saya mendapatkan sesuatu.”»

«“Saya tahu apa yang harus dilakukan.”»

Dan yang paling penting:

«“Ternyata hidup tidak harus dibuat semakin ruwet.”»

Mumet boleh.
Ruwet jangan dipelihara.
Masalah boleh dibahas.
Tetapi solusi harus dicari.

Itulah panggung yang mempunyai makna.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments