Fawaid Hadist Bimbingan Islam
๐ Hadist #78
๐ค Ustadz Fadly Gugul S.Ag
https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-78-mukmin-yang-kuat-lebih-baik-dan-lebih-dicintai-oleh-allah-taala/
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu โanhu, Rasulullah Shallallahu โalaihi wa sallam bersabda,
ยซ ุงูููู ูุคูู ููู ุงูููููููููู ุฎูููุฑู ููุฃูุญูุจูู ุฅูููู ุงูููู ู ููู ุงููู ูุคูู ููู ุงูุถููุนููููู ููููู ููููู ุฎูููุฑู. ุงูุญูุฑูุตู ุนูููู ู ูุง ููููููุนูููุ ููุงุณูุชูุนููู ุจูุงูููู ููููุง ุชูุนูุฌูุฒู. ููุฅููู ุฃูุตูุงุจููู ุดูููุกู ููููุง ุชููููู: ูููู ุฃููููู ููุนูููุชู ููุงูู ููุฐูุง ููููุฐูุงุ ูููููููู ูููู: ููุฏููุฑู ุงููููุ ูููู ูุง ุดูุงุกู ููุนูููุ ููุฅูููู ูููู ุชูููุชูุญู ุนูู ููู ุงูุดููููุทูุงูู ยป . ุฑูููุงูู ู ูุณูููู ู.
โMukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: โSeandainya aku lakukan demikian dan demikian.โ Akan tetapi hendaklah kau katakan: โIni sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.โ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu setan.โ (HR. Muslim, no. 2664)
Faedah Hadist
1. Ketetapan sifat mahabbah (cinta) bagi Allรขh Azza wa Jalla sesuai dengan keagungan dan kemulian-Nya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu โalaihi wa sallam, yang artinya, โ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allรขh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemahโ
2. Allรขh Subhanahu wa Taโala Maha Mencintai, dan kecintaan Allรขh Azza wa Jalla kepada orang-orang Mukmin berbeda-beda. Dia lebih mencintai sebagian kaum Muslimin daripada kaum Muslimin lainnya.
3. Maksud mukmin yang kuat di sini adalah mukmin yang kuat imannya. Bukan yang dimaksudkan dengan kuat di sini adalah mukmin yang kuat badannya. Karena kuatnya badan biasanya akan menimbulkan bahaya jika kekuatan tersebut digunakan dalam hal maksiat. Namun pada asalnya, kuat badan tidak mesti terpuji dan juga tidak mesti tercela. Jika kekuatan tersebut digunakan untuk hal yang bermanfaat untuk urusan dunia dan akhirat, maka pada saat ini terpuji. Namun jika sebaliknya, digunakan dalam perbuatan maksiat kepada Allah Taโala, maka pada saat inilah tercela.
4. Ada perbedaan antara manusia dalam hal keimanan, ada yang kuat dan ada yang lemah.
5. Iman itu mencakup perkataan dan perbuatan. Iman bisa bertambah dengan sebab ketaatan dan bisa berkurang dengan sebab perbuatan maksiat.
6. Dorongan agar seorang muslim itu berjuang melawan hawa nafsunya agar bisa meraih derajat Mukmin yang kuat imannya.
7. Kuat dan lemahnya iman seseorang sesuai dengan usaha dan perjuangannya melawan hawa nafsunya dan menjaga ketaatannya kepada Allรขh Azza wa Jalla.
8. Allรขh Taโala mencintai kaum Muslimin yang bersemangat dalam hal-hal yang bermanfaat baginya.
9. Kebahagiaan seseorang sangat tergantung pada kesungguhan-sungguhannya dalam hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupannya di dunia dan akhirat.
10. Islam datang untuk mewujudkan dan menyempurnakan kebaikan-kebaikan.
11. Peringatan agar setiap muslim tidak menghabiskan waktu dan tenaganya pada sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.
12. Hendaknya manusia bersabar atas apa yang telah ditakdirkan Allรขh Azza wa Jalla untuknya. Karena penyesalan atas apa yang telah berlalu tidak akan bisa mengembalikan apa yang telah berlalu itu.
13. Penyesalan atas apa yang telah berlalu bisa membuka godaan setan.
14. Hendaknya kaum Muslimin ketika ditimpa musibah, mengucapkan,
ูููุฏูุฑู ุงูููู ููู ูุง ุดูุงุกู ููุนููู
Ini telah Allรขh takdirkan, dan apa saja yang Dia kehendaki pasti dikerjakan
15. Beriman kepada takdir Allรขh Azza wa Jalla, yang baik maupun yang buruk. Dan apa yang Allรขh Azza wa Jalla kehendaki pasti terjadi, tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya.
Wallahu Taโala Aโlam
Referensi: Bahjatu Qulรปbil Abrรขr wa Qurratu โUyรปnil Akhbรขr fi Syarhi Jawรขmiโil Akhbรขr, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Saโdi, Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin โIed Al Hilaliy.
(gwa-majelis-ilmu-3).


